MAKSIAT LEBIH BAIK KETIMBANG TAAT, KALAU...
Maksiat yang melahirkan sikap hina dina di hadapan Allah
itu lebih baik ketimbang ketaatan kepada Allah
yang melahirkan sikap merasa mulia dan sombong.
Sebesar apapun kemaksiatan dan dosa seseorang, jika memasuki pintu taubat,
Allah tetap menyambutnya dengan Pintu Ampunan yang agung, bahkan dengan
kegembiraanNya yang Maha dahsyat kepadamu.
Karena sebesar langit dan bumi ini, jika anda penuhi dengan dosa-dosa anda,
dikalikan lagi dengan lipatan jumlah penghuni planet ini, kelipatan dosa itu,
sesungguhnya ampunan Allah masih lebih besar dan lebih agung lagi.
Oleh sebab itu Ibnu Athaillah membesarkan hati orang yang telah berbuat dosa
agar tidak putus asa terhadap ampunan Allah, bahkan orang yang berbuat dosa
namun bertobat dengan penuh rasa hina dina di hadapan Allah itu dinilai lebih
baik dibanding orang yang ahli ibadah yang merasa hebat, merasa suci, merasa
paling mulia dan merasa sombong dengan ibadahnya.
Mengapa? Karena ada dosa yang lebih tinggi lagi dibanding maksiat, yaitu
dosanya orang takjub atau kagum pada diri sendiri. Bahkan Rasul saw bersabda:
Jikalau kalian tak pernah berbuat dosa, niscaya yang paling saya takutkan
pada kalian adalah yang lebih dahsyat lagi, yaitu ujub (kagum pada diri
sendiri).
Bahkan betapa banyak orang yang dulunya ahli maksiat lalu diangkat derajatnya
menjadi manusia mulia di hadapan Allah swt. Begitu juga banyak ahli ibadah
tetapi berakhir hina di hadapanNya gara-gara ia sombong dan merasa lebih
dibanding yang lainnya.
Orang yang beramar maruf nahi mungkar, apakah ia aktivis muslim, dai,
ustad, kiayi, ulama, mubaligh. Ketika mereka menyerukan amar maruf nahi
mungkar, lantas dirinya merasa lebih baik dari yang lain, adalah wujud
kesombongan yang hina pada dirinya.
Dibanding seorang preman yang bertobat, pelacur yang bertobat, maling yang
bertobat dengan kerendahan jiwa di hadapan Allah, mereka yang merasa paling
Islami itu justru menjadi paling hina, jika ia tidak segera bertobat.
Nabi Adam as, mendapatkan kemuliaan yang luar biasa sebagai Nabi, Rasul,
Khalifah, Abul Basyar, justru ketika sudah turun di muka bumi, karena tindak
dosanya di surga. Namun Nabi Adam bertobat dalam remuk redam jiwanya dan hina
dina hatinya di depan Allah, justru Allah mengangkat dan menyempurnakan
marifatnya ketika di dunia, bukan ketika di surga dulu.
Nabi Adam as menjadi Insan Kamil ketika di dunia, bukan ketika di surga. Oleh
sebab itu terkadang Allah mentakdirkan maksiat pada seorang hamba dalam rangka
agar si hamba lebih luhur dan dekat kepada Allah. Wacana ini dilontarkan agar
manusia tidak putus asa atas masa lalu dan nodanya di masa lampau, siapa tahu
malah membuat dirinya naik derajat.
Wacana ini pula tidak bisa dipandang dengan nafsu dan hasrat. Misalnya,
Kalau begitu maksiat saja, siapa tahu kita malah naik derajat... kalimat ini
adalah kalimat yang muncul dari hawa nafsu!
Wacana mengenai naiknya derajat paska maksiat, hanya untuk orang yang sudah
terlanjur maksiat agar tidak putus asa dan tetap menjaga rasa baik sangka
kepada Allah swt (husnudzon).
Apalagi di akhir zaman ini, jika disurvei membuktikan bahwa orang yang
kembali kepada Allah dengan taubatnya, biasanya didahului oleh kehidupan yang
hancur-hancuran, maksiat yang ternoda.
Akhir zaman ini juga banyak dibuktikan, khususnya di wilayah kota, betapa
banyak orang yang merasa bangga diri dengan ahli ibadahnya, ketekunan dan
taatnya, diam-diam ia ujub dan sombong, merasa lebih dibanding lainnya.
Sifat hina dina adalah wujud kehambaan kita. Manusia akan sulit mengakui
kehambaannya manakala ia merasa mulia, merasa sombong, ujub, apalagi merasa
hebat dibanding yang lainnya.
Karena itu rasa hina dina, apakah karena diakibatkan oleh kemaksiatan atau
seseorang mampu menjaga rasa hina dina di hadapan Allah, adalah kunci
terbukanya Pintu-pintu Allah swt, karena kesadaran seperti itu, membuat
seseorang lebih mudah fana di hadapanNya.
---------------------------------
Be a better pen pal. Text or chat with friends inside Yahoo! Mail. See how.