Lapangan Glodok & Gong Xi Fa Cai

Kawasan Pintu Kecil (dulu bernama Pintoe Ketjil) tidak jauh dari kawasan 
Pecinan Glodok semasa Batavia

Kehadiran etnis Tionghoa di Kota Batavia tidak hanya membuat roda perekonomian 
di kota ini menjadi berputar tetapi juga ikut memberi warna tersendiri bagi 
sebuah kota yang dibangun Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen.

Jan Pieterszoon Coen adalah Gubernur Jenderal wilayah kongsi Vereenigde 
Oostindische Compagnie (VOC) yang keempat dan keenam. Pada masa jabatan pertama 
ia memerintah pada 1619–1623 dan untuk masa jabatan yang kedua berlangsung pada 
1627–1629.

Salah satu warna tersendiri yang hingga kini terus melekat adalah tradisi 
perayaan yang dilaksanakan oleh penduduk Kota Batavia keturunan Tionghoa.

Suasana Imlek

Setiap ada perayaan, sudut-sudut Kota Batavia menjadi lebih semarak. Keramaian 
tersebut semakin terasa di sebuah lapangan yang dinamakan Glodok Plein alias 
lapangan Glodok.

Lampu menyala terang-benderang. Warna-warna terpancar di setiap sudut. Lapangan 
yang berlokasi di kawasan Pecinan Glodok tersebut menjadi lebih meriah.

Untuk merayakan Tahun Baru Imlek (Sin Cia), penduduk di kawasan Pecinan 
melakukan pelbagai persiapan. Banyak pula penduduk Kota Batavia yang 
non-Tionghoa yang ikut berbaur untuk melakukan persiapan perayaan tersebut. 
Mereka berbaur merayakan tradisi turun-temurun etnis Tionghoa tersebut.

Salah satunya adalah Mat Pitak, seorang pegawai partikelir di bilangan Gang Lo 
Soe Fan di daerah Patekoan (kini masuk wilayah Jakarta Kota). Mat Pitak yang 
Betawi asli tersebut selalu membantu mempersiapkan penyambutan Tahun Baru Imlek 
(Sin Cia). Ia mengucapkan selamat dengan datangnya musim semi (cun) dan biarlah 
murah rezeki dan panjang umur.

Etnis Tionghoa sangat menantikan Tahun Baru Imlek (Sin Cia) dengan harapan bisa 
mendapat rezeki yang banyak dan berumur panjang.

Warna-warni Kue Apam

Setiap Tahun Baru Imlek tiba, tidak akan afdol tanpa kehadiran pelbagai makanan 
yang bisa dibilang sebagai sajian wajib yang tidak boleh ditinggalkan. Salah 
satunya adalah kue keranjang yang diartikan sebagai kecukupan dan kekal dalam 
keluarga.

Kue keranjang

Selain itu, juga harus ada teh-liauw atau manisan yang menjadi simbol 
penghidupan yang manis dan lancar. Semuanya itu kemudian dilengkapi dengan 
kehadiran kue apam yang bagi tradisi Tionghoa diperlambangkan sebagai 
pengharapan. Artinya, segala apa yang mulanya kecil, lama-kelamaan menjadi 
besar dan berbunga-bunga kemerah-merahan seperti bagian permukaan kue apam 
tersebut.

Sumber: 
www.sinarharapan.co/metropolitan/read/32292/glodok_plein__kue_apam_dan__gong_xi_fa_cai_

September 22, 2021 at 01:10AM

https://www.tionghoa.org/244

Manage

Unsubscribe from these notifications or sign in to manage your Email service.




IFTTT

        Manage on IFTTT:
        https://ifttt.com/myrecipes/personal/123910301

Reply via email to