WAKIL TUHAN DI MUKA BUMI
   
  Bagaikan sebuah drama, kehidupan manusia memiliki peran-peran tertentu. 
Demikian pula dengan laki-laki dan perempuan. Salah satu peran mereka adalah 
untuk menjadi pasangan, dan kemudian menghasilkan keturunan.
   
  Dalam hal ini, laki-laki dan perempuan berperan menjadi wakil Tuhan di muka 
Bumi. Wakil sang pencipta. Untuk menciptakan generasi-generasi selanjutnya yang 
bakal meramaikan drama kehidupan di planet biru ini.
   
  Adalah sangat menarik, Allah menciptakan manusia dengan menggunakan manusia 
sebagai perantaranya. Tidak langsung, seperti ‘tukang sihir’ atau ‘tukang 
sulap’, yang mengucapkan abrakadabra, kemudian menjadi manusia. Meskipun, 
kepahaman seperti itu sempat menghinggapi banyak orang di antara kita, terkait 
dengan kalimat kun fayakun.
   
  Masalahnya bukanlah Allah tidak mampu menciptakan dengan cara seperti itu. 
Sangatlah mudah bagi Alah untuk melakukannya. Akan tetapi Allah memang sengaja 
tidak melakukannya dengan cara itu. Melainkan dengan sebuah proses yang ‘sangat 
rumit’ bagi kita, tetapi ‘sangat mudah’ buat Allah.
   
  Supaya manusia tahu, bagaimanakah tingkat kesulitan penciptaan manusia ini. 
Sehingga kita menjadi bisa memahami betapa Agungnya dan betapa Hebatnya Allah 
Sang Pencipta, Yang Maha Sempurna.
   
  QS. An Nahl (16): 40
  Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, 
Kami hanya mengatakan kepadanya: "Kun (jadilah)", maka jadilah ia.
   
  QS. Al Mu'minuun (23): 12-14
  Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) 
dari tanah.
   
  Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang 
kokoh (rahim).
   
  Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu 
Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang 
belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami 
jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta 
Yang Paling Baik.
   
  Begitulah Allah menjelaskan proses penciptaan manusia. Mulanya dikatakan 
hanya dengan kalimat kun fayakun - jadi, maka jadilah. Akan tetapi Allah 
mengikutinya dengan penjelasan di ayat lain, bahwa kun fayakun itu adalah 
sebuah proses: dari tanah, dibuat saripatinya, dijadikan sperma laki-laki dan 
ovum perempuan, dipertemukan dalam rahim seorang wanita, kemudian berkembang 
menjadi alaqah, mudghah, izhama, dan seterusnya sampai terlahir menjadi bayi.
   
  Proses yang diceritakan Allah dalam rangkaian ayat di atas itu bukan main 
rumitnya. Bahkan kemudian dipelajari dalam disiplin-disiplin ilmu yang kini 
terus berkembang sangat menakjubkan. Mulai dari kedokteran umum, spesialis 
kandungan dan kebidanan, andrologi, embriologi, genetika, endokrinologi, dan 
seterusnya yang semakin menukik ke dunia biomolekuler dengan segala rekayasanya.
   
  Ilmu ini tidak akan pernah habis dibahas oleh manusia sepintar apa pun. Dan, 
semaju apa pun perkembangan sains dan teknologi di masa depan. Allah sekadar 
menunjukkan sebagian kecil ilmuNya dalam bidang penciptaan manusia. Dan, 
manusia dilibatkan dalam proses penciptaan itu agar tahu siapa dan bagaimana 
hebatnya DIA sang Pencipta Yang Maha Agung itu.
   
  Sehingga, saya pun terobsesi untuk menulis tentang detik-detik awal proses 
penciptaan manusia dan perkembangannya di dalam rahim. Karena, sesungguhnyalah 
proses itu berjalan dengan sangat menakjubkan. Insya Allah.
   
  Jadi, manusia adalah wakil Allah alias aktor dalam penciptaan jenisnya 
sendiri. Skenario dan sutradaranya adalah Dia, sang Maha Kreatif. Sang Maha 
Berkehendak. Sang Maha Berkuasa.
   
  Allah memberikan sebagian Kehendak dan KekuasaanNya kepada manusia. 
Sebagiannya kepada wanita, sebagian lainnya kepada lelaki. Keduanya lantas 
berkehendak untuk berpasangan, dan saling menginginkan lewat potensi syahwat 
dan cinta yang dianugerahkan Allah kepada mereka. Allah melengkapi potensi itu 
dengan sagala sistem reproduksi yang ada pada mereka
   
  Maka, ketika Allah mengucapkan kun fayakun mulailah proses penciptaan itu 
dengan segala kecanggihan dan keindahannya. Dengan segala kerumitan 
permasalahannya. Dengan segala ketakjuban dan keajaibannya. Dan dengan segala 
peristiwa yang bakal mengikutinya di masa depan.
   
  Allah menggunakan ‘jasa’ orang tua kita untuk menciptakan kita. Maka, Allah 
pun memberikan perghargaan kepada setiap orang tua dengan penghargaan yang 
sangat tinggi di hadapan anak-anaknya. Di hadapan manusia seluruhnya.
   
  QS. Luqman (31): 14
  Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang 
ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang 
bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan 
kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.
   
  QS. Al Ahqaaf (46): 15
  Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu 
bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan 
susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, 
sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia 
berdo'a: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah 
Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat 
amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi 
kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan 
sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri".
   
  Pada ayat yang kedua, kita bahkan menangkap pelajaran bahwa proses itu harus 
diwariskan kepada anak cucu kita. Turun temurun membentuk generasi-generasi 
yang tangguh, penuh amal kebajikan, dan semata-mata mengagungkan Allah.
   
  Begitulah Allah mengajarkan salah satu fitrah manusia. Bahwa kita adalah 
wakil Allah di muka Bumi untuk ‘menciptakan’ hamba-hamba salih yang memakmurkan 
planet ini. Untuk menjadi khalifah sebagaimana fitrah penciptaan kita sejak 
Adam dan Hawa, puluhan ribu tahun yang lalu...
   
  QS. Ash Shaaffaat (37): 77
  Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan.
   
  QS. Al Furqaan (25): 54
  Dan Dia yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia jadikan manusia itu 
(punya) keturunan dan mushaharah (kekerabatan lewat perkawinan) dan adalah 
Tuhanmu Maha Kuasa.
   
  Penurunan generasi ke generasi selanjutnya adalah salah satu bagian dari 
skenario besar kehidupan manusia di muka Bumi. Bahkan bukan cuma keturunan 
langsungnya, melainkan diperluas oleh Allah lewat kekerabatan perkawinan antar 
dua keluarga yang disebut sebagai mushaharah dalam ayat di atas.
   
  QS. Ali lmran (3): 34
  (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (keturunan) dari yang lain. Dan 
Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
   
  Kelangsungan kehidupan manusia di muka Bumi ini, salah satunya adalah 
bergantung kepada kelangsungan hubungan antara lelaki dan perempuan. Bukan 
hanya pada jumlahnya, melainkan juga pada kualitasnya.
   
  Sebagai contoh sederhana adalah usia perkawinan. Jika banyak lelaki dan 
perempuan yang menikah lebih awal di suatu wilayah, maka wilayah itu bakal 
memiliki perkembangan jumlah penduduk lebih cepat dibandingkan dengan wilayah 
lain yang angka perkawinan mudanya lebih rendah.
   
  Di negara-negara maju, angka pertumbuhan penduduknya lebih rendah dan 
terkontrol, salah satunya dikarenakan usia perkawinan di negara maju adalah 
lebih tua dibandingkan dengan negara dunia ke tiga. Mereka banyak yang menikah 
di usia 20-an tahun atau lebih, sementara di negara ke tiga banyak yang menikah 
di usia belasan tahun.
   
  Demikian pula dengan kualitasnya. Negara-negara yang kualitas pendidikannya 
lebih baik, dan usia perkawinannya lebih matang biasanya lebih bisa mengontrol 
kualitas anak-anak mereka. Meskipun, ini kemudian masih sangat dipengaruhi oleh 
sistem pendidikan yang diberikan kepada anak-anak tersebut.
   
  Kualitas keturunan juga sangat dipengaruhi oleh kualitas interaksi antara 
suami dan istri. Suami istri yang tidak bermasalah dalam interaksinya, biasanya 
memberikan kondisi yang baik terhadap kualitas anak-anaknya. Mereka tumbuh 
sehat secara kepribadian, hubungan sosial, dan kedewasaannya. Sedangkan suami 
istri yang bermasalah bakal memberikan suasana psikis yang tidak baik kepada 
anak-anaknya.
   
  Maka, tugas atau peran pasangan ayah dan ibu adalah menciptakan kondisi yang 
baik bagi pertumbuhan anak-anaknya. Mereka menjadi wakil Tuhan di muka Bumi 
untuk menciptakan generasi-generasi yang berkualitas yang bakal mengelola Bumi 
dan segala isinya dengan baik.
   
  Jika mereka tidak bisa bekerjasama dan mengikuti fitrahnya itu, maka tujuan 
penciptaan lelaki dan perempuan itu tidak mencapai fungsi yang seharusnya. 
Maka, muncullah masalah.
   
  Memang, Allah memberikan keleluasaan kehendak kepada keduanya untuk memilih. 
Mau berpasangan atau tidak. Mau menikah atau tidak. Mau berumah tangga atau 
tidak.
   
  Bisa saja mereka memilih untuk tidak. Akan tetapi, pilihan ini bakal memiliki 
konsekuensi yang panjang secara individu maupun kolektif. Proses penciptaan 
bakal terganggu. Mulai dari tidak terbentuknya keturunan, sampai pada munculnya 
keturunan dengan kualitas yang tidak baik. Dan kemudian menjadi masalah kita 
semua...
   

       
---------------------------------
Got a little couch potato? 
Check out fun summer activities for kids.

Kirim email ke