Membalik Sisi Gelap Dalam Diri

Manusia di ciptakan dengan memiliki dua potensi diri yaitu kebaikan dan 
keburukan, penyemaian bibit potensi tersebut kita lakukan setiap hari melalui 
adaptasi diri dan lingkungan yang kemudian membentuk suatu kebiasaan oleh sebab 
itu orang yang paling jahatpun pasti mempunyai nilai kebaikan dalam dirinya. 
Nilai kebaikan dan keburukan sering bertambah pada diri seseorang tanpa 
disadari seiring dengan volume aktifitas orang tersebut. Sensasi rasa yang 
dimunculkan ketika berbuat baik maupun berbuat tidak baik hanya terjadi sesaat 
sampai kita meningkatkan volumenya. sebagai contoh ketika kita terbiasa 
bersedekah dengan uang lima ribu rupiah dan kita tingkatkan menjadi lima puluh 
ribu rupiah maka ada rasa yang timbul didada tanpa kita sadari namun semakin 
sering kiita  bersedekah dengan nilai tersebut rasa tadi semakin hilang dan 
akan muncul kembali ketika kita tambahkan nilainya. Demikian juga halnya dengan 
keburukan, orang yang pertama kali menerima suap pasti akan mengalami rasa yang 
tidak nyaman namun ketika suap telah membudaya maka rasa tadi pun menjadi 
hilang secara perlahan 

Ketika Allah menurunkan peringatan lewat bencana maka hati kita merasa 
ketakutan, namun ketika bencana terus menerus terjadi, sepertinya wajah 
ketakutanpun  mulai memudar, dan inilah bencana yang sesungguhnya dimana Allah 
mencabut rasa takut dihati kita terhadap laknatnya dan mencabut rasa syukur 
dihati kita terhadap nikmatnya. Sisi gelap diri menjadi lebih dominan tanpa 
kita sadari walaupun setiap hari kita sibuk membolak-balik ayat-ayat suci. 
Setinggi apapun ilmu yang kita miliki baik ilmu Al Qur'an maupun hadist hanya 
akan berujung pada pengindetifikasian masalah dan bukan pada penyelesaian 
karena penyelesaian membutuhkan tindakan dari dalam diri yang harus dilakukan 
dengan secara sadar dan contoh yang sering saya kemukakan adalah pecandu rokok, 
dimana pengetahuan mengenai bahaya rokok sudah sering di publikasikan 
dimana-mana dan para dokterpun sering melontarkan kiat agar bisa berhenti 
merokok tapi apakah masalah selesai ? tidak selama sang perokok belum bergerak 
membalik sisi gelap diri nya secara sadar maka selama itupula semuanya hanya 
sekedar wacana ,tidak lebih.

Di negeri kita para Da'i atau penceramah naik turun silih berganti, 
pertanyaannya adalah apa yang menyebabkan hal itu bisa terjadi , apakah 
kualitas mereka menurun atau materi yang mereka sampaikan sudah tidak menarik ? 
Pertanyaan selanjutnya adalah apakah ada pengaruhnya khutbah jumat yang telah 
kita dengarkan pada ahlak keseharian kita, bukankah kita telah mendengarkan 
khutbah juma'at hampir 50 kali dalam setahun belum lagi diluar itu, lalu apa 
amal apa yang membedakan ahlak kita dari tahun kemaren, bukankah ilmu yang kita 
miliki telah bertambah, bukankah nasehat yang telah kita dengar sangat banyak, 
bukankah buku yang kita baca juga telah berlimpah. Harus kita akui bahwa mata, 
telinga bahkan lidah kita mempunyai titik jenuh yang ketika sudah sampai pada 
puncaknya maka akan terjadi penolakan tubuh, dan secara fitrah tubuh akan 
mencari yang baru, yang enak dilihat, yang enak didengar bahkan yang enak untuk 
dirasakan, kecuali hati. Maka melihat, mendengar dan rasakanlah dengan hati. 

"maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati 
yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu 
mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi 
yang buta, ialah hati yang di dalam dada. " (QS 22:46)


Wassallam 


David

Kirim email ke