Handri Ramadian <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Ibnu Arabi
Oleh: Ustadz H. Ahmad Syarwat Lc
Kalau Ibnu Al-Arabi seorang ahli tafsir yang muslim, maka Ibnu Arabi (tanpa
al-), tokoh yang anda tanyakan itu, bukan muslim apalagi ulama. Dia hanyalah
orang yang pernah beragama Islam lalu keluar atau murtad, sehingga tidak layak
menyandang gelar ulama.
Baru-baru ini, saya masih dapat membaca hadirnya fenomena memberikan status
murtad kepada sesama umat islam. Sejujurnya saya terkejut, karena pengafiran
ini justru muncul di grup diskusi dunia maya yang mengusung nama tarekat
tertentu. Biasanya para ahli tarekat adalah ahli-ahli yang mampu menyelami
seluk beluk hati sehingga dapat lebih berhati-hati dan tidak terburu-buru dalam
menghakimi. Saya pikir kekeruhan hati seperti ini sudah musnah dari dunia
tarekat. Ternyata saya salah....
Keterkejutan itu tak bertahan lama, akhirnya tak lama kemudian saya
tersenyum, saya lupa bahwa ini adalah grup diskusi dunia maya, yang penulisnya
bisa siapa saja. Bukan tak mungkin dari golongan non-muslim, atau bahkan dari
musuh-musuh islam yang menyusup.
Jika pelakunya adalah musuh islam yang disusupkan seperti pada kasus SHR,
maka saya tidak usah berkomentar banyak. Mereka memang diperintahkan untuk
mempelajari islam. Tidak untuk mengimaninya, melainkan untuk mencari
kelemahannya kemudian menghancurkannya.
Biasanya taktik kotor ini mudah dideteksi. Mereka biasanya melakukan
agitasi, kampanye (propaganda) pada mas media dan elektronik dengan gencar dan
memiliki frekuensi tinggi, sehingga orang-orang yang masih sederhana pola
pikirnya, mudah terhasut dan akhirnya membenarkan.
Propaganda pikiran jahat itu dimulai dari penterjemahan, interpretasi dan
penyajian serta pengacauan fakta-fakta yang menyimpang, kasar, halus dan
disengaja.
Distorsi dan mis-interprestasi ini betul-betul dikemas dengan kepiawaian
bahasa mereka dan logika yang menipu sehingga “para pencari” kesulitan atau
benar-benar tidak memahami aspek islam yang sebenarnya. Mereka terperangkap
kebohongan yang berhias kefasihan, dan akhirnya menelan pil-racun yang berlapis
gula kebohongan dan mengikuti tulisan tersebut.
Tetapi jika hal itu dilakukan oleh sesama umat islam, maka diamnya saya
hanya menghasilkan dosa. Maka izinkan saya berbicara. Maaf jika ada yang
tersindir / tersinggung. Dan inilah tausyiah / nasihat bagi mereka :
1. JANGAN KAU GELAPKAN AKHIRATMU DENGAN MENDZHALIMI MEREKA
Saudaraku, ketika engkau mengutuk, memberikan status murtad atau kafir,
atau mendoakan saudaramu agar celaka, maka setan berkata dengan suara merdu,
“Aku sangat berterimakasih kepadamu lebih dari semua makhluk yang ada di muka
bumi. Karena permohonanmu agar saudaramu sesama islam dicelakakan, telah
dikabulkan oleh Allah. Dengan cara itu, engkau telah meringankan bebanku.
2. JANGAN KAU SAKITI MEREKA DENGAN KEBODOHANMU DALAM BERMUAMALAH
Saudaraku, mungkin cerita ini bisa memberimu pencerahan :
Umar ra. Bertanya kepada Khudzaifah bin yaman : “Bagaimana keadaanmu
pagi ini, wahai khudzaifah ?” Khudzaifah menjawab: “Pagi ini aku menyukai
fitnah, membenci kebenaran (haq), shalat tanpa berwudhu dan aku memiliki
sesuatu di muka bumi, apa yang tidak dimiliki oleh Allah di langit.”
Mendengar jawaban itu maka Umar marah. Ali karramallahu wajhah datang
menemuinya dan berkata kepadanya : “Di wajahmu terlihat tanda kemarahan, wahai
amirul mukminin.” Kemudian Umar menceritakan kepada Ali tentang apa yang
menyebabkannya marah kepada Khudzaifah.
Kemudian Ali berkata : “Sungguh benar Khudzaifah. Adapun kecintaan
kepada fitnah berarti kecintaan kepada harta dan anak-nak, sebagaimana Allah
berfirman dalam Al Quran “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan
(fitnah) (bagimu) (QS At Taghaabun (64):15). Adapun dia membenci kebenaran
(haq) berarti dia membenci kematian, karena kedatangan kematian adalah benar
(haq). Dan shalat tanpa berwudhu berarti shalawatnya atas Nabi saw. Adapun yang
dimilikinya di muka bumi yang tidak dimiliki oleh Allah di langit berarti dia
memiliki istri dan seorang anak, sedangkan Allah tidak beristri dan beranak.
Hal ini sebagaimana firman Allah “Dia tiada beranak dan tidak pula
diperanakkan” (QS Al Ikhlash : 3)
Umar berkata : “Demi Allah, engkau telah membuatku puas dan lega.”
Saudaraku, berapa banyak orang yang mencela ucapan yang benar
hanya karena pemahamannya yang buruk.
Apalagi ilmu hikmah sangat pelik dan mendalam. Hikmah adalah karunia Allah.
Suatu ilmu yang paling agung, suatu kebaikan yang paling utama dan merupakan
dasar keutamaan, dan induk segala kebaikan. Hanya segelintir orang yang
diberikan kebijakan berupa hikmah, sebagaimana Allah berfirman : “Allah
menganugerahkan Al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah)
kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan barang siapa yang dianugerahi hikmah, ia
benar-benar Telah dianugerahi karunia yang banyak. dan Hanya orang-orang yang
berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). (QS Al Baqarah :
269)
Hikmah itu berasal dari kesempurnaan Dzat Allah swt dan keberlangsungan
eksistensinya yang terus menerus, tiada pernah berakhir. Allah memberikannya
kepada orang-orang pilihan-Nya. Jarang orang mendapatkannya kecuali ia telah
meninggalkan keduniawian, menundukkan hawa nafsunya sambil membawa ketakwaan,
ke-wara-an, ke-zuhud-an hakiki dan masuk ke jalan orang-orang yang didekatkan
dengan Allah, dari kalangan malaikat atau hamba-hamba-Nya yang shalih, sehingga
Allah menganugerahinya suatu ilmu, lalu memberinya hikmah dan kebaikan.
Menghidupkannya dengan kehidupan yang baik, dan memberikan cahaya yang mampu
menuntunnya di dalam kegelapan jalan dunia. Sebagaimana firman Allah : “Dan
apakah orang yang sudah mati. Kemudian dia kami hidupkan dan kami berikan
kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di
tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada
dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari
padanya? (QS Al An Am : 122)
Nah saudaraku, cerita di atas menceritakan kepadamu perbedaan antara
orang yang telah diberi ilmu hikmah dan orang yang belum diberi ilmu hikmah.
Perbedaannya tampak mencolok, bagaikan perbedaan langit dan bumi. Tetapi bukan
itu yang ingin diketengahkan hari ini, inti dari cerita di atas adalah bahwa
jika engkau telah mendapatkan ilmu hikmah, maka engkau akan dapat memandang
sesuatu hal secara dalam dan arif. Pemahaman terhadap ilmu Allah terpancar dari
wajah dan bahasa. Keputusanmu bukanlah keputusan serampangan, melainkan dengan
hujah (dalil) yang nyata sehingga keputusanmu adalah keputusan yang bercahaya,
sehingga dengan demikian, engkau dapat menyelematkan seseorang dari fitnah dan
kebodohan orang lain.
Tetapi, ketahuilah olehmu saudaraku, bahwa kajian-kajian Ilahiah dan
pengetahuan-pengetahuan ketuhanan sangatlah tersembunyi, suatu jalan yang
pelik. Barang siapa yang ingin menyelami lautan pengetahuan Ilahi dan mendalami
hakikat ketuhanan, maka ia harus menempa diri dengan latihan-latihan (riyadhah)
ilmiah dan amaliah serta memperoleh kemampuan bawaan (malakah) untuk
menanggalkan beban berat di badannya, untuk kemudian naik ke kerajaan langit.
Dan di situlah engkau akan “menemukan” Tuhan, dan merasa nyaman dalam
pangkuan-Nya.
Ingatlah, bahwa sebagian kaum memiliki kebencian terhadap perbedaan paham
lawannya. Kebencian ini membuat ia sibuk mendistorsi fakta-fakta mengenai
islam, sehingga secara tak langsung mereka menghancurkan islam dari dalam.
Semoga Allah melindungi kita dari hal tersebut.
Semoga engkau termasuk ke dalam golongan yang didekatkan oleh Allah
kepada-Nya. Sehingga dengan kedekatanmu, Allah menganugerahimu ilmu hikmah yang
akan menerangi jalanmu di dunia ini. Amin...
3. BIARKAN ALLAH BESERTA HAMBANYA
Saudaraku, walaupun abu jahal dikenal sebagai salah seorang dari musuh
Rasul senior, kenyataannya Nabi masih menasihatinya secara personil.
“Wahai abu jahal”, nabi memulai, “tahukan kamu cerita nabi Ibrahim ketika
beliau diangkat oleh Allah ke alam malakut (alam malaikat) dan ke tempat yang
sedikit di bawah langit. Dari sana ia diberikan oleh Allah suatu kekuatan
sehingga bisa menyaksikan apa yang dilakukan oleh manusia di dunia, baik yang
terlihat maupun yang tersembunyi.
Ketika dilihatnya dua orang yang sedang berzina, Ibrahim mengangkat kedua
tangannya dan berdoa memohon kutukan dan kecelakaan bagi mereka. Doa ini
dikabulkan. Kemudian Ibrahim melihat dua orang lain yang melakukan hal yang
sama. Dipanjatkannya lagi doa kutukan sampai keduanya celaka. Sampai Ibrahim
melakukan hal tersebut untuk ketiga kalinya.
Melihat hal itu, Allah berfirman kepada nabi Ibrahim : Wahai Ibrahim,
tahanlah doamu kepada mereka. Sungguh Aku adalah Allah yang maha pengampun dana
maha penyayang. Dosa hamba-hambaku tidak merugikanku, sebagaimana ketaatan
mereka tidak akan menambahkan apa-apa bagiku. Aku tidak mengatur mereka dengan
cara melampiaskan rasa murka seperti halnya yang kau lakukan. Tahanlah doamu
dari hamba-hambaku, yang laki-laki dan perempuan karena engkau hanya seorang
hamba yang bertugas memberikan peringatan. Engkau tidak bersekutu denganku
dalam kerajaan-Ku. Engkau tidak mempunyai kuasa terhadap-Ku dan terhadap
hamba-hambaKu. Hamba-hambaku berada di antara tiga sifat
Pertama, mereka yang memohon ampun dariKu. Aku ampuni mereka. Aku maafkan
kesalahan-kesalahan mereka dan aku sembunyikan aib-aib mereka.
Kedua, hamba-hamba-Ku yang Ku tahan mereka dari azab-Ku karena Ku tahu
kelak dari sulbi mereka akan lahir anak keturunan yang beriman. Aku bersikap
lunak kepada ayah-ayah mereka mereka dan tidak terburu-buru terhadap ibu-ibu
mereka. Aku angkat azabku agar hambaku yang mukmin itu bisa keluar dari sulbi
mereka. Apabila mereka dan anaknya sudah terpisah, maka akan datanglah saat
azab-ku dan turunlah bencana-Ku.
Ketiga, mereka yang bukan dari golongan pertama dan kedua. Untuk mereka
telah ku siapkan azab yang lebih besar dari kau (Ibrahim) inginkan. Karena
azab-ku terhadap hamba-hambaku berdasarkan keagunganKu dan kemahaperkasaanKu.
Wahai Ibrahim, biarkan antara Aku dan hamba-hamba-Ku. Karena aku lebih
kasih terhadap mereka dibandingkan dengan engkau, dan Aku adalah Allah yang
maha kuasa, maha sabar, maha mengetahui dan maha bijaksana. Aku mengatur mereka
dengan ilmuku dan Aku laksanakan terhadap mereka ketentuan dan takdir-Ku.
4. UCAPAN KOTOR BERASAL DARI HATI YANG KOTOR
“Wahai saudaraku, sesungguhnya orang kau murtadkan telah menemui Rabb-nya.
Dan ingatlah bahwa ketika engkau kelak menghadap pula kepada Allah Azza wa
Jalla. Engkau pasti akan sadar bahwa dosa terkecil yang pernah engkau lakukan
di dunia jauh lebih berat bagimu dibandingkan kejahatan terbesar yang dilakukan
oleh orang yang kau murtadkan.
Di hari itu (kiamat), engkau tidak akan pernah memikirkan dosa terbesar
oleh orang yang kau murtadkan, walaupun ia begitu besar. Sebab engkau hanya
memikirkan dirimu sendiri, walaupun dosa itu mungkin tidak sebanding dengan
kedzaliman orang yang kau murtadkan. Ya, saudaraku, masing-masing kalian kelak
akan sibuk dengan dirinya sendiri.
Ketahuilah saudaraku, bahwa Allah azza wa jalla akan menuntut balas
pada orang yang kau murtadkan, terhadap orang-orang yang didzaliminya.
Sebagaimana juga Ia akan menuntut balas kepada orang-orang yang mendzalimi
orang yang kau murtadkan, untuknya. Maka bila engkau hari ini mendzalimi orang
yang kau murtadkan, pasti Allah akan menunututmu di akhirat akibat kedzaliman
itu.
Berhati-hatilah menjelek-jelekan siapapun dengan kata-kata kotor.
Termasuk orang yang kau berikan status murtad. Allah tidak akan membiarkanmu
menodai dan mengotori majelisnya dengan celaan dan kebencian kepada siapa saja.
5. TIRULAH RASUL DALAM MELURUSKAN KESALAHAN ORANG
Wahai saudaraku, ketika engkau memurtadkan saudaramu sesalam muslim,
tanyakanlah kepada dirimu sendiri, "Kira-kira, manakah yang lebih baik, Dirimu
atau Nabi Musa?" Jawabanmu pastilah, "Sudah tentu Nabi Musa lebih baik daripada
saya.”
Lalu tanyakanlah pertanyaan kedua, "lalu, siapakah menurut pendapatmu yang
lebih jahat, orang yang kau murtadkan atau Firaun?" Tentu jawabanmu adalah,
"Pada hemat saya, Firaun masih lebih jahat daripada orang yang saya murtadkan."
Maaf, saudaraku. Seingat saya, bagaimana pun jahatnya Firaun, sampai ia
mengaku tuhan, dan bertindak kejam kepada umat Nabi Musa, malah telah merebus
hidup-hidup dayang-dayang putrinya yang bernama Masyitah beserta susuannya, pun
Nabi Musa diperintahkan Allah untuk berkata dengan lemah lembut kepada si zalim
itu. Tolong dapatkah Tuan membacakan buat saya perintah Allah yang dimuat dalam
Al-Quran Surat Thoha ayat 44 tersebut?" "Berikanlah, hai Musa dan Harun, kepada
Firaun nasihat-nasihat yang baik dengan bahasa yang halus, mudah-mudahan ia
mahu ingat dan menjadi takut kepada Allah." (QS Toha : 44)
Karena itu, pantas bukan kalau saya meminta Tuan untuk menegur orang yang
salah dengan bahasa yang lebih sopan dan sikap yang lebih bertata krama?
Lantaran Tuan tidak sebaik Nabi Musa dan orang yang tuan murtadkan tidak
sejahat Firaun? Ataukah barangkali Tuan mempunya Al-Quran lain yang memuat ayat
44 surat Thaha itu?"
Saudaraku, hatimu mungkin tidak puas, rasanya masih ingin mengutuk
dengan kalimat yang lebih garang dan keras. Akan tetapi, bagaimanapun pahitnya,
perintah Allah harus dipatuhi, ayat Al-Quran harus dipegang.
Kutiplah surah An-Nahl ayat 125 yang berbunyi : "Serulah ke jalan
Tuhanmu dengan bijaksana, dengan nasihat yang baik.
Jika seseorang melihat bahwa ada saudaranya sesama muslim menyimpang,
mengapa ia tidak menyayangi saudaranya dengan meluruskannya ? Tidak hanya
berkoar memurtadkan orang lain, sementara ia sendiri tidak melakukan perbaikan.
6. Seyogianya seseorang tidak mencampur adukkan pendapat pribadi pada
hal-hal yang menjadi hak prerogatif Allah. Pengafiran dan pemurtadan adalah hak
prerogatif Allah, bukan hak manusia. Tahanlah ucapan-ucapanmu dari hamba-hamba
Allah, yang laki-laki dan perempuan karena engkau hanya seorang hamba yang
bertugas memberikan peringatan. Engkau tidak bersekutu dengan Allah dalam
kerajaan-Nya, juga tidak bersekutu dalam surga dan neraka-Nya. Engkau tidak
mempunyai kuasa terhadap-keputusan Allah dan terhadap hamba-hamba-Nya.
Sebelum seorang menggenggam surga dan neraka di kedua tangannya, ia tidak
boleh memberikan status kafir atau murtad kepada sesama muslim.
7. TAHUKAH ENGKAU
Berhati-hatilah saudaraku, barangkali orang yang sekarang engkau beri
status murtad, bisa jadi memiliki lautan kebaikan di masa sebelumnya - maka -
bisa jadi kesalahan itu telah lenyap di tegah lautan kebaikannya.
Atau barangkali ketika engkau memberikan status murtad kepadanya, ia sudah
bertaubat lama, dan menggantikan kesalahannya dengan kebaikan yang melangit.
Sehingga status murtad yang engkau berikan akhirnya menjadi fitnah dan dosa
untukmu.
Nah saudaraku, semoga kita semua diberkahi Allah, sehingga tidak melangkahi
kuasa-Nya. Amin.
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo!
Answers