Ummat Nabi Muhammad Sallahu alayhi wasalam
Mawlana Syaikh Nazim Adil al-Haqqani qs


Bismillahir Rohmaa nirRohim

Grandsyeh (kakek guru) kami, Mawlana Syaikh Nazim qs
menceritakan kami kisah ini mengenai Grandsyeh beliau,
Abu Ahmad as-Sughuri (semoga Allah meridhai beliau):
"Gransyehku tinggal di sebuah desa di Kaukasia. Suatu
hari saat beliau sedang berjalan dekat rumahnya, ia
melihat seekor kucing menangkap seekor ayam tetangga
dan lari bersama ayam tersebut dalam mulutnya. Segera
Abu Ahmad (semoga Allah meridhai beliau) berkata,
Innalillahi wa inna ilayhi raji'un!' Ayat ini berasal
dari Quran (surat al-Baqarah, 156), dan merupakan
sunah untuk mengatakannya ketika kita menemukan hal
yang buruk, musibah, atau kesulitan. Arti ayat
tersebut, 'Kepada Allah kepunyaan kita, dan kepadaNya
(pula) kita akan kembali!'
        
"'Sudah berapa tahun saya tinggal di desa ini?" pikir
beliau, 'namun sampai sekarang, saya belum pernah
melihat seekor kucing menyerang seekor ayam. Saya
harus meninggalkan desa ini dan orang-orang ini. Tak
ada rahmat yang turun ke sini!'
        
"Beliau melakukan hijrah ke desa yang lain satu
setengah jam berjalan di mana beliau tinggal selama
sisa hidupnya. Beliau berkata, "Jika tak ada sifat
buruk pada orang, semua bunga di pohon-pohon akan
berbuah dan tak satupun yang jatuh ke tanah.'
        
"Apa makna dari kisah ini? Mengapa Abu Ahmad (semoga
Allah meridhai beliau) meninggalkan rumahnya karena
seekor kucing melahap seekor ayam? Ini karena ia
mengetahui bahwa sikap liar dari sifat buruk orang
memiliki pengaruh terhadap hewan-hewan mereka.
Sifat-sifat buruk orang-orang di desa tersebut
mempengaruhi hewan-hewan mereka. Sifat-sifat itu
terlihat memiliki dampak yang hingga saat itu, tidak
pernah menyerang ayam manapun. Ini tanda yang penting;
ketika sifa-sifat orang baik, hal itu terlihat pada
hewan-hewan mereka. Ketika sifat-sifat mereka buruk,
ada keburukan dan sifat liar dalam hewan-hewan mereka
juga.
        
"Sulaiman (as) pernah bertemu dengan dua ekor anjing
yang sedang berkelahi. Karena beliau dianugerahkan
mukjizat yang dapat berbicara pada semua mahluk,
beliau bertanya pada mereka, 'apa yang kalian
pertengkarkan? Kalian anjing, bukan manusia! Apa yang
bisa kalian ambil dari dunia ini sehingga membuat
kalian berkelahi?'
        
"'Betul, wahai Rasul!' jawab para anjing, 'sebagaimana
yang engkau bilang. Kita tidak memiliki apapun dari
dunia ini. Adalah sifat-sifat buruk majikan kami yang
engkau lihat berkelahi di sini!'
        
"Kamu bisa lihat kualitas ini pada anak-anak juga.
Orang-orang yang keras akan memiliki anak-anak yang
liar. Sedangkan orang-orang yang lemah lembut akan
memiliki anak-anak yang lembut. Oleh karena itu,
sifat-sifat baik dan buruk kita memiliki pengaruh yang
nyata pada semua yang ada di sekitar kita - keluarga
kita, tetangga kita, dan hewan-hewan kita. Kita harus
memiliki penglihatan yang baik akan sekeliling kita,
bukan kemuraman. Ketika Abu Ahmad (semoga Allah
meridhai beliau) melihat kucing itu bertingkah liar,
beliau tahu bahwa sifat-sifat orang di desa tersebut
tidak baik dan sudah saatnya bagi beliau untuk pergi.
        
"Juga, sifat-sifat buruk oranglah yang menyebabkan
bunga-bunga menjadi layu dan mati tanpa menghasilkan
buah, dan serangga yang menempatinya. Di masa kini,
berapa banyak obat-obatan dan bahan-bahan kimia
dibutuhkan agar membuat sesuatu tumbuh! Bila
sifat-sifat orang baik, tidak diperlukan semua hal
tersebut. Sekarang adalah abad keduapuluh. Manusia
bangga dengan pengetahuan dan teknologi mereka. Namun
pada mulanya, sebelum 'kemajuan' moderen, manusia
menemukan kehidupan lebih mudah. Semua hal yang
membuat hidup mudah telah siap dimanfaatkan. Kepuasan
itu kini telah hilang. Sekarang tidak mungkin mencari
orang-orang yang baik. Di mana-mana sifat-sifat buruk
tumbuh.
        
"Oleh karena itu, kita harus melawan demi menghapus,
menyingkirkan, sifat-sifat buruk kita. Semakin banyak
kita menyingkirkan sifat buruk kita, kebahagiaan akan
semakin banyak muncul pada tempat tersebut. Di masa
kini, kebahagiaan tidak muncul. Tempat yang demikian
kotor! Di mana-mana ada kekejaman. Kamu tidak bisa
menemukan satu tempat untuk berpijak! Dunia ini
dipenuhi dengan sifat-sifat liar, berlarian mengejar
kekuatan yang demikian untuk mencambuk semua orang.
Senjata yang demikian kejam. Ini adalah suatu tanda.
Ketika tidak ada rahmat yang turun, ini berarti bahwa
tidak ada sifat-sifat baik. Sifat-sifat baik hidup
dalam samudra rahmat Allah yang Maha Kuasa. Tanpa
keyakinan kepada Tuhan kita, tidak ada sifat-sifat
baik dan rahmat terhadap manusia. Dalam hati
orang-orang yang tidak beriman kamu tidak bisa
menemukan rahmat walaupun sedikit.
        
"Hari ini," ujar Syeh Nazim, "sepucuk surat datang
kepada saya. Di dalamnya sepotong berita mungkin dari
London Daily Telegraph. Di situ tertulis bagaimana
Marxisme telah membunuh seratus empat puluh tiga juta
orang; enam puluh lima juta di Rusia sejak 1917 hingga
1959; enam puluh tiga juta di Cina! Di tempat lain
total seratus empat puluh tiga juta! Karena Marxisme
menyangkal semua nabi, semua agama, dan semua hal-hal
yang Suci, kamu tidak bisa menemukan rahmat apapun di
dalamnya. Orang-orang Marxis tidak memiliki sifat
rahmat terhadap orang lain, bahkan tidak terhadap diri
mereka sendiri. Tak ada rahmat dalam Marxisme!
        
"Seperti yang kita katakan," ulang sang syeh,
"sifat-sifat baik hanya hidup dalam samudra rahmat di
mana ada keyakinan terhadap Allah yang Maha Kuasa.
Oleh karena itu, kita harus menjaga sifat rahmat dalam
hati kita agar tumbuh. Saat sifat rahmatmu tumbuh,
kamu akan mendekati Allah. Abu Yazid al-Bistami
(semoga Allah menganugerahkan beliau lebih banyak
kehormatan) berdoa kepada Tuhannya, "Ya Tuhanku!
Engkau punya kekuatan, Engkau bisa melakukan apa saja!
Aku memohon agar membuat tubuhku lebih besar dan lebih
besar lagi, hingga memenuhi semua NerakaMu, agar tidak
ada tempat untuk memasukkan siapapun ke sana!
Masukkanlah mereka ke dalam Surga, dan berikanlah aku
hukuman!'
        
"Ketika keimanannu bertambah, sifat rahmatmu
bertambah. Semua Aulia memiliki dalam hati mereka
samudra rahmat. Wali yang lain berkata, "Ya Tuhanku!
Jadikan diriku jembatan di atas Neraka, agar umatMu
bisa lewat di atasku menuju Surga!' Seperti itu. Bila
salah satu dari mereka diberikan izin untuk syafaat
(perantara) pada Hari Kiamat, mereka tidak akan
membiarkan satu orangpun masuk Neraka! Inilah makna
Iman. Jika seorang berkata, 'Saya orang beriman,' dan
dia tidak punya sifat rahmat, dia pembohong. Tanpa
rahmat, tak ada iman.
        
"Samudra rahmat terbesar adalah milik Rasul (saw)
kita. Beliau dikirimkan sebagai rahmat bagi seluruh
ciptaan, seluruh jagad raya.

"Dan tiadalah Kami mengutus kamu (wahai Muhammad),
melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam. Wa ma
arsanalka illa rahmatan lil 'alamin
-Qs. al-Anbiya: 107-
        
"Setiap orang akan melihat perbuatannya pada Hari
Kiamat, apakah mereka akan masuk Surga atau neraka.
Maka Allah akan memutuskan. Dia bisa melakukan yang
Dia inginkan. Yang Maha Kuasa tidak diharuskan untuk
mengampuni atau menghukum. Dia boleh saja, jika Dia
mau, mengampuni semua orang."
        
"Bagaimana dengan orang dalam al-Quran, Abu Lahab dan
istrinya?" Tanya salah satu saudara kami. "Bukankah
Allah menjanjikan hukuman bagi mereka?"
        
"Ayat itu (Surat Lahab) diturunkan hanya sebagai
peringatan," jawab Maulana, "agar orang-orang tidak
akan melakukan seperti Abu Lahab. Allah yang Maha
Kuasa akan menunjukkan setiap hamba apa yang telah dia
lakukan dengan hidupnya pada Hari Kiamat. Namun, Dia
Yang Maha Kuasa bebas untuk memberikan rahmat
sebagaimana yang Dia inginkan.
        
"Ummah, umat dari setiap nabi, lebih disayang oleh
nabi tersebut dibanding anak terhadap orang tua
mereka. Jika kamu mempunyai seratus anak, dan sembilan
puluh sembilan ada bersama kamu tapi satu berada dalam
penjara, apakah kamu senang? Tidak! Karena salah satu
dari mereka menderita hukuman. Meski jika satu dari
seribu menderita, hatimu bersama satu yang sedang
menderita. Oleh karena itu, Rasul (saw) kita akan
berdiri di pintu masuk menuju Surga. Bagaimana bisa
beliau merasakan kenikmatan di Surga jika umatnya
berada di Neraka! Bagaimana?! Beliau akan berdiri di
pintu masuk dan ketika Allah yang Maha Kuasa berkata,
"Masuklah, wahai Muhammad! Beliau akan berkata, 'Ya
Tuhanku! Aku tidak bisa masuk sampai umatku masuk.'
Beliau kemudian melihat, 'satu, dua, tiga, empat...,'
dan kalau ada yang hilang, beliau akan berkata, "Ya
Tuhanku! Aku tidak bisa masuk!"
        
"Maulana, siapakah Ummah itu? Siapa yang termasuk di
antara mereka pada Hari Kiamat?"
        
"Dia yang Maha Kuasa, maha tahu," jawab sang Syeh.
"Jangan khawatir, orang-orang Eropa juga umat beliau.
Orang-orang Amerika juga, orang-orang Rusia juga;
orang-orang Cina juga, para penganut Hindu juga, ras
Negro juga; semua merupakan umat beliau! Rasulullah
(saw) bersabda, 'Jika saya diberikan izin, saya tidak
akan membiarkan seorangpun tertinggal!' Kalian
mengerti? Kamu akan pulang ke rumah dengan seratus
anak-anakmu, sambil menunggang di atas kuda-kudamu,
tiba di pintu istana. Kamu berhenti dan menghitung,
'Tiga puluh, lima puluh, seratus anak.' 

Ketika kamu melihat bahwa mereka semua berada di dalam
dengan aman, maka kamu akan menyebrang melewati
jembatan, dan menutupnya di belakangmu. Kamu tidak
akan meninggalkan satu, dua, atau sepuluh di luar.
Tidak! Terutama bila mereka anak-anak kecil. Sang ayah
akan datang dan memasukkan anak-anak yang kecil
terlebih dahulu ke dalam, dan kemudian dia akan masuk.
Betul? Terlalu banyak kabar baik untuk kita. Kita
ibarat anak-anak kecil. Tak ada kekhawatiran bagi
kita. Kalian anak-anak besar? Masya Allah!"
        
Wa min Allah at Tawfiq

wasalam, arief hamdani
www.rumicafe.blogspot.com
HP. 0816830748


      Get your preferred Email name!
Now you can @ymail.com and @rocketmail.com. 
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

Kirim email ke