KESEIMBANGAN ADALAH KEBAHAGIAAN
KUNCI keberhasilan dan kebahagiaan dalam berpasangan adalah terjadinya
keseimbangan. Jika berpasang-pasangan itu dilakukan dengan cara menabrak
keseimbangan maka hasilnya pun adalah masalah.
Jadi, tidaklah cukup kita hanya menciptakan mekanisme berpasang-pasangan.
Karena banyak sekali proses berpasangan itu yang dilakukan dengan mengabaikan
persyaratan mendasarnya yaitu keseimbangan.
Secara alamiah, sebenarnya alam ini sudah diciptakan Allah dalam keseimbangan
sempurna. Karena itu, jika kita mengikuti mekanisme alamiah saja, sebenarnya
kita pasti akan berada dalam keseimbangan sempurna. Ketidak-seimbangan itu
justru muncul karena campur tangan manusia yang serakah. Mementingkan diri
sendiri.
Berpasang-pasangan dalam keseimbangan, itulah kunci keberhasilan dan
kebahagiaan. Di sana akan muncul mekanisme saling memberi dan saling menerima.
Tidak ada yang ingin menjatuhkan pasangannya. Karena, menjatuhkan pasangan sama
saja dengan menjatuhkan dirinya sendiri. Kehilangan pasangan berarti
memunculkan ketidakseimbangan. Dampaknya akan kembali kepada dirinya sendiri.
Jika kita semua memahami mekanisme sederhana ini, sebenarnya kita bakal
dengan mudah mencapai keberhasilan dan kebahagiaan...
Ambillah contoh: manusia berpasangan dengan alam. Jika kita menyadari bahwa
kita sedang berpasangan dengan alam, maka kita harus siap untuk saling memberi
dan menerima.
Kalau kita berpasangan dengan alam tetapi serakah: hanya siap menerima, tidak
mau memberi, maka yang muncul bukan kesuksesan dan kebahagiaan. Melainkan
ketidakseimbangan yang berujung pada penderitaan dan bencana.
Inilah yang sekarang sedang dialami oleh manusia di seluruh muka Bumi. Ya,
kita semua sedang menuai hasil perbuatan kita sendiri. Kerusakan hutan,
penambangan liar, industrialiasi yang kebablasan, dan berbagai perusakan
lingkungan, maupun ekplorasi sumber daya laut yang tidak terkontrol, adalah
cermin betapa kita tidak bisa berbuat seimbang dalam berpasangan dengan alam.
Hasilnya bisa dipastikan, bukan kesuksesan dan kebahagiaan, melainkan
bencana. Bukan pada generasi perusaknya, melainkan pada generasi berikutnya.
Kita telah mewariskan masalah besar bagi kehidupan anak cucu kita.
Bukan hanya alam. Jika kita berpasangan dengan orang lain dalam berbisnis,
kita pun harus bisa menjaga keseimbangan. Jangan berpikir serakah, dan
mengekploitasi mitra bisnis kita. Sebab, jika mitra bisnis kita ambruk, kita
pun bakal ambruk. Kita harus menjaga mereka supaya bisa memberikan kelangsungan
bisnis jangka panjang. Selain menerima, kita harus berupaya untuk memberi
kepadanya. Pasangan kita sukses, kita juga bakal sukses.
Dalam hal laki-laki dan wanita sama saja. Jika kita berpasangan dengan lawan
jenis kita, maka jangan berpikir untuk mengeksploitasinya. Yang harus kita
lakukan adalah menjaganya supaya ia tetap bisa eksis dan bahagia. Sungguh, jika
pasangan kita bahagia, ia pun akan memberikan kebahagiaan kepada kita.
Memberi kebahagiaan adalah kata kunci untuk memperoleh kebahagiaan pada
giliran berikutnya. Memberikan kesuksesan kepada pasangan kita, adalah kata
kunci untuk meraih kesuksesan kita sendiri pada giliran berikutnya.
Sayangnya seringkali kita berpikir sebaliknya. Kita menuntut pasangan kita
untuk memenuhi keinginan kita agar kita bahagia. Lantas, sebaliknya, pasangan
kita juga menuntut untuk dipenuhi keinginannya agar ia bahagia. Yang terjadi
kemudian adalah saling menuntut untuk diberi kebahagiaan. Tanpa pernah
memperoleh kebahagiaan itu sendiri.
Kata kuncinya adalah keseimbangan. Dan keseimbangan itu bukan diperoleh
dengan cara menuntut, melainkan dengan cara memberikan kontribusi agar tercapai
keseimbangan yang dimaksud.
Kembali kepada fitrah, alam semesta sebenarnya sudah didesain oleh Allah
dalam keseimbangan sempurna.
QS. Al Mulk (67): 3
Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak
melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka
lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?
QS. Al Infithaar (82): 7
Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikanmu
seimbang,
Jadi, agar tercapai keseimbangan yang harus dilakukan adalah merendahkan ego
kita masing-masing. Sebaliknya, meninggikan kepentingan orang lain, atau
pasangan kita.
Kita harus bersabar dalam hal ini. Sebagaimana bercocok tanam. Seorang petani
tidak bisa langsung menuntut sawah atau kebunnya untuk memberikan hasil panen
seperti yang diinginkannya. Dia harus mengolah tanah itu terlebih dahulu,
memupuknya, menyiraminya, dan merawatnya dengan baik. Karena ia memberikan
perhatian dan usaha kepada sawah atau kebunnya itu, maka ia lantas memperoleh
balasan atas perhatian dan usaha yang dilakukan kepada pasangannya tersebut,
berupa panen. Semakin besar ia memberikan, maka semakin besar pula ia akan
menerima hasilnya.
Tidak ada yang gratis di alam semesta ini. Semua kesuksesan dan keberhasilan
harus didahului oleh usaha. Semakin besar usaha kita, maka semakin besar pula
yang bakal kita terima. Asalkan semua itu dilakukan sesuai dengan fitrah:
berpasangan dalam keseimbangan.
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
Check outnew cars at Yahoo! Autos.