DICIPTAKAN BERTAHAP
Maka, sampailah kita pada bagian akhir bab ini. Sepanjang bab, kita telah
berusaha memahami bagaimana Al Quran bercerita tentang penciptaan manusia.
Sosok makhluk paling kontroversial dalam drama kehidupan yang digelar di muka
Bumi.
Sudah cukup banyak ayat yang kita kumpulkan dan kita bahas. Kita berusaha
mengungkap, dimanakah Allah menciptakan manusia, bagaimana proses penciptaannya
berlangsung, dari bahan apa ia diciptakan, kapan itu terjadi, siapakah al
Basyar dan al lnsaan itu. Dan sebagainya.
Di bagian akhir bab ini kita ingin merangkai ayat-ayat tersebut, untuk
memperoleh kesimpulan secara lebih utuh. Meskipun untuk sementara. Karena kita
masih akan merangkai dengan berbagai informasi lainnya agar kesimpulan yang
kita dapatkan semakin baik. Semakin valid. Berikut ini gambarannya.
1. Bumi adalah panggung drama kehidupan manusia yang sengaja diciptakan Allah
sejak awal penciptaan alam semesta. Untuk itu Allah sudah menyiapkan planet
Bumi ini dengan segala fasilitas untuk menyongsong datangnya kehidupan yang
lebih tinggi, yaitu bangsa manusia.
2. Manusia sejak awal diciptakan di planet ini. Karena itu, bahan baku untuk
membuat tubuhnya diambilkan dari tanah Bumi. Bukan berasal dari planet lain,
karena unsur-unsur penyusun tubuhnya adalah khas tanah Bumi.
3. Tanah Bumi tersebut oleh Allah diproses selama bermiliar-miliar tahun usia
planet ini untuk memperoleh bahan dasar yang paling baik yaitu turab alias
top-soil. Namun, Allah bisa menyebut jenis tanah apa saja sebagai bahan
dasarnya, karena proses penyempurnaan tanah itu melewati fase-fase tersebut.
Sebagai contoh Allah bisa menyebut, manusia diciptakan dari thiin (tanah
keras), atau sulaalatin min thiin (saripati tanah keras itu) atau shalshaal
(tanah liat) hamaa-in (tanah lumpur hitam), Shalshaalin kalfakhkhar (tanah
tembikar), thiini llazib (tanah lempung), atau pun turab (tanah gembur). Bukan
berarti Allah memproses masing-masing jenis tanah langsung menjadi manusia.
4. Karenanya, tempat penciptaan manusia pertama itu berada di permukaan
planet Bumi. Kalau pun kemudian ada informasi bahwa proses penciptaan itu
berada di surga, surga itu terdapat di Bumi. Karena makna kata jannah adalah
taman yang indah. Yaitu sebuah taman yang subur, indah dan makmur yang
disediakan Allah bagi manusia pertama itu. Sebab jika tidak berada di kebun
yang indah dengan berbagai fasilitas yang serba ada, manusia pertama itu bakal
musnah sebelum sempat berkembang.
5. Namun demikian, secara ekplisit tidak ada ayat yang bercerita bahwa proses
penciptaan itu terjadi di surga. Yang ada ialah, manusia generasi pertama itu
disuruh tinggal di surga setelah proses penciptaan mereka selesai.
6. Al Quran memilki dua istilah untuk menyebut manusia terkait dengan proses
penciptaan. Yaitu al basyar dan al insaan. Al basyar digambarkan sebagai
manusia yang diciptakan langsung dari tanah. Sedangkan al insaan diciptakan
dari bertemunya sperma dan ovum. Meskipun sperma dan ovum itu ternyata juga
berasal dari saripati tanah. Jadi kalau dilacak jauh ke belakang, al basyar
maupun al insaan, dua-duanya berasal dari tanah (thiin) yang disarikan
(sulaalah) lewat proses sangat panjang. Maka, kita sering menjumpai ayat yang
menyebut bahwa manusia ini berasal dari sulaalatin min thiin, dari saripati
tanah.
7. Tapi siapakah al basyar itu? Dan siapa pula al insaan itu? Apa kaitannya
dengan Adam dan Hawa? Hal ini akan kita bahas lebih lanjut pada bagian-bagian
berikutnya.
8. Akan tetapi proses penciptaan yang terjadi pada kedua makhluk itu memiliki
kemiripan. Terutama pada tahapan prosesnya. Bahwa mereka diciptakan secara
bertingkat dan bertahap. Bedanya, al basyar diciptakan lewat mekanisme
bertingkat dari tanah keras menjadi tanah yang kaya unsur hara, dan kemudian
'ditumbuhkan' dari Bumi secara langsung. Ia menjadi manusia dengan proses di
luar rahim manusia. Lewat rahim Bumi. Sedangkan al insaan diciptakan secara
bertingkat dan bertahap lewat rahim al basyar.
9. Proses penciptaan di dalam rahim itu pun kadang disebut Allah secara
parsial. Misalnya, kadang Allah menyebut manusia diciptakan dari air yang hina,
kadang disebut dari nuthfah, kadang disebut berasa dari percampuran setetes air
mani, kadang disebut berasal dari segumpal darah. Tidak masalah. Tidak berarti,
bahan dasarnya langsung dari segumpal darah. Atau, lantas ada yang
membantahnya, dan menyebut sperma sebagai asal-usulnya. Semuanya itu adalah
fase-fase dalam penciptaan manusia di dalam rahim. Sama dengan tidak perlunya
kita mempertentangkan antara tanah keras, tanah lempung, dan tanah gembur.
Semua itu adalah fase-fase dan saling melengkapi.
QS. Al Hajj (22): 5
Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang bangkitan, maka (ketahuilah)
sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah (turab), kemudian dari
setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang
sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan pada kamu dan
Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah
ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan
berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang
diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai
pikun, supaya tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah
diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami
turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan
berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.
---------------------------------
Be a better sports nut! Let your teams follow you with Yahoo Mobile. Try it now.