Bersandar Pada Ketidakpastian

Melihat negeri yang carut marut seperti sekarang ini menimbulkan banyak ketidak 
pastian di berbagai bidang, seperti ekonomi, pendidikan bagi anak-anak kurang 
mampu, ketersediaan pangan, bahan bakar , lapangan kerja dan sebagainya, 
sehingga tidak salah jika dikatakan bahwa ketidak pastian merupakan sesuatu 
yang pasti.

Tidak ada satu orang pun yang mau hidup dalam ketidak pastian, namun demikian 
tidak ada yang setuju jika semua orang dapat mengetahui segala sesuatu dengan 
pasti seperti kapan , dimana dan cara bagaimana kita mati, mengetahui segala 
sesuatu  yang terjadi pada masa depan,  sehinga hal itu mejadikan hidup kita 
tidak lagi bernilai karena bagaimana mungkin menilai sesuatu yang telah 
diketahui sebelumnya. 

Segala cerita mengenai pemimpin yang ideal yang sesuai dengan kriteria yang 
diinginkan tetapi belum ada tidak lebih penting dari pada memilih pemimpin yang 
kurang baik diantara pemimpin yang tidak baik yang telah tersedia,  karena 
perbedaaanya sangat jelas dan tegas yaitu  yang satu wacana yang satu nyata. 
Dan kita tidak mungkin selalu hidup didunia wacana dan mencemooh dunia nyata

Negara dengan pemimpin yang buruk atau dzalim jauh lebih baik dari pada negara 
tanpa pemimpin, karena negara tanpa aturan berarti kembali kemasa kebodohan 
(jahiliyah), dimana aturan yang berlaku adalah hukum rimba yaitu siapa yang 
paling kuat. Oleh sebab itu yang paling bijaksana saat ini adalah memperbaiki 
yang ada dari pada memikirkan yang tidak atau belum ada, bukankah  wacana 
mengenai gesekan tampuk kepemimpinan telah ada sejak jaman sahabat yaitu Ali 
bin Abu thalib RA dan Muawiyah bin Abu Sofyan RA yang munumpahkan darah namun 
oleh para ulama dikategorikan sebagai Ijtihad

Tanggung jawab terpilihnya pemimpin yang buruk terletak pada pemilihnya dan 
yang tidak mau memilih sama sekali, karena yang tidak mau memilih berarti 
memperkecil kemungkinan terpilihnya pemimpin yang lebih baik walau dimata yang 
tidak mau memilih tidak ada yang baik namun sifat pengecutlah yang hidup 
diantara pilihan orang lain. Didalam Islam seseorang yang telah memutuskan dan 
benar dapat pahala dua sedangkan yang salah dapat pahala satu, sedangkan yang 
tidak mau memutuskan justru tidak memiliki dalil apapun selain pembenaran ego.

Ketidak pastian disamping membingungkan juga bisa menjadi tantangan bagi 
seseorang untuk memperoleh sebuah kepastian dengan menggunakan berbegai metode 
analisa untuk memprediksi (forcast) segala sesuatu sehingga melahirkan sebuah 
perencanaan (planning) dan merencanakan sesuatu merupakan bagian dari 
menghargai waktu.

Salam

David

Kirim email ke