Source: www.radix.co.id / www.qalbu.net
Orang-orang Yang Tertipu
Ditulis Oleh Wahfiudin Senin, 09 Juli 2007
Berfikir yang baik adalah yang objektif, artinya pemikir tidak melibatkan
perasaan dan pengalamannya dengan obyek yang difikirkan. Obyek selalu berada di
luar diri pemikir dan pemikir tidak masuk kedalam obyek. Filosof yang baik
adalah pemikir yang selalu membuat jarak dengan obyek fikirannya, ia cukup to
sit and to think from outside.
Berbeda dengan seorang sufi, ia melibatkan perasaannya, berjalan mendekat dan
menyatu dengan obyek untuk mengalami obyeknya, bahkan ia menjadi (seperti)
obyeknya. Menjadi sufi berarti harus to walk, to experience and to become.
Ada pelibatan diri, penyertaan kesadaran dan perasaan, sehingga sufi tumbuh
menjadi bersama obyek kesufiannya.
Al-Quran Surat Ali Imran ayat 191 dengan jelas membedakan antara fikir dan
dzikir.
Dzikir selalu diorientasikan kepada Allah SWT yang transendental, sedangkan
fikir selalu diorientasikan kepada kejadian-kejadian langit dan bumi yang
fenomenal. Karena itu, kalau fikir menggunakan pendekatan empirik, struktural
dan logik; maka dzikir tidak membatasi dan memang tidak boleh terpaku, pada
empirisme, struktur dan logika. Dzikir tidak terpaku pada bentuk dan warna,
susunan atau komposisi, serta hubungan-hubungan sebab-akibat. Ia adalah proses
dinamis yang dibiarkan mengalir begitu saja seperti arus sungai pegunungan yang
menuruni lembah, kadang bergolak bergejolak atau berputar menjadi sebuah
turbolensi yang menyedot apa saja yang ada di dekatnya.
Para Sufi sering menyebut berfikir sebagai berjalan dan berdzikir sebagai
terbang. Terbang tak menghajatkan adanya langkah-langkah sistematik karena
terbang adalah gerak quantum yang melonjak-lonjak, kadang melesat kadang
berputar, kadang melayang kadang menukik tajam. Perhatikanlah gerak kupu-kupu
yang sedang menari-nari di taman bunga, itulah berdzikir.
Dengan berfikir filosof mencari makna atas obyeknya (hushuli), dengan
berdzikir sufi memperoleh makna dari obyeknya (hudhuri). Imam Ghazali letih
mencari-cari dengan filsafatnya lalu mendapatkan kesejatian dengan kesufiannya.
Ia mengalami ketersingkapan (al-Kasyf) dan mendapatkan kejelasan (at-Tabyîn)
dari apa yang selama ini banyak membuat manusia terkecoh (al-Ghurûr). Maka
lahirlah bukunya Al-Kasyf wa At-Tabyîn fî Ghurûr Al-Khalqi Ajmaîn yang dalam
Bahasa Indonesia berarti Orang-orang Yang Tertipu.
Sepanjang orang hanya berfikir orang akan mudah terkecoh. Fikiran memang
membuat mata terbuka lebar menangkap pemandangan yang luas, tapi belum tentu
membuat jiwa memahami kedalaman makna yang hakiki dari apa yang dilihat dan
dikerjakan. Orang-orang yang hanya sibuk berfikir, baik kafir maupun mukmin,
tertipu oleh fikirannya. Orang-orang yang bermaksiat dan beramal shalih, banyak
yang tertipu oleh kaidah-kaidah syariah yang difikirkannya. Begitu juga dengan
ulama dan ahli ibadah, orang-orang kaya, bahkan para sufi pun banyak yang
tertipu oleh fikiran dan prasangkanya.
Jangan-jangan Anda juga bisa tertipu...
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com