Training Akbar ..... ??? Ya.... PUASA !!!
  

  Siapa pun juga orangnya selama masih hidup di dunia pasti akan terus menerus, 
silih berganti mengalami berbagai persoalan / masalah.
  

  Masalahnya adalah apakan masalah itu menjadi masalah dalam hidup kita atau 
tidak ? Bingung ya...? Podho !!!
  

  Kadar ringan atau beratnya masalah dalam hal apa pun bagi setiap orang 
sebenarnya tergantung derajat ketaqwaan orang tersebut. Dalam bahasa umum, 
ketaqwaan dapat diartikan sebagai kesadaran atau awareness. Ketaqwaan inilah 
yang merupakan kunci pengendalian diri. Pengendalian diri dalam menjaga 
hubungan baik kita secara vertikal dalam arti menjaga kehambaan kita dihadapan 
Allah, menyadari bahwa sebagi hamba berarti harus ikhlas dalam melakukan apa 
pun yang dikehendaki Tuhan kita baik dalam aspek syariat maupun hakikatnya yang 
pada akhirnya akan membuahkan sesuatu yang “manis” dalam hubungan horisontal 
yaitu hubungan dengan sesama makhluk secara keseluruhan.
  

  Semakin baik pengendalian diri seseorang, berarti semakin baik pula kualitas 
jati diri seseorang, berarti juga semakin baik ketaqwaan seseorang itu. Dapat 
juga dibalik bahwa semakin bertaqwa berarti semakin berkualitas jati diri 
seseorang yang berarti juga semakin baik pengendalian dirinya.
  

  Nah, untuk menuju ke arah ketaqwaan itu hambatan terbesar adalah dari hawa 
nafsu yaitu dorongan-dorongan/hasrat dari dalam diri untuk kepentingan diri 
yang secara ekstrem bisa dikatakan segala sesuatu apa pun itu yang tidak 
ditujukan untuk Allah.
  

  Q.S. Al Mu’minuun (23:71) : 
  Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit 
dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah 
mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al Quran) mereka tetapi mereka berpaling 
dari kebanggaan itu.
  

  Dari pengajian yang saya ikuti, asuhan KH. M. Luqman Hakim, MA. 
(www.sufinews.com), hawa nafsu sifatnya liar dan tidak mau dibebani, dia 
mempunyai tiga perangkat, yaitu : hayawaniyah, sabuiyah dan syahwiyah. Secara 
singkat dalam bahasa saya yang awam dapat dijelaskan : 
  

  Hayawaniyah, dorongan yang bersifat kehewanan yaitu maunya hanya makan-minum, 
tidur dan ngeseks.
  

  Sabuiyah, dorongan yang bersifat buas, contoh sederhananya adalah misal kita 
mendengar berita bahwa orang yang kurang kita sukai mendapat kesusahan dan 
dalam hati kita berkata, “Rasain !!!”, maka hal itu sudah termasuk kategori 
sabuiyah.
  

  Syahwiyah, dorongan pemanjaan diri apa pun bentuknya. Contoh sederhana adalah 
makan terasa enak di lidah trus kita tambah lagi itu sudah termasuh syahwiyah. 
Makanya industri pemanjaan diri sangat laris manis di dunia ini.
  

  Salah satu metode pelatihan untuk peningkatan ketaqwaan ini yang bisa kita 
terapkan adalah melalui PUASA. Puasa ini saya sebut sebagai training akbar, 
sebab metodenya langsung dari ALLAH, trainernya juga ALLAH, gratis lagi.... 
tinggal kitanya yang mau melaksanakan atau tidak.
  

  Q.S. Al Baqarah (2:183) : 
  Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana 
diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.
  

  Nah... jelas kan, puasa itu targetnya taqwa, tetapi puasa yang bagaimana agar 
bisa meningkatkan derajat taqwa ?
  

  Begini ni...... menurut pengalaman saya yang faqir ini, setelah mengalami 
kesekian kali puasa baik yang wajib (romadhon) maupun yang tidak wajib, puasa 
harus benar-benar sebagai proses riyadoh / tirakat / disiplin ruhani yang 
ketat, baru efek peningkatan ketaqwaan bisa kita rasakan. Tentunya sebagai 
sebuah proses, mestinya semakin sering kita berpuasa, semakin signifikan pula 
peningkatan ketaqwaan yang terjadi.
  

  Bagi santri-santri PETA - Tulungagung, bila ada dawuh untuk berpuasa, 
biasanya :
  1. Niatnya, ya... Lillahi ta’ala,
  2. Selama puasa, secara fisik makannya yang tidak bernyawa / vegetarian,
  3. Selama puasa, secara batin amalan dzikir rutinnya diperbanyak.
  

  Yang pertama ya... harus Lillahita’ala, lha kita ini kan hamba, maka 
segalanya ya harus untuk tuhan kita yaitu ALLAH. Terlebih ibadah puasa kan 
memang untuk Allah sebagaimana dalam Hadis Qudsi.
  

  Dari segi makanan yang masuk ke tubuh, dengan menghindari makanan bernyawa 
ternyata efeknya yang pertama adalah lemas karena belum terbiasa. Yang kedua 
tentu saja setelah sekian hari melaksanakan akan terjadi proses pembersihan 
secara fisik, badan terasa lebih ringan dan sehat. Qolbu juga terasa lebih 
hening, lebih diam karena tarikan hawa nafsu pada qolbu sangat jauh berkurang. 
Dengan mengurangi makan bernyawa maka tarikan hasrat hayawaniyah, sabuiyah dan 
syahwiyah sungguh sangat jauh berkurang yang menyebabkan panca indra tidak 
aneh-aneh tuntutannya dan pikiran pun lebih terkendali. Kondisi khusyuk lebih 
cepat tercapai, lebih mudah melakukan ketaatan dan amal sholih.
  

  Dari segi dzikir rutin yang diperbanyak, fungsinya melatih ingatan kepada 
Allah, menyibukkan diri dengan berdzikir berarti mengurangi keliaran pikiran, 
menerangi qolbu agar lebih siap menerima limpahan cahaya ilahi. Syaikh Ibnu 
Athaillah mengatakan bahwa salah satu fungsi dzikir adalah menghilangkan 
endapan berlebih dalam tubuh yang diakibatkan oleh makan berlebihan dan 
mengkonsumsi barang haram. Dzikir laksana api yang bekerja secara aktif dan 
memberikan pengaruh. Jika di dalam rumah itu bertemu dengan kayu bakar, dzikir 
itu akan segera membakar. Jika rumah itu gelap, ia akan menjadi cahaya penerang 
dan jika rumah itu memang memiliki cahaya, ia akan menjadi cahaya di atas 
cahaya.
  

  Jangan ragu atau bimbang walau pun dzikir belum bisa khusyuk, mungkin saat 
itu memang kita belum ditakdirkan khusyuk, begitu seharusnya bahasa kesadaran 
kita. Syaikh Ibn Athaillah dalam Al-Hikam mengatakan : Jangan tinggalkan dzikir 
lantaran tidak bisa berkonsentrasi kepada Allah ketika berdzikir, karena 
kelalaianmu (terhadap Allah) ketika tidak berdzikir lebih buruk dari pada 
kelalaianmu ketika berdzikir. Mudah-mudahan Allah berkenan mengangkatmu dari 
dzikir penuh kelalaian menuju dzikir penuh kesadaran, dan dari dzikir penuh 
kesadaran menuju dzikir yang disemangati kehadiran-Nya, dan dari dzikir yang 
disemangati kehadiran-Nya menuju dzikir yang yang meniadakan segala selain-Nya.
  

  Nah... bila puasa yang minimalnya seperti di atas kita lakukan paling tidak 
selama 10 hari, insya Allah kita akan merasakan sesuatu yang berubah dalam 
qolbu kita, perubahan ke arah yang lebih baik, kebarokahan dalam segala aspek 
kehidupan kita. Tinggal bagaimana perubahan positif tersebut dapat dijaga dan 
lebih ditingkatkan lagi.
  

  Dengan ketaqwaan yang semakin hari semakin meningkat, insya Allah apa pun 
masalah yang kita hadapi bukan lagi menjadi masalah yang memberatkan hati 
melainkan menjadi ajang pengejawantahan / aplikasi ketaqwaan kita. Dari segi 
aspek batin atau dimensi hakikat, kita harus yakin bahwa apa pun juga yang 
terjadi dalam kehidupan kita detik demi detiknya adalah sudah merupakan takdir 
dari Allah bagi kita yang harus kita sikapi dengan sabar-syukur-ridho. 
Sedangkan dari segi aspek lahir atau dimensi syariat, dalam segala hal harus 
kita pikirkan, rencanakan, strategikan, harus dipelajari dan diusahakan secara 
optimal agar mencapai hasil yang maksimal. 
  

  Seberat apa pun permasalahan kita, biasanya hanya sebatas hubungan kita 
dengan keluarga, teman, tetangga, pekerjaan yang notabene adalah urusan dunia. 
Sungguh tidak bisa diperbandingkan dengan Rasulullah Muhammad SAW yang 
mengurusi dan memikirkan seluruh umatnya dalam skala dunia-akhirat. Jadi.... 
GITU SAJA KOK REPOT !!! (saya kutip dari ucapan Gus DUR yang sungguh sangat 
dalam maknanya).
  

  Bukankah PUASA memang media pelatihan yang agung dari yang maha agung ?
  


       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

Kirim email ke