Relativitas sebuah kesepakatan 
  
  
Mengapa 'rumah' disebut rumah bukan 'meja' , apakah salah seseorang
menyebut 'bangku' dengan 'sepatu', siapa yang pertama kali menetapkan hal
ini ? kebenaran terkadang berasal dari sebuah kesepakatan, Jika ada yang
bernama Abdul akan tetapi semua orang bersepakat memanggil dia 'Bedul' maka
kata 'Bedul bisa berubah jadi sebuah kebenaran (identitas baru) dan hal ini
sering terjadi pada masyarakat kita. Tetapi apakah kesepakatan terhadap
kedustaan bisa berubah jadi kebenaran ?  
  
Pada hadist mutawatir para ulama bersepakat mengenai keabsahannya dengan
asumsi tidak mungkin para sahabat bersepakat berbohong walaupun pembuktian
terhadap kejujuran mereka juga merupakan hasil dari sebuah kesepakatan
(riwayat), karena hanya Allah sajalah yang paling mengetahui realitas
kebenaran yang sesungguhnya. Didalam masyarakat kita nilai-nilai kebenaran
yang berasal dari sebuah kesepakatan yang terbentuk secara tidak sengaja
sering kita jumpai seperti status ketokohan atau ke ulamaan seseorang yang
hanya karena sering muncul ditelevisi dengan memakai atribut yang dia ingin
dia menjadi apa maka jadilah ia seperti yang diinginkannya. (maaf hanya
sebagai contoh yaitu dorce dengan wig nya , dedy cobusyer dengan rambut
kaisar ming nya dan Aa Gym dengan sorbannya). Apakah citra yang tampak
adalah sebuah kebenaran ? belum tentu. 
  
Sebuah kebenaran yang berasal dari kesepakatan hanya bisa di rubah dengan
kesepakatan baru. Secara acak perubahan-perubahan ini sering dipengaruhi
oleh informasi, Sebuah hadist hasan bisa berubah mejadi shahih jika
didapati jalur periwayatan baru yang lebih terpercaya atau periwayatan lama
yang lebih perkuat oleh informasi baru baik mengenai periwayat atau yang
diriwayatkan (matan hadist), sehingga secara sederhana bisa disimpulkan
bahwa kebenaran melalui sebuah kesepakatan belumlah mencapai titik final. 
  
Islam tidak mengenal kesepakatan dalam pencitraan fisik para nabi, seperti
kita temui pada agama lain. Kesepakatan seperti ini akan sangat rentan
mengubah persepsi seseorang, (maaf sebagai contoh bagaimana jika patung
yesus dibuat botak dan duduk bersila atau patung budha rambutnya tergerai
dan tidak disanggul )  hal ini tentu akan menimbulkan keresahan pada
pemeluknya karena opini mereka telah di bentuk oleh kesepakatan yang mereka
sendiri tidak pernah tau kapan dimulainya mengenai kondisi maupun  posisi
fisik tuhannya, dan hal ini berdampak pada objek fikir beribadah..... Lalu
jika kesepakatan bisa di rubah mungkinkah 'rumah' bisa jadi 'meja' ? 
  
  
Wassallam 
  
David 
  
  
----------------------------------------------------------------------------
 
Sekiranya berkenan memberikan masukan, silakan kunjungi 
http://vidyan-dariketiadaan.blogspot.com 
-----------------------------------------------------------------------------

---------------------------------------------
Free POP3 Email from www.Gawab.com 
Sign up NOW and get your account @gawab.com!!

Kirim email ke