Sekedar Ilmu Amaliyah 

Pengajian hari itu tampak tidak seperti biasanya, ustadz najib yang biasanya 
mengisi pengajian mingguan yang membahas masalah fiqih dan tauhid sedang 
kedatangan tamu, salah seorang kerabatnya yang baru lulus dari salah satu 
perguruan tinggi di timur tengah yang kebetulan sering berkutat pada masalah 
hadist, karena kebetulan para murid sudah banyak yang datang ustadz Najib 
mempersilahkan kerabatnya tersebut untuk berkesempatan mengisi kajian hadist. 
Tak disangka sang kerabat justru mengulas hadist mengenai masalah fiqih dasar 
yang sering dibahas oleh ustadz Najib (Fathul Qorrib yang bermahzab Syafi'i) 
yang menimbulkan perbedaan penafsiran, apalagi sang kerabat ini mengulas secara 
jelas mengani kualiatas masing-masing hadist sehingga tampak lebih meyakinkah 
dari yang pernah disampaikan oleh ustadz Najib yang hanya berpatokan pada kitab 
tersebut tanpa dikuatkan oleh dalil dari kitab lain. 

Diakhir pengajian sang kerabat berusaha menjaga nama baik ustadz Najib karena 
merasa berbagai pertanyaan pasti telah tersimpan di kepala murid-muridnya " 
Saya telah menyampaikan apa yang telah saya ketahui berdasarkan apa yang telah 
saya pelajari sama seperti ustadz Najib yang juga telah menyampaikan apa yang 
telah diketahuinya tidak ada yang kami sembunyikan jika kalian menemukan 
perbedaaan ambilah yang paling kuat dalilnya, Allah menilai seseorang dari 
amalnya bukan dari ilmunya" ustadz Najib hanya tersenyum mengerti arah 
pembicaraan rekannya sambil berusaha menambahkan " Apa yang telah kalian 
pelajari ambil yang paling kuat dalilnya dan ingat selalu prinsip ilmu, yaitu 
ilmu amaliyah dan amal ilmiyah, setiap ilmu itu wajib diamalkan dan setiap amal 
harus disertai dengan ilmu " 

Para murid mengangguk perlahan karena mereka baru saja mendapatkan pelajaran 
berharga, bukan karena tambahan ilmu yang disampaikan rekan ustadz Najib akan 
tetapi karena amaliyah sifat rendah hati kedua ustdaz didepan mereka yang 
berusaha saling menjaga nama masing-masing.

"Janganlah kalian menuntut ilmu untuk membanggakannya terhadap para ulama dan 
untuk diperdebatkan di kalangan orang-orang bodoh dan buruk perangainya. Jangan 
pula menuntut ilmu untuk penampilan dalam majelis (pertemuan atau rapat) dan 
untuk menarik perhatian orang-orang kepadamu. Barangsiapa seperti itu maka 
baginya neraka ... neraka. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Bahasa amaliyah memang sulit terkatakan tetapi nilainya hanya Allah yang 
menentukan, seseorang yang memiliki ilmu 100 tetapi hanya mengamalkan 10 sama 
saja dengan yang memiliki ilmu 10 dan hanya mengamalkan 1 ilmu karena keduanya 
sama-sama mengamalkan 1/10 dari Anugrah ilmu yang Allah limpahkan kepada mereka 
mereka walaupun dimata manusia yang memiliki 1lmu 100 jauh lebih mulia, 
sehingga banyaknya ilmu  tidak bisa dijadikan ukuran ketaqwaan seseorang karena 
semua bersifat pemberian (given) tinggal kita mau meminta atau tidak. 
Rasulullah bersabda "Jangan mengagumi amal perbuatan sampai ia menyelesaikan 
yang terakhir. (HR. Ath-Thabrani dan Al Bazzar)

Mungkin saja cerita-cerita amaliyah kita begitu indah tetapi siapa yang tahu 
kejadian ahir cerita karena segala sesuatunya sesuai dengan qadarnya dan ketika 
taqdirnya berkata lain maka akan tercabut segala amalnya , dalam hal ini  
Rasulullah SAW bersabda dari Abdullah bin Mas'ud ra "..........Demi Zat yang 
tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya salah seorang dari kamu telah melakukan 
amalan penghuni surga sampai ketika jarak antara dia dan surga tinggal hanya 
sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga ia melakukan 
perbuatan ahli neraka maka masuklah ia ke dalam neraka. Dan sesungguhnya salah 
seorang di antara kamu telah melakukan perbuatan ahli neraka sampai ketika 
jarak antara dia dan neraka tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah 
didahului takdir sehingga dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia 
ke dalam surga. "(Shahih Muslim No.4781)

Salam 

David

Kirim email ke