----- Original Message ----- 
From: Euromoslem 
To: [EMAIL PROTECTED] 
Sent: Friday, June 01, 2007 10:09 AM
Subject: [ppmeamsterdam] Berjihad Menahan Lisan







EUROMOSLEM ONLINE  tahun ke delapan no. 328.  Media Dakwah  PPME  AMSTERDAM.  
Insya ALLAH  akan mengunjungi  Anda  pada setiap hari  jum'at .



BERJIHAD MENAHAN LISAN



Syaikh Husain al-Awayisyah (salah seorang murid Syaikh Muhammad Nashiruddin 
al-Albani rahimahullah) di dalam mukaddimah kitabnya, "Hashaid al-Alsun" 
mengungkapkan kesedihannya karena begitu banyak orang yang salah dalam 
memfungsikan lisan. Beliau mengatakan, "Siapa pun yang memikirkan nasib umat 
Islam saat ini, maka dia pasti akan meratapi kondisinya dan menangisi 
keadaannya. Sungguh mata ini akan meneteskan air mata dan hati pun akan merasa 
bersedih. Bagaimana tidak? Pertikaian tengah memuncak di tengah mereka, 
perpecahan merambah di tengah-tengah barisan mereka dan rasa takut telah 
merasuki hati mereka. 

Dalam kondisi yang memilukan dan pada saat yang menyedihkan ini, kita semua 
menunggu adanya langkah nyata dan pembangunan untuk mendirikan kembali sebuah 
istana, mengembalikan bangunan umat, dan mengumpul kan kesatuannya. Kita 
menunggu adanya kalimat yang mampu menyatukan antara saudara dan kekasih, dan 
mempersatukan hati-hati yang berselisih. Kita juga menunggu adanya dorongan dan 
upaya untuk merangkak dan melangkah ke depan. Kita menantikan senyuman yang 
bisa meneguhkan hati dan bisa memotivasi untuk bekerja. Di samping itu kita 
memohon semua pihak agar melaksanakan pekerjaan dan tugasnya demi tegaknya 
bangunan umat Islam. Masing-masing berada di bidangnya, diposisikan sesuai 
dengan potensi dan kemampuannya. Dan alhamdulillah kita dapat menyaksikan di 
antara orang-orang yang baik dan jujur ada yang mau melaksanakan tugas ini 
dengan sebaik-baiknya. 

Tetapi sayang di lain pihak kita melihat orang yang secara terang-terangan atau 
sembunyi-sembunyi menggunakan mulutnya untuk memisahkan para kekasih dan 
menggunakan lidahnya untuk mengucapkan sesuatu yang dimurkai Allah subhanahu 
wata'ala. Dan kita juga melihat masih banyak mulut yang menghancurkan umat 
Islam. Kita dapat merasakan akibat yang disebabkan oleh lisan tersebut. 

Berapa banyak terjadi peribadatan kepada selain Allah dan perbuatan syirik 
akibat dari ulah lisan-lisan semacam ini. Berapa banyak hukum Allah subhanahu 
wata'ala yang tersingkirkan akibat lisan-lisan tersebut. Berapa banyak 
bid'ah-bid'ah bermunculan, berapa banyak hati yang terluka, kerabat dan 
pertalian terputus, hati menjadi bercerai berai dan bahkan darah tertumpah 
karena akibat ulah lisan. Berapa banyak pula orang tak berdosa meregang nyawa 
karenanya, wanita yang suci dicerai, harta dirampas dan para istri dituduh 
berbuat selingkuh?" Semua akibat dari ulah lisan yang tidak bertanggungjawab. 
Ini semua membuktikan bahwa lisan bila tidak difungsikan dengan baik sesuai 
aturan maka akan menyebabkan munculnya kerusakan dan bencana. 

Namun ternyata menyetir lisan agar mengucapkan yang lurus dan sejalan dengan 
rel agama dan norma kebaikan bukan hal yang mudah dilakukan. Harus dibutuhkan 
perjuangan, latihan, dan kesabaran, atau dapat dikatakan harus "jihad" untuk 
dapat mengendalikan lisan, yakni mengendalikan dan memerangi hawa nafsu yang 
mendorong lisan untuk mengucapkan sesuatu yang buruk tersebut, sebab hawa nafsu 
senantiasa memerintahkan kepada keburukan. 

Dalam bab selanjutnya beliau memaparkan bahwa menahan lisan agar mau tunduk dan 
taat kepada Allah subhanahu wata'ala adalah merupakan bentuk jihad, sebagaimana 
dalam pembahasan berikut ini. 

Diriwayatkan dari Fudhalah bin Ubaid, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam 
bersabda, 
"Seorang mujahid adalah orang yang memerangi hawa nafsunya agar mau taat kepada 
Allah." (Penggalan hadits riwayat Imam Ahmad, termuat dalam as-Silsilah 
ash-Shahihah no.539) 

Dalam hadits yang lainnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga 
bersabda, 
"Sebaik-baik jihad adalah engkau memerangi hawa nafsumu demi (taat kepada) Dzat 
Allah Azza wa Jalla." (HR. Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah, Ad-Dailami dan 
selainnya, lihat ash-Shiihah no. 1496) 

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga bersabda, 
"Orang muslim yang paling baik (kualitas) keislamannya adalah orang yang kaum 
muslimin merasa aman dari (kejahatan) lisan dan tangannya. Orang mukmin yang 
paling baik (kualitas) keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya. 
Sebaik-baik orang yang berhijrah adalah orang orang yang meninggalkan apa saja 
yang dilarang Allah. Dan sebaik-baik jihad adalah orang yang memerangi hawa 
nafsunya demi (ketaatan) kepda Dzat Allah Azza wa Jalla." (HR. Ath-Thabrani 
dalam al-Kabiir, Ibnu Nashar dalam ash-Shalat, lihat ash-Shahihah no.1491) 

Barangkali kita sedikit merasa heran ketika mendengar bahwa menahan lidah dari 
ucapan yang tidak baik adalah satu dari bentuk jihad. Namun rasa heran itu akan 
segera sirna, manakala kita telah membaca sabda-sabda Rasulullah shallallahu 
'alaihi wasallam di atas. 

Sungguh, betapa berat dan susahnya jihad menahan lisan ini. Sebab lidah 
merupakan tempat untuk mengungkapkan segala keinginan, sedangkan hawa nafsu 
selalu mengajak kepada kejelekan dan kehinaan. Keinginan-keinginan tersebut 
memiliki rupa yang beraneka ragam, dan bentuk yang tidak berbilang. Orang yang 
terjaga dari keburukan nafsu tersebut adalah orang yang benar-benar mendapat 
perlindungan dari Allah subhanahu wata'ala. 

Membunuh musuh di medan perang tidaklah bisa disebut dengan jihad yang 
sebenarnya, kecuali memenuhi satu syarat penting yang tak bisa diabaikan begitu 
saja, yaitu jihad nafsu. Kalau seandainya seseorang ditimpa cobaan yang baik 
berupa mati saat berperang, tetapi dia tidak pernah memerangi sifat riya' 
(pamer) dalam dirinya, sementara ia mati dalam keadaan demikian maka amalan 
jihadnya tidak diterima di sisi Allah subhanahu wata'ala. Maka bukan merupakan 
hal yang aneh bila dikatakan bahwa jihad melawan nafsu ini lebih susah daripada 
jihad dengan raga (badan). Sebabnya adalah karena badan itu diperintah, 
sedangkan yang memerintah adalah nafsu, sebagaimana disebutkan dalam firman 
Allah subhanahu wata'ala, artinya, "Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh 
kepada kejahatan." (QS.Yusuf:53) 

Maka perkaranya akan menjadi mudah ketika hawa nafsu sudah berhasil 
ditaklukkan. Juga sebagaimana yang disebutkan dalam hadits riwayat an-Nu'man 
bin Basyir, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Ketahuilah 
sesungguhnya di dalam jasad ini terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka 
baik pula seluruh jasad tersebut, dan jika ia buruk maka buruk pula seluruh 
jasad tersebut. Ketahuilah ia adalah hati (qalbu)." (Penggalan dari hadits 
riwayat al-Bukhari dan Muslim dan selainnya) 

Apabila seseorang mau berpikir merenungi hadits ini maka dia akan tahu bahwa 
seluruh anggota badannya adalah mengikuti perintah qalbu (hati). Sehingga jasad 
merupakan pihak yang disetir dan hati merupakan pihak yang mengendalikannya. 
Jasad merupakan pihak yang diperintah sedang nafsu sebagai pihak yang 
memerintah. 

Setelah kita mengetahui masalah ini, maka tentunya kita akan mengetahui bahwa 
jihad nafsu merupakan hal yang sangat pokok. Ia merupakan jihad yang sangat 
sulit, dan bahwasanya jihad dengan badan tidak akan menjadi besar dan bernilai 
di hadapan Allah subhanahu wata'ala, kecuali bila disertai dengan jihad nafsu. 
Bahkan seseorang yang dengan tulus ikhlas meminta mati syahid kepada Allah 
subhanahu wata'ala dan ia memerangi hawa nafsunya demi menahan diri dari apa 
yang dimurkai Allah subhanahu wata'ala, maka dia akan sampai pada kedudukan 
para syuhada meskipun dia mati di atas pembaringannya. 

Hal ini berdasarkan pada hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam riwayat Imam 
Muslim dan selainnya, beliau bersabda, "Barang siapa yang meminta mati syahid 
kepada Allah dengan sejujurnya, maka Allah akan menjadikannya sampai pada 
kedudukan para syuhada, meskipun ia mati di atas pembaringannya." 

Dan bisa jadi sebagian orang yang gugur di medan peperangan pada hari Kiamat 
nanti dia akan disiksa karena katidakikhlasannya. Ini sebagaimana disebutkan 
dalam sebuah hadits yang panjang yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan lainnya 
tentang tiga orang yang diseret di dalam neraka, salah satunya adalah seorang 
yang berperang (berjihad) dengan tujuan agar dikatakan sebagai seorang 
pemberani atau pahlawan. 

Maka yang paling utama dan terbaik adalah mengikhlaskan niat dan amalan 
semata-mata karena Allah subhanahu wata'ala. Orang yang mampu berbuat ikhlas 
dalam setiap perbuatannya maka ia telah berhasil mengalahkan hawa nafsunya. 
(Kholif Abu Ahmad) 

Sumber: Al Sofwah,  "Hashaid al-Alsun" Edisi terjemah "Manjemen Lisan" Darul 
Haq Jakarta. 

Semoga Allah melimpahkan taufik-Nya kepada kita semua untuk amal yang dicintai 
dan diridhai-Nya. Shalawat dan salam semoga juga dilimpahkan Allah kepada  Nabi 
kita Muhammad Shallallahu  Álaihi Wasallam, segenap keluarga dan para 
sahabatnya.



PPME AMSTERDAM BIDANG DAKWAH

EKINGENSTRAAT 3-7, AMSTERDAM-OSDORP



Amsterdam,  01 Juni 2007 / 15 Jumaada al-Awwal 1428    

                                      

E-Mail: Euromoslem Amsterdam [EMAIL PROTECTED]








 

<<image001.jpg>>

Kirim email ke