MENATAP BULAN

Salam Kebajikan, 

惟德動天,

Kemarin tanggal 15-08-2572 Kongzili umat Konghucu melaksanakan sembahyang chang 
pada saat zhongqiu. Sajian khas persembahyangan zhongqiu adalah kue bulan atau 
mooncake. Saat kecil saya mengenal sebagai tiong ciu pia. Di pasar-pasar dan 
tempat penjualan kue kita dapat melihat berbagai variasi bentuk, rasa dan merk 
tiong ciu pia.

Telah banyak tulisan mengenai sembahyang zhongqiu dan mooncake festival dengan 
berbagai legenda, mitologi, sejarah dan religiusitas di dalamnya tergantung 
keyakinan dan literatur penulis. Ada yang bersumber cerita rakyat dari mulut ke 
mulut, ada pula yang bersumber dari Kitab Suci. 

Tak mudah menelusuri suatu peristiwa yang telah berlangsung ribuan tahun dan 
telah melalui berbagai peristiwa dan akulturasi budaya. Perjalanan peristiwa 
ini menyisakan berbagai tafsir para pendongeng dan penulis yang didengar dan 
dibaca dari generasi ke generasi melintasi batas waktu dan tempat dengan 
berbagai akulturasi budaya dan saling pengaruh berbagai agama. Jadilah kita 
memandang zhongqiu dari kacamata kita sekarang. Bisa jadi pandangan kita 
berbeda dengan kawan kita. Bisa jadi pandangan saya berbeda dengan Anda sebagai 
sesama orang Indonesia apalagi dengan kawan kita di mancanegara.

Pemaknaan yang berbeda atas suatu peristiwa sadar tidak sadar mempengaruhi 
sikap dan tindakan kita berkaitan dengan peristiwa tersebut. Perlu kedewasaan 
dan saling menghormati dalam menyikapi ini.

Beberapa waktu yang lalu kita membaca berita tentang suatu peristiwa religi di 
tepi pantai yang dibubarkan oleh suatu kelompok tertentu dengan alasan 
keyakinan. Peristiwa ini membuat dahi kita mengernyit karena menunjukkan 
ketidakdewasaan, intoleransi, dan sikap mau menang sendiri. 

Apakah cuma kelompok penyerang yang punya keyakinan dan iman? Bukankah 
sebetulnya persembahan dalam festival tersebut menunjukkan ada keyakinan yang 
berbeda dari suatu kelompok masyarakat yang semestinya dihormati?

Dalam peristiwa ini lagi-lagi menunjukkan pentingnya golden rule tepasalira 
'jangan lakukan apa yang tidak ingin orang lain lakukan pada kita'. Tanpa sikap 
eling pada hukum emas tersebut akan menyebabkan perdamaian dan kebebasan hanya 
utopia. Hal tersebut ditunjukkan dalam sikap mau menang sendiri dan sok kuasa 
yang dimanifestasikan dalam tindakan kekerasan dan represi. Kalau hal ini 
dibiarkan terus tanpa perlindungan dan penegakan hukum bukan tidak mungkin akan 
menyebabkan persoalan yang semakin besar di Indonesia yang kaya dengan budaya 
dan keyakinan beraneka, Bhinneka Tunggal Ika berdasar Pancasila.

Yuk kita mulai dari diri kita terlebih dahulu untuk bertepasalira dan 
bertenggang rasa.

Saat zhongqiu bulan nampak bulat bersinar terang. Saat seperti ini adalah saat 
yang tepat bagi kita untuk tepekur menelusuri kedalaman diri setelah 
bersembahyang pada Qian dan Kun serta leluhur. Pada peristiwa ini kita dapat 
menemukan rasa syukur dan terima kasih atas berkah Tian melalui bumi yang 
memberikan kita kehidupan.

Kehidupan nampak indah beraneka saat kita mampu menggali dan mengucapkan rasa 
syukur dan terima kasih kita diiringi asap dupa.

Menikmati kue bulan dengan secangkir teh dapat terasa magis, kita rasakan satu 
untaian peristiwa akan memberi makna dan memperkaya kehidupan karena ada 
religiusitas disana. 

Setidaknya bagi saya.

Tak apa juga bila Anda menikmati kue bulan sambil menatap dewi bulan dan 
membayangkan sang dewi bulan nan cantik datang mendekat menyapa Anda, tak lagi 
terhalangi corona. Anda bebas melakukannya. Pastikan Anda cukup tersenyum 
simpul jangan tertawa terbahak-bahak.

Kue bulan rasa apa yang Anda suka? (US) 22092021

September 23, 2021 at 04:42AM

https://www.uungsendana.com/2021/09/menatap-bulan.html

Manage

Unsubscribe from these notifications or sign in to manage your Email service.




IFTTT

        Manage on IFTTT:
        https://ifttt.com/myrecipes/personal/123910301

Reply via email to