Aku kasih alternatif jawaban sebagai berikut : 1. Kang mantus (equiped with Kolor CD) dinaikkan mobil disuruh menyusuri jalan tol tsb . Masuk dari gempol keluar ke perak entar kang mantus ngeliat berapa delta x dari odo/spedo meter dan dikonversikan dalam km. 2. Kang mantus mencopot cdnya dan tanya sama mbak penjaga pintu tol gempol " Berapa jarak tol gempol - perak, entar kamu tak kasih cd yang nggak pernah dicuci selama setahun " 3. kang mantus jalan dijalan tol sama bawa kolor dan mulai mengukur dengan kolornya entar dikonversikan dengan km. 4. Jalan tol surabaya dilengkapi dengan petunjuk setiap 500 m, kang mantus bawa semua cdnya dari rumah dan setiap tanda perubahan km, sign itu ditutupi oleh cd . entar tinggal hitung berapa banyak cd yang dipakai = jumlah total km jalan tol . 5. Yang terakhir...........hanya kang mantus yang tahu ???????. > -----Original Message----- > From: Decky Tetradiono [SMTP:[EMAIL PROTECTED]] > Sent: Wednesday, August 15, 2001 8:00 AM > To: '[EMAIL PROTECTED]' > Subject: RE: Fwd : Think about it.. > > Kayaknya pengalaman pak Bohr ini hampir sama dengan pengalaman ku tetapi > bedanya kemaren aku disuruh ngukur panjang jalan tol sby gempol dengan > mengunakan kolor cdnya pak nyoman tusta > > > > -----Original Message----- > > From: Mantus [SMTP:[EMAIL PROTECTED]] > > Sent: Tuesday, August 14, 2001 3:35 PM > > To: [EMAIL PROTECTED] > > Subject: Fwd : Think about it.. > > > > MENGUKUR KETINGGIAN DENGAN MENGGUNAKAN BAROMETER > > > > Barometer adalah alat untuk mengukur tekanan udara, bagaimana caranya > > untuk > > mengukur ketinggian? Cerita berikut tentang salah satu pertanyaan dalam > > ujian > > Fisika di Universitas Copenhagen: "Jelaskan bagaimana menetapkan > > tinggi suatu bangunan pencakar langit dengan menggunakan sebuah > > barometer." > > > > Salah seorang mahasiswa menjawab: "Ikatlah leher barometer itu dengan > > seutas > > tali panjang, lalu turunkan barometer dari pucuk gedung pencakar langit > > sampai menyentuh tanah. Panjang tali ditambah panjang barometer akan > sama > > dengan tinggi pencakar langit." > > > > Jawaban yang luar biasa "orisinil" ini membuat pemeriksa ujian begitu > > geram. > > Akibatnya si mahasiswa langsung tidak diluluskan. Si mahasiswa naik > > banding. > > Menurutnya, kebenaran atas jawaban itu tidak bisa disangkal. Kemudian > > universitas menunjuk seorang arbiter yang independen untuk memutuskan > > kasus > > itu. Arbiter menyatakan bahwa jawaban itu memang benar, hanya saja tidak > > > memperlihatkan secuil pun pengetahuan mengenai ilmu fisika. Untuk > > mengatasi > > permasalahan itu, disepakati untuk memanggil si mahasiswa, dan > memberinya > > waktu enam menit untuk memberikan jawaban verbal yang menunjukkan paling > > > sedikit latar belakang pengetahuannya mengenai prinsip-prinsip dasar > ilmu > > > > fisika. > > > > Selama lima menit, si mahasiswa duduk tepekur, dahinya berkerut. Arbiter > > > mengingatkan bahwa waktu sudah hampir habis. Mahasiswa itu menjawab > bahwa > > ia > > sudah memiliki berbagai jawaban yang sangat relevan, tetapi tidak bisa > > memutuskan yang mana yang akan dipakai. > > > > Saat diingatkan arbiter untuk bersegera memberikan jawaban, si mahasiswa > > > menjelaskan sebagai berikut: > > > > "Pertama-tama, ambillah barometer dan bawalah sampai ke atap pencakar > > langit. Lemparkan ke tanah, lalu ukurlah waktu yang dibutuhkan untuk > > mencapai tanah. Ketinggian bangunan bisa dihitung dari rumus H = 0.5g x > t > > kwadrat. Tetapi khan sayang barometernya jadi pecah." > > > > "Atau, bila matahari sedang bersinar, anda bisa mengukur tinggi > barometer, > > > > tegakkan di atas tanah, dan ukurlah panjang bayangannya. Setelah itu, > > ukurlah > > panjang bayangan pencakar langit, sehingga hanya perlu perhitungan > > aritmatika > > proporsional secara sederhana untuk menetapkan ketinggian pencakar > > langitnya." > > > > "Tapi kalau anda betul-betul ingin jawaban ilmiah, anda bisa mengikat > > seutas > > tali pendek pada barometer dan menggoyangkannya seperti pendulum. > > Mula-mula lakukan itu di permukaan tanah lalu di atas pencakar langit. > > Ketinggian pencakar langit bisa dihitung atas dasar perbedaan kekuatan > > gravitasi T = 2 pi akar dari (l/g)." > > > > "Atau kalau pencakar langitnya memiliki tangga darurat di bagian luar, > > akan mudah sekali untuk menaiki tangga, lalu menggunakan panjangnya > > barometer > > sebagai satuan ukuran pada dinding bangunan, sehingga tinggi pencakar > > langit > > = penjumlahan seluruh satuan barometernya pada dinding pencakar langit." > > > > "Bila anda hanya ingin membosankan dan bersikap ortodoks, tentunya anda > > akan menggunakan barometer untuk mengukur tekanan udara pada atap > pencakar > > langit dan di permukaan tanah, lalu mengkonversikan perbedaannya dari > > milibar > > ke satuan panjang untuk memperoleh ketinggian bangunan." > > > > "Tetapi karena kita senantiasa ditekankan agar menggunakan kebebasan > > berpikir dan menerapkan metoda-metoda ilmiah, tentunya cara paling tepat > > adalah mengetuk pintu pengelola gedung dan mengatakan: 'Bila anda > > menginginkan barometer baru yang cantik, saya akan memberikannya pada > anda > > > > jika anda memberitahukan ketinggian pencakar langit ini." > > > > Siapakah mahasiswa tersebut? > > Mahasiswa tersebut adalah Niels Bohr, satu-satunya warga Denmark yang > > memenangkan hadiah Nobel untuk Fisika. How sometimes we just judge > > somebody by what she/he say, not by the real thought inside of her/him. > > > > Smiley...! Seringkali kita menilai seseorang dari apa yang dikatakannya, > > bukan dari apa yang sesungguhnya ia pikirkan.
