Allaahu Akbar

--- On Thu, 6/5/08, bobby herwibowo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: bobby herwibowo <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [tqn] Saya yang akan Menanggung Beban
To: "RC TI" <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: "ririn ukhti" <[EMAIL PROTECTED]>, "Rikza Maulan" <[EMAIL 
PROTECTED]>, "Rizanoel Irvin" <[EMAIL PROTECTED]>, "robi kuwais" 
<[EMAIL PROTECTED]>, "safari suci" <[EMAIL PROTECTED]>, "sahabat 
kita" <[EMAIL PROTECTED]>, "nadwa mu" <[EMAIL PROTECTED]>, "vivi 
ddtravel" <[EMAIL PROTECTED]>, "seno kuwais" <[EMAIL PROTECTED]>, 
"setiaps" <[EMAIL PROTECTED]>, "sheema ddtravel" <[EMAIL 
PROTECTED]>, "Sigit Setiawan" <[EMAIL PROTECTED]>, "siwi" <[EMAIL 
PROTECTED]>, "Muhlason" <[EMAIL PROTECTED]>, "sudiyuwono" <[EMAIL 
PROTECTED]>, "sufi islam" <[EMAIL PROTECTED]>, "supardi lee" 
<[EMAIL PROTECTED]>, "Sofyan" <[EMAIL PROTECTED]>, "jenar" 
<[EMAIL PROTECTED]>
Date: Thursday, June 5, 2008, 5:11 AM










    
            Di Cilandak Jakarta Selatan ada seorang tetangga asal

Sumatera Barat yang memiliki usaha cukup berkah. Dia

adalah tetangga saya. Orangnya santun, ramah dan

bersahaja. Namanya Haji Bisri, sebutlah demikian.

Setiap Shubuh, Maghrib & Isya saya selalu melihatnya

berada di masjid. Tak pernah ia luput menghadiri

shalat berjamaah di Masjid Al Barkah di lingkungan

kami. Saya kagum atas kepribadiannya. Dia begitu

mengutamakan Allah, padahal kami semua warga di

kampung tahu kesibukannya sebagai seorang pengusaha

yang memiliki beberapa toko di Jakarta.

Haji Bisri memulai usahanya di sebuah pasar di daerah

Jakarta Selatan pada tahun 2004. Saat ini belum genap

4 tahun dari usahanya, kini ia memiliki 9 toko yang

tersebar di beberapa pasar dan pusat perbelanjaan.

Rezeki semakin bertambah dan usaha terus lancar. Saya

pun bertanya dalam hati, "Apa rahasia sukses Haji

Bisri sehingga ia bisa mengembangkan usahanya begitu

cepat?"



Hari itu kami sedang beri'tikaf antara waktu Maghrib

dan Isya. Sambil berbicara di beranda masjid, seorang

tetangga bertanya kepada Haji Bisri mengenai kemajuan

usahanya. Haji Bisri terdiam. Matanya menerawang.

Mungkin ia mencoba mengenang apa yang telah membuat

usaha dan hidupnya penuh keberkahan.

Dalam beliau menghela nafas. "Saya mengikuti jalan

Allah saja", beliau memulai pembicaraan. "Jangan tanya

saya, bagaimana saya bisa mengembangkan usaha…

semuanya Allah yang atur!"

Beliau lalu membentangkan apa yang beliau alami dalam

berusaha. Banyak pelajaran yang kami ambil dari

perbincangan bersamanya yang hanya dalam beberapa

menit.

Beberapa kalimat hikmah meluncur berkali-kali dari

mulutnya dengan begitu deras namun menghujam. Beberapa

di antaranya saya masih hapal, "Benar rezeki itu sudah

diatur Allah, tapi rezeki bisa ditambahkan bila kita

gemar bersedekah…."

"Perluaslah rezeki itu dengan memudahkan jalan orang."

Untuk kalimat yang terakhir ini saya masih

mengingatnya, dan ini sejurus dengan hadits Nabi Saw

yang sering saya ajarkan kepada santri-santri di

pesantren tempat saya mengajar:

وَ م&# 1614;ن ْ

يَ س&# 1617;َ ر&# 
1614;

عَ ل&# 1614;ى

مُ ع&# 1618;س ِ&# 
1585;ٍ

يَ س&# 1617;َ ر&# 
1614;

ال ل&# 1607;

عَ ل&# 1614;ي ْ&# 
1607;ِ

فِ ي

ال د&# 1617;ُ ن&# 
1618;ي َ&# 1575;

وَ ا&# 1618;ل آ&# 
1582;ِ ر&# 1614;ة ِ

"Siapa saja yang memudahkan urusan orang yang

mengalami kesulitan, maka Allah akan memudahkan

urusannya baik di dunia maupun di akhirat." HR.

Bukhari & Muslim

***

Haji Bisri mengulas kisahnya, bahwa tahun 2004 beliau

baru merintis toko di sebuah pasar Jakarta Selatan.

Barang yang ia dagangkan adalah tas, dompet dan

sejenisnya. Toko baru buka dan hanya sedikit pelanggan

yang suka datang. Namun meski sepahit apapun kondisi

jualan beliau selalu bersyukur atas segala nikmat yang

Allah berikan dan beliau selalu bertawakkal kepadaNya.

"Alhamdulillah, Allah cukupi segala kebutuhan kami

sekeluarga rupanya…!" jelas Haji Bisri. Namun pada

tahun yang sama seorang sepupu jatuh sakit hingga

harus cuci darah seminggu 3 kali. Padahal untuk sekali

cuci darah saja tidak kurang dari 1 juta rupiah

biayanya.

Kami sekeluarga besar berkumpul di rumah seorang

kerabat. Malam itu kami sengaja diundang untuk

membicarakan beban yang ditanggung oleh sepupu saya

tadi. Dia hanyalah seorang pegawai swasta rendahan.

Gaji tak seberapa. Hari-hari harus menanggung biaya

seorang istri dan 3 orang anak. Apalagi perusahaan

tempat dia bekerja tidak memberi jaminan kesehatan.

3 kali seminggu harus cuci darah, maka dalam sebulan

minimal harus 12 kali cuci. Setidaknya maka harus ada

dana yang tersedia minimal Rp 12 juta untuk biaya cuci

darah dalam sebulan.

"Semua yang hadir malam itu hanya bisa terdiam.

Kebetulan kami semua adalah perantauan yang belum

sukses" ujar Haji Bisri. "Saya yakin semua dari kami

berkeinginan untuk membantu. Namun seperti yang saya

lakukan, mungkin semua kerabat berhitung tentang

pendapatan dan kebutuhan hidup mereka, namun tidak ada

kelebihan harta yang dapat disumbangkan.

Beberapa lama kami semua terdiam. Terlihat ada

beberapa orang kerabat yang bermusyawarah dengan

pasangannya tentang jumlah yang akan mereka

sumbangkan. Namun tidak seorang pun yang berkata bahwa

ia akan menyumbang." Ungkap Haji Bisri

"Entah ada dorongan apa, saya tiba-tiba berkata dalam

pertemuan itu… Saya yang akan menanggung beban itu!"

"Bukan mau jadi sok pahlawan, tapi kalimat itu

terungkap begitu saja dari mulut saya" ujar Haji

Bisri.



Maka hari-hari pun dilalui dengan penuh kesulitan,

baik bagi Haji Bisri maupun bagi keluarga adik

sepupunya.

Namun diluar dugaan, rupanya niat untuk membantu

saudara itu betul-betul dipermudah Allah Swt.

Setiap kali harus mengantar adik sepupu untuk cuci

darah di rumah sakit, pasti ada saja order pembelian

barang yang ia terima dalam jumlah besar.



Beberapa langganan memesan dalam partai besar, hingga

Allah Swt pun mempermudah jalan Haji Bisri untuk

mencari pabrik barang-barang yang ia dagangkan

sehingga ia dapat mengambil barang dengan harga

semurah mungkin.



"Sungguh Allah benar-benar memudahkan jalan usaha

saya" ujar Haji Bisri dengan mata berkaca-kaca.

"Hingga saat ini pun saya terus bersyukur kepada Allah

Swt bahwa ia kini telah mengamanahi saya 9 toko yang

dikelola oleh saya dan keluarga."



***



Adzan Isya berkumandang. Kami pun mengakhiri

pembicaraan. Malam ini saya merasa mendapatkan

pelajaran yang teramat berharga dari Haji Bisri

mengenai cara hidup berbagi dan berlapang dada untuk

membantu orang lain.

Sungguh Allah tak akan pernah menyia-nyiakan amal yang

dikerjakan hamba-Nya!



Jazakumullah untuk guruku Ustadz Radiyallah atas

cerita yang mencerahkan.



Bobby Herwibowo

www.kaunee.com




      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke