Kita sebagai manusia memang diberi kemampuan verbal lebih oleh Allah SWT, dengan kemampuan berbicara tersebut membuat diri kita bebas untuk mengungkapkan segalanya. Kadang kala kita lupa dibalik semua pembicaraan itu banyak terselip kedustaan-kedustaan. Padahal seandainya kita mau mengkaji diri kita adalah makhluk yang mudah dipengaruhi oleh nafsu. Secara tidak sadar nafsu pada diri membawa kita kejalan tidak benar. Hadist mengatakan sesungguhnya nafsu itu membawa kejalan sesat, kecuali nafsu-nafsu yang diridhoi yaitu Nafsu mutmainah. Bisakah kita mencapai ke nafsu mutmainah ? adalah pertanyaan yang sering timbul pada diri kita. Kenapa tidak ? bukankah Allah maha pemurah yang semua ada didalam genggamannya. Sesungguhnya kami lah yang mengatur segala sesuatunya. Maha suci Allah dengan perbuatannya. Bagaimana mencapainya ? Bagi orang tassawuf sebenarnya tidaklah susah hanya saja kita orang-orang yang teperdaya oleh nafs. Kita selalu ingin bicara walaupun tidak penting. Orang-orang tassawuf menganggap diam adalah emas. Mereka tidak akan bicara jika tidak perlu. Dalam diam tentunya kita menghadapkan hati kepada Allah rabul izzati. Kita selalu berzikir khofi. sungguh indah bagi mereka yang mencoba selalu mengingat Allah dalam diamnya. Sesungguhnya aku lah yang mengetahui hati hamba-hambaku. Jika mereka berzikir dalam hatinya akupun selalu mengingatnya dalam hatiku. Maha suci allah yang tidak pernah lalai. Diam memang indah dan allah menyukainya. Merekalah orang-orang yang Allah jagakan perkataannya dan peliharakan lidahnya. Imam besar Al Gazali selalu mengingatkan kita untuk memelihara lidah. Bahaya lidah harus dihindari. Lidah bisa membawa fitna. Marilah kita orang-orang tariqah mencoba untuk memelihara diri dari perkataan-perkataan yang tak penting dan mencoba banyak diam. Dalam diam akan banyak ilmu hikma.
