Kumohon kelembutan-Mu Yaa Allah
Pagi tadi sekitar jam 08.30, aku melihat peristiwa yang memilukan hati. Aku
merasakan betul apa yang sedang dialami oleh seorang Bapak penjual kue-kue
basah. Dia yang sejak pagi berangkat dari rumah dengan niat berusaha menafkahi
keluarga harus mengalami insiden yang mungkin berat baginya. Dengan sepeda
jengki tuanya, diikatkannya dua lapis tenong (tempat kue) persegi empat di
bagian belakang sepedanya. Diisinya tenong itu dengan bermacam kue basah
seperti lumpia, risoles, lapis, lumpur dan sejenisnya. Dijajakannya kue-kue itu
di sepanjang jalan yang dilalui, keluar masuk di berbagai perkantoran dengan
mengharap keuntungan yang bisa dibawa pulang untuk keluarga tercinta di mana
dia sebagai tulang punggungnya.
Ah... tetapi entah kenapa, pagi ini dia harus mengalami suatu kecelakaan.
Mungkin karena keteledorannya atau mungkin juga karena keangkuhan para pemakai
jalan yang semena-mena. Ketika dia menyeberang dari arah Timur ke Barat dengan
menuntun sepedanya di jalan Basuki Rahmat, ada satu kendaraan yang melanggarnya
sehinga sepedanya terguling, velg rodanya bengkok dan tenong tempat kue terbuka
menyebarkan isinya tak tentu arah.
Hari masih pagi, pelanggan pun mungkin masih menanti, tapi apa daya diri jika
memang telah terjadi. Dari jauh terlihat wajah cemasnya, terdengar degup
jantungnya dan tergambar ruwet pikirnya. Semoga Engkau mudahkan baginya Yaa
Allah.
Itulah cermin kehidupan. Pada segala sesuatu semestinya aku bisa bercermin.
Kejadian itu juga merupakan cermin yang memantulkan bayangang diri, tentang
diriku yang masih jauh dari syukur, jauh dari sabar dan jauh dari ridho. Dalam
skala dunia, sungguh masih sangat beruntung diriku yang tidak harus mengayuh
pedal sepeda dalam bekerja, yang tidak usah berharap-harap cemas berapa jumlah
uang yang bisa kubawa pulang dan yang tidak usah seharian berada di jalanan
yang panas, berdebu dan penuh asap. Tetapi dalam skala akhirat mungkin dia jauh
lebih mulia dari diriku. Bisa jadi keyakinannya tentang Allah telah menancap
demikian kuat dalam hatinya hingga tak pernah diresahkannya tentang rejekinya,
tak pernah diturutinya lelahnya badan dalam bekerja sebagai penggugur dosa dan
tak pernah dikeluhkannya berbagai kesulitan yang dihadapinya.
Sungguh banyak di sana, para tulang punggung keluarga terutama kaum laki-laki
yang menghadapi situasi sulit dalam pekerjaannya telah kehilangan kelembutan
kepada keluarga. Kondisi pekerjaan yang penuh tekanan, kelelahan fisik dalam
menuntaskan pekerjaan dan beratnya tanggung jawab yang dipikul dalam pekerjaan,
sering menjadi alasan pembenar hilangnya kelembutan bagi keluarga, sering
menjadikan mereka menuntut lebih dari keluarga dan lebih mudah dalam mengumbar
amarah. Papa ini capek pulang kerja !!!, Papa ini kerja buat kalian !!! dan
sebagainya. Kalau memang tidak mau capek karena bekerja untuk menafkahi
keluarga, kenapa harus berkeluarga ? Kenapa anak di rumah menjadi sasaran
kemarahan dan kenapa pula istri di rumah jadi sasaran cercaan ?
Karenanya Yaa Allah anugerahkanlah kelembutanMu kepada kami semua, kepada
para Ayah yang bertanggung jawab menafkahi keluarga, kepada para Ibu yang
jihadnya mengurus keluarga, kepada para Guru yang mendidik muridnya, kepada
para BOS yang memperkerjakan karyawannya, kepada para Pimpinan yang
menggembalakan anak buahnya, agar situasi sesulit apa pun yang harus kami
hadapi tetap dapat kami sikapi dengan kelembutan hati, agar kami selalu sabar,
syukur dan ridho. Aamiin.
---------------------------------
Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.