Maaf, kurang sependapat jika dikatakan kemarin adalah mimpi.
Karena mimpi lebih mendekati dengan bayang-bayang/bayangan, karena 
bayangan tidak terekam. Berbeda dengan hari kemarin, semua kehidupan 
pribadi semua makhluk terekam/tercatat dalam kitabnya masing2.
Dan yang tidak pernah tercatat sekalipun hanyalah rahasia hati.
Hari kemarin lebih bijak bila dikatakan hikmah, karena hikmah itu ada 
setelah sesuatu terjadi pada masa lalu (diambil sebagai suatu 
pelajaran).

Salam.


--- In [email protected], "David Sofyan" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Perjalanan Dalam Memainkan sebuah skenario
> 
> Dunia kita adalah hari ini, jika kemaren adalah mimpi maka esok 
adalah ilusi. Dunia mimpi adalah dunia sementara dan ketika kita 
terbangun maka kenangan dalam mimpi tidak berlangsung lama. Jika kita 
bermimpi dalam tidur apakah kita sadar bahwa kita sedang bermimpi, 
mungkin ada (yang mempunyai tingkat kesadaran yang tinggi) tetapi 
kebanyakan dari kita tidak ingat apa-apa. Jika hidup didunia saat ini 
disebut kehidupan sementara dan akhirat adalah kehidupan abadi, lalu 
sekarang kita hidup atau sedang bermimpi  ? kemudian jika seperti 
mimpi maka bukankah hakekatnya sewaktu kita mati maka sebenarnya kita 
sedang bangun dari tidur panjang....lantunan lagu "dunia ini panggung 
sandiwara" selain menceritakan jalan hidup kita sebenarnya juga 
sedang mentertawakan sang penyanyi yang juga sedang bermain sandiwara 
lewat nyanyiannya bahkan lewat hidupnya.
> 
> Seindah apapun kenangan dimasa lalu tak akan pernah ada yang mau 
menukarnya dengan harapan dimasa depan, dan apa yang sekarang kita 
kerjakan sebentar lagi akan menjadi masa lalu karena hari ini adalah 
kemaren bagi esok hari, oleh sebab itu perhitungkanlah prasasti yang 
sedang kita ukir hari ini dan saat ini. 
> "Demi Masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, 
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan 
nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati 
supaya menetapi kesabaran" (QS : Al Ashr 1-3)
> 
> 
> Ketika kita hendak membangun sebuah rumah maka desain utuh rumah 
(blue print) tersebut harus sudah kita miliki termasuk bahan-bahannya 
dan segala biaya untuk membangunnya jika tanpa desain maka arah 
pembangunan menjadi tidak jelas. Wacana utuh mengenai desain hidup 
kita seharusnya sudah kita miliki walaupun perjalanan dalam merangkai 
desain banyak mengalami gejolak tapi yang jelas kita sudah mengetahui 
dengan pasti arah pengembangan diri yaitu menuju ridho Allah
> 
> Jika seorang aktor atau aktris semakin larut dalam perannya dan 
lupa kalo dia sedang bersandiwara saking menjiwainya maka semakin 
tinggi kualitas sang aktor/aktris , berbanding terbalik dengan yang 
kita alami sekarang justru semakin kita sadar bahwa kita sedang 
memainkan peranan yang diamanahkan Allah dan sadar bahwa ini hanya 
peran sementara maka semakin tinggi kualitas kerohanian orang kita 
(baca spritualisme) ,Apakah kita nanti akan atau malah sudah terjebak 
dalam sandiwara ini  itu masalah lain yang penting kesadaran tersebut 
harus tetap kita pertahankan karena lembar skenario kitapun  akan 
segera berakhir siap atau tidak siap.
> 
> Salam
> 
> David
>


Kirim email ke