Al Hikam 14, 15 & 16 Transkripsi dengan pengeditan seperlunya dari
Kajian Kitab Al-Hikam oleh Syaikh Luqman pada tanggal 23 Juni 2007 dalam
Majelis Pengajian Cahaya Ilahi Surabaya di Masjid Al Akbar Surabaya.
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
Setelah kita ditanya oleh Ibnu Athaillah tentang empat kaifa [kaifa yasyruqu
qolbun shuwarul akwaani munthobiatun fii mir atihi bagaimana hati dapat
bersinar sementara gambar dunia terlukis dalam cerminnya ?, am kaifa yarhulu
ilallahi wa huwa mukabbalun bi syahwatihi atau bagaimana hati bisa berangkat
menuju Allah kalau ia masih terbelenggu oleh syahwatnya ?, am kaifa yathmau an
yadkhula hadhratallahi wa huwa lam yatathahhar min janaabati ghafalatihi atau
bagaimana hati akan antusias menghadap ke hadirat Allah bila ia belum suci dari
janabah kelalaiannya ?, am kaifa yarjuu an yafhama daqaaiqal asraari wa huwa
lam yatub min hafawaatihi atau bagaimana hati mampu memahami kedalaman
misteri gaib padahal ia belum bertobat dari kesalahannya ?], ini ada shock
therapy yang luar biasa dari Ibnu Athaaillah, karena kalau tidak dipahami hati
kita ketika kita menelusuri empat kaifa tersebut mengenai hudur hati kita
sampai kita ini bisa terus menerus bersama Allah, maka orang
bisa kaget, bisa terkejut melihat dunia ini.
Dulu ada seorang ulama mengalami stroke karena kaget, ketika menelusuri
proses ruhaniah ibarat dari satu tahap ke tahap lain, dari satu langit ke
langit lain, kalau digambarkan begitu seperti orang sedang menengadah melihat
langit yang penuh keindahan bukan keindahan bintang-bintang, melainkan
dibukakan tentang keindahan manifestasi asma-asma Allah yang tersembunyi
dibalik satu langit ke langit yang lain. Tiba-tiba kembali lagi ke dunia,
langsung kaget, stroke.
Karena itu Beliau mengingatkan supaya kita tidak kaget dengan kalimat [14] :
al kaunu kulluhu zhulmah - kehidupan dunia ini semuanya sesungguhnya gelap.
Disebut gelap untuk menggambarkan ketiadaan, tidak ada atau tidak wujud karena
itu disebut zhulmah. Wa innama anaa rahuzhuhuurul haqqi fiihi bahwa Allah itu
mencahayai semesta ini, karena itu apakah kita ini di dalam nuansa limpahan
cahaya atau tidak ? dilanjutkan oleh Beliau faman ra-al kauna siapa yang
melihat semesta dunia yang ada ini (makhluk Allah), wa lam yasyhadhu fiihi
tapi tidak musyahadah, digunakan kalimat wa lam yasyhadhu fiihi ini
mengingatkan bahwa proses pandang memandang antara kita dengan gusti Allah itu
melalui musyahadah. Di sinilah para sufi membangun istilah yang disebut dengan
wahdatusy syuhud dan bukan wahdatul wujud, sebab wahdatul wujud itu berarti
patheisme yaitu menyatunya alam dengan tuhan. Alam ini fisiknya dan ruhny
adalah tuhan, itulah yang disebut pantheisme dalam filsafat Yunani.
Nah disinilah dunia Islam yang dieksplorasi oleh tasawuf menolak apa yang
disebut wahdatul wujud, yang benar adalah wahdatusy syuhud karena yang menyatu
bukan wujudnya melainkan musyahadahnya yaitu kesaksian hatinya yang menyatu.
Bagimana wujud bisa bersatu padahal wujud itu ya hanya satu. Kalau ada wahdatul
wujud berarti banyak wujud yang kemudian bersatu wujud itu, sedangkan yang
berhak mempunyai sifat wujud itu hanya Allah karena itu Beliau mengatakan
awalnya dengan wa lam yasyhadhu tidak menyaksikan Allah, fiihi di balik
semesta ini, au indahu atau di sisi semesta ini, au qablahu atau sebelum
adanya semesta ini, au badahu atau sesudah digulungnya semesta ini, faqad
awazahu wujuudul anwaar orang itu telah kehilangan wujud cahaya, wa hujibat
anhu syumuusul maaarifi bi suhubil atsar dan orang itu tertutup dari cahaya
matahari makrifat oleh mendung-mendung kemakhlukan semesta dunia ini. Dari
sinilah kenapa disebut dunia itu suatu pesona yang memperdayai
kita karena itu sebenarnya tidak ada hanya bayangan saja seperti orang melamun
membayangkan sesuatu yang sebenarnya tidak ada, hanya seakan-akan ada saja.
Kalau orang masuk di dalam lamunan itu, maka dia akan kehilangan cahaya lalu
orang hidup dalam ghurur tadi. Jadi kehidupan dunia itu bisa memperdayai karena
orang bisa kehilangan Allah.
Kalau orang bisa yasyhadhu fiihi bisa musyahdah di balik dunia, di sisi
dunia, sebelum adanya dunia dan setelah dunia ini tidak ada maka orang tidak
akan pernah kehilangan nur yang digambarkan sebagai cahaya matahari makrifat.
Hal ini penting sekali karena Allahu nuurus samaawaati wal ardh Allah itu
cahaya langit dan bumi [Q.S. 24:35], maksudnya bahwa Allah itu mencahayai, nur
itu adalah asma dan sifat. Sifat nurNya itu adalah ada di langit dan di bumi,
karena itu apa saja kalau kita ingin mendengar tasbihny alam semesta ini maka
musyahadah dulu di balik apa saja yang tampak. Bahwa di balik itu Allah.
Seperti misalnya bisa digambarkan soal hubungan interaksi kita dengan Allah
melalui apa yang kita pandang man ra-a nafsahu faqad ra-a rabbahu, siapa yang
melihat dirinya maka ia akan melihat tuhannya. Kita itu melihat diri kita apa ?
Oh
aku melihat diriku sebagai abd / hamba. Dia melihat tuhannya pada tingkat
abd ini berarti ada ubudiyah maka dia melihat tuhannya
sebagai rab yang rububiyah. Interaksinya : siapa yang melihat dirinya dengan
taubat, contohnya seseorang yang melihat dirinya bersalah dan melakukan taubat
maka dia akan melihat tuhannya dengan sifat maghfirah. Siapa yang mengenal
dirinya dengan doa, misalnya seseorang yang berkesadaran untuk full dengan doa
karena di al quran disebutkan yaa ayyuhaannaasu antumul fuqaraa-u ilallah
hai manusia kamu sangat butuh banget sama Allah [Q.S. 35:15], oleh karena itu
aku harus mohon kalau aku mohon aku harus kenal tuhan. Begitu tuhan kenal
dengan si pendoa maka dia akan kenal Allah dengan ijabahNya. Proses itu
berlangsung terus menerus tidak habis-habisnya.
Dari sinilah Anda mengenal pohon, air, hawa panas, itu semua tentang diri
kita sebenarnya, pelajaran dari Allah tentang profile dan prototype diri kita
sendiri. Lalu apa ? Oh.. iya Allah sedang menggerakkan apa sifat apa di situ
? Itulah awal musyahadah.
Dulu saya ada kawan di Jakarta, ceritanya lagi jadzab yang membawa hikmah
tetapi jangan ikut-ikut lho ya
Perusahaan di Jakarta kalau ada kantor gede
bikin listing sumbangan mau bikin musholla, kebanyakan yang memberikan
sumbangan ditulis hamba Allah seratus ribu misalnya, nah kawan saya lagi agak
gendeng ditulis saja Allah seratus ribu geger sekantor itu. Karena kawan saya
agak kontroversial, maka dipanggil oleh direkturnya, Rosyid, sini !, Kenapa
mengaku tuhan ? Ini ada bukti-buktinya, Ini tanda tangan siapa ?. Si Rosyid
menjawab, Ini tanda tangan saya memang, tapi sebenarnya begini Pak tujuan saya
agar temen-temen kantor nanti ketika membangun musholla merasa bahwa yang
membangun itu gusti Allah juga bukan cuman diklaim oleh temen-temen sekantor
ini. Lho maksudmu gimana kok kamu tulis Allah begini ?. Lha iya sekarang
saya minta Bapak menulis di kertas tulisan apa saja. Kemudian ditulis misalnya
: rencana pembangunan musholla. Siapa Pak yang nulis tadi ?.
Saya. Apa bukan pulpen yang nulis ? Sama seperti saya, saya ini cuman
pulpennya gusti Allah, jadi engga berhak mengaku tadi tulisan saya, tulisannya
gusti Allah juga. Jadi semua itu tadi merupakan gambaran saja bahwa itu
cermin. Dulu Syekh Jalaluddin ar Rumi yang punya tarekat Maulawiyah, pernah
mengadakan lomba lukis, ada orang yang mengikuti tanpa membawa kertas tetapi
membawa cermin. Saat lukisan dikumpulkan, ditanya orang tersebut tentang
lukisannya dan dia menjawab, Bapak minta lukisan apa ? Mau lukisan gunung ?
Ini dia sambil menghadapkan cermin ke arah gunung. Dari hal ini sebenarnya
Syekh Jalaluddin ar Rumi ingin mengingatkan bedanya seorang sufi dengan
intelektual atau cendekiawan. Kalau intelektual/ilmuwan/cendekiawan ya seperti
pelukis itu kerjanya menggambar, mengukur, menghitung tetapi tidak bisa 3
dimensi seperti dalam cermin itu. Nah si sufi ini hanya ingin memotret saja
yang pas. Qolbul muminin baitullah qolbunya orang beriman itu rumah Allah,
cermin Allah. Cermin itu kecil, tetapi kenapa bisa mewadahi seluruh gambar
bukit yang ada di hadapannya ? Itu untuk menjawab pertanyaan bahwa Allah itu
tak terhingga tetapi kok dalam hadis Qudsi berfirman bahwa yang bisa memuat
Allah cuma hati orang yang beriman. Lha hati itu seperti cermin tadi, karena
itu hati kita ini tiap hari harus digosok terus supaya ada pancaran nur tadi,
nurnya Allah biar bisa persis terpantul dalam hati kita. Kalau tidak bisa
persis ya karena salah kita saja, soal yaqin kita kepada Allah saja.
Dalam memandang alam semesta kita tidak boleh memandang wujudnya saja, karena
perintah Allah itu kita disuruh memandang yang tersembunyi di balik yang wujud
dalam rangka musyahadah. Di sanalah ada afal, asma dan sifat Allah, sehingga
akhirnya seseorang bisa memahami kalau Allah menyebutkan bahwa seluruh yang ada
di langit dan di bumi bertasbih.
Daun akan menyucikan Allah karena dia tidak akan mengklaim dirinya tumbuh
karena dirinya, kalau dia mengklaim dia tumbuh dengan sendirinya berarti dia
mengotori, mengurangi afal, asma dan sifat Allah.
Dilanjutkan dengan [15] : mimmaa yadulluka ala wujuudi qahrihi subhaanahu an
hajabaka anhu bimaa laisa bimaujuudin maahu. Salah satu sifat Qadar-nya Allah
yaitu memaksanya Allah, antara lain adalah menutup diri kita ini dengan sesuatu
tutup yang sebenarnya tutup itu tidak pernah ada. Manusia sering kali tertutup
antara dirinya dan tuhannya dengan sesuatu, bisa dunia, bisa hawa nafsu, bisa
khayalan, bisa akhirat, padahal hakikatnya tutup itu tidak ada. Kalau ada
sesuatu yang bisa menutupi Allah berarti sesuatu itu akbaru minhu - lebih besar
dibandingkan Allah. Kita harus mulai belajar merasakan bahwa kita sholat,
bergerak kesana kemari, Rasulullah mengajari terus menerus mengucapkan
bismillahirrohmanirrohim. Sebenarnya untuk apa ? Hal itu adalah minimal agar
kita sadar bahwa di balik itu semua ada asmanya Allah sehingga hubungan kita
dengan Allah tidak mudah tertutup oleh sesuatu yang sebenarnya sesuatu itu
tidak ada. Yang ada itu Allah saja. Kita ini kan hanya cermin.
Tetapi manusia menjadi salah manakala bercermin dan mengaku bahwa yang di
cermin itu adalah dirinya.
Posisi musyahadah adalah dalam wilayah ruh menjelang wilayah sirr. Jangan
diturunkan di wilayah akal, nanti akan menjadi seperti orang membawa cermin
tadi yang kemana-mana pengumuman bahwa cermin itulah dirinya. Bias dari ruh
adalah qalbu kita ini.
Dilanjutkan dengan sepuluh kaifa [16] : kaifa yatashawwaru an yahjubahu syai
wa huwalladzi zhahara bikulli syai bagaimana sesuatu itu menutup Allah,
sedangkan Allah menyertai segalanya [menyertai itu ya apa saja ada Allah di
situ, tetapi sesuatu tidak bisa menyertai Allah, Allah yang menyertai sesuatu],
kaifa yatashawwaru an yahjubahu syai wa huwalladzi zhahara fii kulli syai
bagaimana sesuatu itu menutup Allah, sedangkan Allah tampak dibalik segala
sesuatu, kaifa yatashawwaru an yahjubahu syai wa huwalladzi zhahara likulli
syai bagaimana sesuatu itu menutup Allah, sedangkan Allah tampak bagi segala
sesuatu [Maksudnya kalau Allah tampak bagi segala sesuatu berarti yang lain
tidak tampak, lalu jangan yang lain itu kita jadikan tutup wong tidak tampak],
kaifa yatashawwaru an yahjubahu syai wa huwazh zhahiru qabla wujuudi kulli
syai bagaimana sesuatu itu menutup Allah, sedangkan Allah sudah tampak
sebelum segala sesuatu yang ada ini tampak dan ada, kaifa
yatashawwaru an yahjubahu syaiun wa huwa azh-haru min kulli syai bagaimana
sesuatu itu menutup Allah, sedangkan Allah itu lebih jelas dari segalanya yang
ada [Lebih jelas, bahkan saking jelasnya tidak bisa dilihat oleh mata kepala
kita dan hanya bisa dipandang oleh mata hati kita. Mata hati kita ini produk
akhirat yang ada di dunia sehingga bisa memandang Allah.], kaifa yatashawwaru
an yahjubahu syaiun wa huwal wahidulladzi laysa maahu syai bagaimana
sesuatu itu menutup Allah, sedangkan Allah itu satu-satunya tidak ada yang
menyertainya [Satu-satunya itu adalah pernyataan seseorang ketika sudah
menafikan semuanya, lalu orang akan mengatakan Kaulah satu-satunya. Hal ini
beda dengan Kaulah Maha Esa, beda ! Al wahid itu artinya satu-satunya.], kaifa
yatashawwaru an yahjubahu syaiun wa huwa aqrabu ilayka min kulli syai
bagaimana sesuatu itu menutup Allah, sedangkan Allah maha dekat dibanding apa
pun yang dekat dengan kita [Karena maha dekat janganlah membayangkan
bahwa kedekatan dengan Allah itu berdasarkan dekatnya jarak, ruang, waktu dan
zaman. Hal tersebut tidak bisa untuk mengukur dekatnya Allah.], kaifa
yatashawwaru an yahjubahu syaiun walaulaa hu maa kaana wujuudu kulli syai
bagaimana sesuatu itu menutup Allah, kalau tanpa Allah segalanya tidak pernah
ada, yaa ajaban kaifa yazh-harul wujuudu fiil adam sungguh
mengagumkan/mengherankan bagaimana engkau bayangkan ada sesuatu yang ada
padahal itu ada dalam ketiadaan [Orang itu terhijab karena dia memproduksi
sesuatu yang disebut menurut dia ada padahal dalam ketiadaan], kaifa yatsbutul
haaditsu maa man lahu washfil qidam bagaimana sesuatu yang baru kita
sandingkan dengan sesuatu yang maha dahulu [Itu tidak akan terjadi.].
Jadi sepuluh hal tersebut silahkan Anda tulis, ditempel di kamar Anda, di
tempat Anda merenung agar suasana musyahadah dengan Allah dapat terus. Engkau
semua Allah dan di situlah awal interaktif, awal Anda on line terus dengan
Allah lalu Anda akan menyadari bahwa hijab itu ternyata tidak ada. Kok gusti
Allah semua ya? jadi nanti akan begitu.
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.