Seberapa jauh kita kenal Allah ?
Q.S. 7:143.
Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah
Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa:
"Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada
Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi
lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala)
niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung
itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka
setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada
Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman".
Pada ayat tersebut di atas Nabi Musa diperingatkan Allah - Kamu sekali-kali
tidak sanggup melihatKu.
Karena Nabi Musa dengan ke-aku-annya, dengan kehendaknya sendiri meminta
melihat Allah, maka sekali-kali tidak akan pernah dan tidak akan sanggup
melihat Allah, kecuali bila Allah sendiri yang berkehendak. Melihat Allah
dengan Allah, bukan dengan diri kita sendiri, bukan dengan ego kita sendiri,
apalagi dengan ketamakan, kesombongan, kedengkian, kezhaliman, kefasikan,
kemunafikan dan kekufuran kita.
Hakikat penciptaan semesta ini adalah CINTA. Dalam Hadits Qudsi, Allah
berfirman : "AKU adalah perbendaharaan tersembunyi dan AKU sangat cinta untuk
dikenal".
Q.S. 51:56.
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah
kepadaKu.
Allah sangat mencintai hamba yang mencintaiNya, mengenalNya, yang beribadah
kepadaNya. Bagaimana bisa mencintaiNya jika tidak mengenalNya. Bagaimana bisa
mengenalNya jika tidak pernah beribadah sesuai aturanNya.
Apakah ibadah hanya untuk menghindari neraka dan menggapai surga ? Bagaimana
jika surga dan neraka tidak diciptakanNya. Apakah Allah tidak layak disembah ?
Allah sedemikan adanya, tidak akan berkurang atau bertambah oleh ibadah yang
kita lakukan atau yang kita tinggalkan.
Q.S. 15:99.
dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan.
Ibadah yang kita lakukan seharusnya dengan motivasi karena Allah mencintai
orang yang beribadah kepadaNya (memenuhi hak Allah) dan harus kita lakukan
sampai kita memperoleh keyakinan akan Allah (haqqul yaqin). Dengan yakin
berarti kita mengenal Allah. Dengan mengenal Allah berarti kita bisa
mencintaiNya. Puncak pengenalan kita adalah ketika kita haqqul yaqin dan bisa
ridho kalau Allah adalah tuhan dan kita adalah hamba. Sebagai konsekuensinya
kita pun akan ridho melaksanakan apapun perintah Allah sesuai yang
disyariatkan, bukan sebagai beban tapi sebagai kebutuhan.
Kontrak hidup kita terbatas, mulai lahir sampai detik kematian kita, PR kita
adalah mengenalNya dan mencintaiNya. Bukankah kita pernah bersaksi di alam
arwah bahwa Allah adalah tuhan kita. Kehidupan kita di dunia harus merupakan
pengejawantahan dari persaksian kita. Bagaimana rasanya perasaan kita bila saat
menghadapNya kembali, PR kita belum selesai atau bahkan belum kita kerjakan
sama sekali ? Tersiksa bukan ? Rasa tersiksa itulah yang hakikatnya lebih berat
dari siksaan itu sendiri (azab kubur). Semakin banyak PR yang tidak
terselesaikan semakin besar pula rasa bersalah kita yang akan menjelma semakin
berat rasa tersiksa kita dan akhirnya semakin tidak siap kita untuk menatap
wajah Allah. Bukankah puncak kenikmatan surga adalah menatap wajah Allah.
Tetapi karena Allah juga sangat mencintai kita, maka Allah pun menghendaki
agar kita siap menatapNya yaitu dengan menciptakan makhluk yang namanya Neraka
untuk membersihkan limbah-limbah diri kita yang menghalangi kita menatapNya.
CintaNya mendahului marahNya.
Masihkah kita enggan menghadapNya ? Masihkah kita menghadapNya dengan takut ?
Bukankah Allah lebih layak untuk dicintai daripada ditakuti ?
I LOVE YOU ALLAH !!!
Wallahu'alam....