Semoga informasi berikut bermanfaat untuk saudara2 kita yang menderita 
kanker......amin.
   
  Otje

Bambang Santoso <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  To: exptb <[EMAIL PROTECTED]>, exholland <[EMAIL PROTECTED]>,
itb74 <[EMAIL PROTECTED]>
From: Bambang Santoso <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Thu, 1 Nov 2007 07:30:49 -0700 (PDT)
Subject: [exholland] Fwd: Penyakit kanker sudah tidak berbahaya lagi

          Dari milis sebelah.
  Semoga bermanfaat.
   
  Silakan bila ada feed back.
   
  Bambang Sadaryanto Santoso
  Abu Dhabi

sukar tono <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 
  To: [EMAIL PROTECTED]
From: sukar tono <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Thu, 1 Nov 2007 01:26:08 -0700 (PDT)
Subject: [kmmi-auh] Fw: [alumni73] Re: Fw: Penyakit kanker sudah tidak 
berbahaya lagi

         
  sekedar berbagi informasi dan semoga bermanfaat ... dari milis tetangga

  
 
    ----- Forwarded Message ----
From: Roy Djanegara <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Wednesday, October 31, 2007 6:36:37 PM

  Son,
mudah-mudahan istrimu cepat sembuh deh
ini ada sekedar informasi tambahan dari milis tetangga yang mungkin bermanfaat
Wassallam
Roy



Penyakit Kanker Sudah Tidak Berbahaya Lagi 
Kanker tidak lagi mematikan. Para penderita kanker di Indonesia dapat 
memiliki harapan hidup yang lebih lama dengan ditemukannya tanaman 
"KELADI TIKUS" (Typhonium Flagelliforme/ Rodent Tuber) sebagai tanaman 
obat yang dapat menghentikan dan mengobati berbagai penyakit kanker dan 
berbagai penyakit berat lain. 

Tanaman sejenis talas dengan tinggi maksimal 25 sampai 30 cm ini hanya 
tumbuh di semak yang tidak terkena sinar matahari langsung. "Tanaman 
ini sangat banyak ditemukan di Pulau Jawa," kata Drs.Patoppoi Pasau, 
orang pertama yang menemukan tanaman itu di Indonesia . 

Tanaman obat ini telah diteliti sejak tahun 1995 oleh Prof Dr Chris 
K.H.Teo,Dip Agric (M), BSc Agric (Hons)(M), MS, PhD dari Universiti 
Sains Malaysia dan juga pendiri Cancer Care Penang, Malaysia. Lembaga 

perawatan kanker yang didirikan tahun 1995 itu telah membantu ribuan 
pasien dari Malaysia , Amerika, Inggris , Australia , Selandia Baru, 
Singapura, dan berbagai negara di dunia. 

Di Indonesia, tanaman ini pertama ditemukan oleh Patoppoi di 
Pekalongan, Jawa Tengah. Ketika itu, istri Patoppoi mengidap kanker 
payudara stadium III dan harus dioperasi 14 Januari 1998. Setelah 
kanker ganas tersebut diangkat melalui operasi, istri Patoppoi harus 
menjalani kemoterapi (suntikan kimia untuk membunuh sel, Red) untuk 
menghentikan penyebaran sel-sel kanker tersebut. 
"Sebelum menjalani kemoterapi,dokter mengatakan agar kami 
menyiapkan wig (rambut palsu) karena kemoterapi akan mengakibatkan 
kerontokan rambut, selain kerusakan kulit dan hilangnya nafsu makan," 
jelas Patoppoi. 

Selama mendampingi istrinya menjalani kemoterapi, Patoppoi terus 
berusaha mencari pengobatan alternatif sampai akhirnya dia mendapatkan 
informasi mengenai penggunaan teh Lin Qi di Malaysia untuk mengobati 
kanker. "Saat itu juga saya langsung terbang ke Malaysia untuk membeli 
teh tersebut," 
ujar Patoppoi yang juga ahli biologi. Ketika sedang berada di sebuah 
toko 
obat di Malaysia , secara tidak sengaja dia melihat dan membaca buku 
mengenai pengobatan kanker yang berjudul Cancer, Yet They Live karangan 
Dr Chris K.H. Teo terbitan 1996. 
"Setelah saya baca sekilas, langsung saja saya beli buku tersebut. 
Begitu menemukan buku itu, saya malah tidak jadi membeli teh Lin Qi, 
tapi langsung pulang ke Indonesia ," kenang Patoppoi sambil tersenyum. 
Di buku itulah Patoppoi membaca khasiat typhonium flagelliforme itu. 

Berdasarkan pengetahuannya di bidang biologi, pensiunan pejabat 
Departemen Pertanian ini langsung menyelidiki dan mencari tanaman 
tersebut. Setelah menghubungi beberapa koleganya di berbagai tempat, 
familinya di Pekalongan Jawa Tengah, balas menghubunginya. Ternyata, 
mereka menemukan tanaman itu di sana . Setelah mendapatkan tanaman 
tersebut dan mempelajarinya lagi, Patoppoi menghubungi Dr. Teo di 
Malaysia untuk menanyakan kebenaran tanaman yang ditemukannya itu. 

Selang beberapa hari, Dr Teo menghubungi Patoppoi dan menjelaskan bahwa 

tanaman tersebut memang benar Rodent Tuber. "Dr Teo mengatakan agar 
tidak ragu lagi untuk menggunakannya sebagai obat," 
lanjut Patoppoi. 
Akhirnya, dengan tekad bulat dan do'a untuk kesembuhan, Patoppoi mulai 
memproses tanaman tersebut sesuai dengan langkah-langkah pada buku 
tersebut 
untuk diminum sebagai obat. Kemudian Patoppoi menghubungi putranya, 
Boni Patoppoi di Buduran, Sidoarjo untuk ikut mencarikan tanaman tersebut. 
"Setelah melihat ciri-ciri tanaman tersebut, saya mulai mencari di 
pinggir sungai depan rumah dan langsung saya dapatkan tanaman tersebut tumbuh 
liar di 
pinggir sungai," kata Boni yang mendampingi ayahnya saat itu. 

Selama mengkonsumsi sari tanaman tersebut, isteri Patoppoi mengalami 
penurunan efek samping kemoterapi yang dijalaninya. Rambutnya berhenti 
rontok, kulitnya tidak rusak dan mual-mual hilang. "Bahkan nafsu makan 
ibu saya pun kembali normal," lanjut Boni. 

Setelah tiga bulan meminum obat tersebut, isteri Patoppoi menjalani 
pemeriksaan kankernya. "Hasil pemeriksaan negatif, dan itu sungguh 
mengejutkan kami dan dokter-dokter di Jakarta ," kata Patoppoi. Para 
dokter itu kemudian menanyakan kepada Patoppoi, apa yang diberikan pada 
isterinya. "Malah mereka ragu, apakah mereka telah salah memberikan 
dosis kemoterapi kepada kami," lanjut Patoppoi. 

Setelah diterangkan mengenai kisah tanaman Rodent Tuber, para dokter 
pun mendukung Pengobatan tersebut dan menyarankan agar 
mengembangkannya. Apalagi melihat keadaan isterinya yang tidak 
mengalami efek samping kemoterapi yang sangat keras tersebut. Dan 
pemeriksaan yang seharusnya tiga bulan sekali 
diundur menjadi enam bulan sekali."Tetapi karena sesuatu hal, para 
dokter tersebut tidak mau mendukung secara terang-terangan penggunaan tanaman 
sebagai 
pengobatan alternatif," sambung Boni sambil tertawa. 

Setelah beberapa lama tidak berhubungan, berdasarkan peningkatan 
keadaan isterinya, pada bulan April 1998, Patoppoi kemudian menghubungi Dr.Teo 
melalui fax untukmenginformasik an bahwa tanaman tersebut banyak terdapat di 
Jawa dan 
mengajak Dr. Teo untuk menyebarkan penggunaan tanaman ini di Indonesia . 
Kemudian Dr. Teo langsung membalas fax kami, tetapi mereka tidak tahu 
apa yang harus mereka perbuat, karena jarak yang jauh," sambung Patoppoi. 
Meskipun Patoppoi mengusulkan agar buku mereka diterjemahkan dalam 
bahasa Indonesia dan disebar-luaskan di Indonesia , Dr. Teo menganjurkan 
agar kedua belah pihak bekerja sama dan berkonsentrasi dalam usaha 
nyata membantu penderita kanker di Indonesia .  
Kemudian, pada akhir Januari 2000 saat Jawa Pos mengulas habis mengenai 
meninggalnya Wing Wiryanto, salah satu wartawan handal Jawa 
Pos,Patoppoi sempat tercengang. Data-data rinci mengenai gejala, 
penderitaan, pengobatan yang diulas di Jawa Pos, ternyata sama dengan 
salah satu pengalaman pengobatan penderita kanker usus yang dijelaskan 
di buku tersebut. Dan eksperimen pengobatan 
tersebut berhasil menyembuhkan pasien tersebut. 
"Lalu saya langsung menulis di kolom Pembaca Menulis di Jawa Pos," 
ujar Boni. 
Dan tanggapan yang diterimanya benar-benar diluar dugaan. Dalam sehari, 
bisa sekitar 30 telepon yang masuk. "Sampai saat ini, sudah ada sekitar 300 
orang 
yang datang ke sini," lanjut Boni yang beralamat di Jl. KH. Khamdani, Buduran 
Sidoarjo. 

Pasien pertama yang berhasil adalah penderita Kanker Mulut Rahim 
stadium dini. Setelah diperiksa, dokter mengatakan harus dioperasi. 
Tetapi karena belum memiliki biaya dan sambil menunggu rumahnya laku dijual 
untuk biaya operasi, mereka datang setelah membaca Jawa Pos. 
Setelah diberi tanaman dan cara meminumnya, tidak lama kemudian pasien 
tersebut datang lagi dan melaporkan bahwa dia tidak perlu dioperasi, 
karena hasil pemeriksaan mengatakan negatif. 

Berdasarkan animo masyarakat sekitar yang sangat tinggi, Patoppoi 
berusaha untuk menemui Dr. Teo secara langsung. Atas bantuan Direktur 
Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan, Sampurno, 
Patoppoi dapat menemui Dr. Teo di Penang , Malaysia . Di kantor Pusat 
Cancer Care Penang, Malaysia , Patoppoi mendapat penerangan lebih lanjut 

mengenai riset tanaman yang saat ditemukan memiliki nama Indonesia . 
Ternyata saat Patoppoi mendapat buku "Cancer, Yet They Live" edisi 
revisi tahun 1999, fax yang dikirimnya di masukkan dalam buku tersebut, serta 
pengalaman 
isterinya dalam usahanya berperang melawan kanker. Dari pembicaraan mereka, Dr. 
Teo merekomendasi agar Patoppoi mendirikan 

perwakilan Cancer Care di Jakarta dan Surabaya . Maka secara resmi, 
Patoppoi dan putranya diangkat sebagai perwakilan lembaga sosial Cancer 
Care Indonesia , yang juga disebutkan dalam buletin bulanan Cancer Care, 
yaitu di Jl. Kayu Putih 4 No. 5, Jakarta , telp. 021-4894745, 
dan di Buduran, Sidoarjo. Cancer Care Malaysia telah mengembangkan bentuk 
pengobatan tersebut secara lebih canggih. Mereka telah memproduksi ekstrak 
Keladi Tikus 
dalam bentuk pil dan teh bubuk yang dikombinasikan dengan berbagai 
tananaman lainnya dengan dosis tertentu. "Dosis yang diperlukan tergantung 
penyakit yang diderita," kata Boni. 

Untuk mendapatkan obat tersebut, penderita harus mengisi formulir yang 
menanyakan keadaan dan gejala penderita dan akan dikirimkan melalui fax 

ke Dr. Teo. "Formulir tersebut dapat diisi disini, dan akan kami fax-kan. 
Kemudian Dr. Teo sendiri yang akan mengirimkan resep sekaligus 

obatnya, dengan harga langsung dari Malaysia , sekitar 40-60 Ringgit 
Malaysia ," lanjut Boni. 
"Jadi pasien hanya membayar biaya fax dan obat, kami tidak menarik 
keuntungan, 
malahan untuk yang kurang mampu, Dr.Teo bisa memberikan perpanjangan 
waktu pembayaran. " tambahnya. 

Sebenarnya pengobatan ini juga didukung dan sedang dicoba oleh salah 
satu dokter senior di Surabaya, pada pasiennya yang mengidap kanker 
ginjal. Ada dua pasien yang sedang dirawat dokter yang pernah menjabat 
sebagai direktur salah satu rumah sakit terbesar di Surabaya ini. Pasien 
pertama yang 
mengidap kanker rahim tidak sempat diberi pengobatan dengan keladi tikus, 
karena telah 
ditangani oleh rekan-rekan dokter yang telah memiliki reputasi. Setelah 
menjalani kemoterapi dan radiologi, pasien tersebut mengalami kerontokan 
rambut, kulit rusak dan gatal, dan selalu muntah. 
Tetapi pada pasien kedua yang mengidap kanker ginjal, dokter ini 
menanganinya sendiri dan juga memberikan pil keladi tikus untuk membantu proses 
penyembuhan kemoterapi. 

Pada pasien kedua ini, tidak ditemui berbagai efek yang dialami 
penderita pertama, bahkan pasien tersebut kelihatan normal. Tetapi 
dokter ini menolak untuk diekspos karena 
menurutnya, pengobatan ini belum resmi diteliti di Indonesia . 
Menurutnya, jika rekan-rekannya mengetahui bahwa dia memakai pengobatan 
alternatif, mereka akan memberikan predikat sebagai "ter-kun" atau 
dokter-dukun. 
"Disinilah gap yang terbuka antara pengobatan konvensional dan modern," 
kata dokter tersebut. 

Banyak hal menarik yang dialami Boni selama menerima dan memberikan 
bantuan kepada berbagai pasien. Bahkan ada pecandu berat putaw dan 
sabu-sabu di Surabaya , yang pada akhirnya pecandu tersebut mendapat 
kanker paru-paru. Setelah mendapat vonis kanker paru-paru stadium III, 
pasien tersebut mengkonsumsi pil 
dan teh dari Cancer Care. Hasilnya cukup mengejutkan, karena ternyata 
obat tersebut dapat mengeluarkan racun narkoba dari peredaran darah penderita 
dan 
mengatasi ketergantungan pada narkoba tersebut. 
"Tapi, jika pecandu sudah bisa menetralisir racun dengan keladi tikus, 
dia tidak boleh memakai narkoba lagi, karena pasti akan timbul resistensi. Jadi 
jangan 
seperti kebo, habis mandi berkubang lagi," sambung Boni sambil tertawa. 

Juga ada pengalaman pasien yang meraung-raung kesakitan akibat serangan 
kanker yang menggerogotinya, karena obat penawar rasa sakit sudah tidak 
mempan lagi. Setelah diberi minum sari keladi tikus, beberapa saat 
kemudian pasien tersebut tenang dan tidak lagi merasa kesakitan. 

Menurut data Cancer Care Malaysia , berbagai penyakit yang telah 
disembuhkan adalah berbagai kanker dan penyakit berat seperti kanker 
payudara, paru-paru, usus besar-rectum, 
liver, prostat, ginjal, leher rahim, tenggorokan, tulang, otak, limpa, 
leukemia, empedu, pankreas, 
dan hepatitis. 
Jadi diharapkan agar hasil penelitian yang menghabiskan milyaran 
Ringgit 
Malaysia selama 5 tahun 
dapat benar-benar berguna bagi dunia kesehatan. 

Bagi teman-teman yang memerlukan informasi lebih lanjut sehubungan 
dengan artikel "Obat Kanker" bisa menghubungi perwakilan lembaga sosial 

"Cancer Care Indonesia " beralamat di Jl. Kayu Putih 4 no.5 Jakarta , 
telp : 021-4894745 



__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

--
Milis alumni smp11 jakarta lulusan tahun 1973

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com

--
Milis alumni smp11 jakarta lulusan tahun 1973






__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com   



  __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

                         

       
---------------------------------
Be a better pen pal. Text or chat with friends inside Yahoo! Mail. See how.

Kirim email ke