Tuhan Tidak Murka
 
 
 Kondisi yang akhir-akhir ini menyelimuti negeri kita tercinta Indonesia yang 
bagaimana pun keadaannya tidak bisa kita ingkari bahwa kita lahir di bumi ini, 
makan minum dari hasil bumi ini dan mungkin nanti meninggal juga dikubur di 
bumi ini. Semoga ke depan, dari bumi Indonesia inilah terjadinya kebangkitan 
dan kejayaan Islam yang sebenar-benarnya Islam. Aamiin.
 
 
 Seandainya skala waktu kehidupan ini hanya dunia, seandainya hidup kita ini 
sekadar sepanjang jatah usia kita, maka yang rumahnya kena banjir dan longsor 
adalah para koruptor, pengkhianat-pengkhianat amanat rakyat, para pendusta 
masyarakat, serta orang-orang yang ke­lakuannya menyakiti ’hati’ Tuhan.
 
 
 Tapi, tidak demikian yang terjadi. Banyak orang kecil, yang selama ini 
hidupnya sengsara, sekarang disiksa banjir dan diusir longsor. Sebaliknya, 
lebih banyak lagi pencoleng dan penjahat politik ekonomi kenegaraan yang tidak 
tersentuh musibah.
 
 
 Untung ada ilmu hikmah dari Allah. Seorang anak fakir dengan susah payah 
bekerja sejak kecil untuk membiayai sekolahnya sendiri, sampai akhirnya bukan 
hanya menjadi sarjana, bahkan sukses jadi doktor. Menjelang hari wisuda 
kedoktorannya sekaligus men­jelang hari pernikahannya, Tuhan mengambil 
nyawanya. Keluarganya nangis nggero-nggero, tetapi tangis mereka mungkin segera 
mereda jika telinga rohani mereka mendengar kata-kata Tuhan : "Anakmu itu hamba 
teladan di pandangan mata-KU. Ia lulus cumlaude, jadi Indonesia yang kotor 
tidak berhak mengotorinya sedikitpun. Maka, KU­ambil ia untuk menjadi salah 
satu kekasih-KU...".
 
 
 Kaya tidak berarti jaya di mata Tuhan atau di skala dunia akhirat. Miskin 
tidak berarti kehinaan. Selamat dari longsor dan banjir tidak sama dengan 
diselamatkan Tuhan. Yang menderita karena banjir justru mungkin sedang ditagih 
utangnya oleh Allah, supaya halal bihalal dengan Tuhan, sehingga kalau mereka 
mengikhlaskan keadaan karena banjir itu, maka karamah dan surga Allah 
menantinya.
 
 
 Sementara, yang seakan-akan selamat, oleh Allah justru dibiarkan menumpuk 
utang-utang kepada-Nya. Allah melakukan istidraj, mbombong, nglulu. Maka, 
manusia jengkel; orang yang diharapkan njlungup nang sumur karena pekerjaannya 
nglarani atine wong cilik malah leha-leha dengan jas dan dasinya. Yang 
diharapkan selamat di dunia malah oleh Tuhan diberi ujian untuk membuka derajat 
tinggi di surga­Nya kelak.
 
 
 Kesimpulannya sederhana. Yang tidak terkena banjir dan langsor jangan GR dan 
takabur. Yang terkena jangan merasa menderita. Jangan sakiti ’hati’ Tuhan 
dengan ngersulo atas kehendak-Nya.
 
 
 Tuhan tidak sedang murka kepada kita. Tuhan terlalu besar dan agung untuk 
terganggu oleh pengkhianatan kita.
 
 
 Kalau Tuhan murka, alangkah sepelenya kadar kemurkaannya: sekadar banjir, 
longsor, api membakar di sejumlah tempat. Ukuran kesalahan kita semua ini, dari 
sudut akidah dan akhlak di wilayah-wilayah politik ekonomi kebudayaan, sama 
sekali tidak lebih rendah dibanding kedurhakaan kaum Nuh AS yang kemudian 
ditelan oleh air bah raksasa. Jadi, kalau Tuhan murka, Jakarta seluruhnya 
ditelan bumi supaya kaum intelektual berpikir tentang ibu kota baru Indonesia. 
Jawa Timur dilindas air bah merata dan sisanya dihanguskan oleh api supaya 
penduduknya mulai belajar berpikir adil dan rendah hati.
 
 
 Penderitaan yang kita alami seminggu terakhir ini sama sekali belum sepadan 
sebagai imbalan bagi kebusukan hati, kepincangan akal, dan kebobrokan moral 
yang kita selenggarakan beramai-ramai beberapa tahun terakhir ini. Itu pun 
siapa yang sungguh-sungguh menderita ?
 
 
 Lihatlah ke jalanan, mal-mal, plaza, siaran TV, berita koran... hampir 
semuanya masih senang-senang saja, masih cengengesan dan pencilakan. Maka, 
silakan meneliti sendiri apa sebenarnya yang engkau alami hari-hari ini. Baik 
engkau sebagai individu,engkau sebagai anggota masyarakat, engkau sebagai 
warganegara, engkau sekeluarga, engkau sebagai hamba Allah. Apakah Tuhan sedang 
memberimu peringatan, ujian, ataukah hukuman, atau semua unsur itu ada 
sekaligus dalam pengalaman kita. Syukur kalau engkau diperingatkan, berarti 
masih di­sayang dan dibukakan kemungkinan untuk selamat. Silakan teliti mana 
reformasimu ? Sudan empat tahun, ternyata bohong ya. Mana demokrasimu. Mana 
kinerja amanah wakil-wakilmu. Ulangi lagi kutukan-kutukanmu dan sesekali 
ucapkan kepada dirimu sendiri : jangan-jangan kau kandung Suharto di sel-sel. 
darahmu. Jangan-jangan kau bekerja di perusahaan hasil money laundering-nya 
Cendana. Siang hari kau teriak-teriak demo, sambil bawa handphone dan fasilitas
 uang cipratan hasil penjualan senjata internasional yang memerlukan pasar 
konflik di Timur Tengah dan Indonesia Raya dengan kamuflase demokratisasi, HAM, 
dan otonomi daerah.
 
 
 Kalau engkau dan para aktivis pahlawan-pahlawanmu itu berteriak : "Adili 
Suharto!", "Berantas KKN!" dan seterusnya, apakah karena engkau berpikir hukum, 
ataukah karena diam-diam engkau menyimpan ucapan, "Mestinya aku dong yang kaya 
raya seperti Suharto.... Bukankah pemerintah dan wakil-wakilmu sekarang 
melakukan hal yang sama persis, bahkan lebih parah, dibanding pelaku-pelaku era 
yang mereka kutuk?
 
 
 Sebagian dari kita mungkin diuji oleh Allah. Kalau diuji, berarti disediakan 
derajat yang lebih tinggi. Atau mungkin di banyak konteks, kita memang dihukum 
oleh Tuhan. Di­adzab.
 
 
 Tetapi, adakah orang yang keberatan dengan adzab Allah ? Bukankah engkau masih 
terus bergembira ria dengan proyek-proyek dulinan, produk-produk picisan 
main-main, tayangan-tayangan senang-senang, pemuatan gambar dan berita 
celelekan ?
 
 
 Tetapi, sementara ini bergembiralah karena rahmat Tuhan memang berbeda dengan 
barokah-Nya. Rahmat itu universal. Silakan maling dan korupsi, Anda tidak 
dihalangi oleh Allah untuk tetap merasakan enaknya makan sate, nikmatnya 
memangku hostes dan nyamannya mengambil uang rakyat di kas kantor. Rahmat itu 
diperuntukkan bagi siapa saja, kiai, maling, pengojek, pencopet, mubalig, 
pelacur. Siapa pun.
 
 
 Barokah tidak demikian. Silakan, sukses kaya raya berkuasa di muka bumi dan 
saya tidak akan mengatakan kepada Anda "belum tentu hidup Anda barokah" karena 
Anda toh tidak membutuhkan barokah. Bahkan, Anda belum tentu butuh Tuhan. Ngaku 
saja : kalau Tuhan membebaskan Anda dari shalat, puasa, berbuat baik dan 
seterusnya, Anda senang kan ? Shalat dan ibadah itu tidak enak bagi kebanyakan 
kita. Maka, kalau Tuhan kasih tulisan di langit "Mulai hari ini Kubebaskan 
kalian dari kewajiban shalat ! ", kita akan bersorak-sorai dan pesta-pora.
 
 
 Bahkan, kalau Tuhan tidak ada, malaikat tidak ada, surga tidak ada, Nabi dan 
Agama tidak ada asalkan Anda punya uang banyak : Anda mau kan?
 
 
 Tolong sebut beberapa jenis perilaku pemerintah, wakil rakyat, dan masyarakat 
kita dewasa ini yang bisa dijadikan Allah alasan untuk menyelamatkan kita. 
Bahkan, persyaratan untuk hancur lebur sudah sempurna kita miliki. Al'afwu 
minkum.
 
 
 
       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.

Kirim email ke