Dia Itu Om atau Tante,Sih? 

SUATU hari seorang bocah bertanya kepada ibunya.”Bu,dia itu sesungguhnya om 
atau tante, sih?” Pertanyaan itu muncul setelah anak tadi sering menonton acara 
televisi dan pembawa acaranya sering berganti peran, kadang sebagai sosok 
laki-laki, lain kali sebagai perempuan. 
Sekali waktu tampil gagah, pada waktu yang lain tampil cantik.Kebetulan kedua 
peran itu memang mengesankan sempurna, sehingga bocah tadi—dan mungkin sekali 
dia mewakili sekian banyak penonton lain—menjadi bingung. 
Tidak bisa membedakan,presenter tadi laki-laki ataukah perempuan? Cerita tadi 
saya terima dari putri saya yang kebetulan seorang psikolog yang kini aktif di 
Yayasan Buah Hati bersama Ibu Elly Risman,psikolog senior yang sangat peduli 
dengan program pelatihan parenting berdasarkan nilainilai spiritual. 
Dari sudut pandang psikologi, yang memprihatinkan sesungguhnya bukan saja anak 
yang bingung tadi, melainkan juga perkembangan kepribadian selebriti yang kerap 
memainkan peran ganda dan sering bertingkah laku layaknya seorang ”waria”: 
jenis kelamin boleh pria, bertingkah laku layaknya wanita. 
Bahkan tingkahnya lebih kenes ketimbang umumnya wanita. Menurut nasihat 
psikolog, bagaimanapun sebuah peran yang diulangulang akan memengaruhi 
kepribadian seseorang. Jika seorang aktor atau aktris, baik sinetron maupun 
film sering kali berperan sebagai sosok pahlawan, misalnya, pasti akan 
berpengaruh ke dalam dirinya. 
Sebab, dia dituntut untuk menjiwai alur cerita agar permainannya total dan 
bagus. Jadi, dalam peran itu ada proses peniruan dan identifikasi diri. Konon, 
ceritanya beberapa aktor kawakan kelas Hollywood seperti Antony Quinn, 
pribadinya berubah setelah memerankan sosok semacam Hamzah dalam film kolosal 
The Message. 
Begitu pun aktor lain yang memerankan Saladin, ataupun Mahatma Gandi. Mereka 
menjadi lebih bijak dalam menjalani dan memaknai kehidupan. Pandangannya 
terhadap dunia Timur juga berubah.Mungkin sekali hal itu dipengaruhi oleh 
pemahaman dan penghayatan terhadap peran yang dimainkan. 
Hiburan Cerdas dan Edukatif 
Berdasarkan survei yang dilakukan Elly Risman di tujuh provinsi, adegan 
”kebanci- banci-an” dalam acara televisi itu lama-lama bisa diterima sebagai 
hal yang biasa, bahkan dinikmati penonton. Acara itu menjadi tontonan keluarga. 
Maklum, menonton televisi sudah membudaya di masyarakat, telah menjadi bagian 
dari agenda hidup keseharian sebagaimana makan dan tidur. Namun, pertanyaan 
Elly Risman, sadarkah pihak orangtua dan pengelola televisi akan akibat 
psikologis yang ditimbulkan oleh acara itu, khususnya terhadap perkembangan 
anak? Anak-anak dan orangtua akan kehilangan kepekaan gender dan moral. 
Bahkan potensial mengganggu proses identifikasi jati diri karena bagaimanapun 
para selebriti itu menjadi salah satu model bagi anak-anak. Adapun terhadap 
”gay” yang senang pada praktik homoseksual, di kalangan psikolog sendiri muncul 
sikap pro-kontra.Ada yang mengatakan hal itu disebabkan kelainan jiwa yang 
bersifat bawaan, sehingga keberadaan mereka pantas dikasihani. 
Jiwa wanita tetapi berada dalam tubuh laki-laki.Ada juga yang berpendapat, 
perilaku menyimpang itu semata produk lingkungan dan pendidikan. Terlepas dari 
pro-kontra tadi, selebriti yang sengaja tampil dengan peran berganti-ganti 
kelamin pada dasarnya laki-laki tulen namun senang berpenampilan sebagai 
perempuan, pantas dipertanyakan. 
Mereka tampil seperti itu semata untuk mengundang tawa pemirsa, namun kurang 
menyadari bahwa hal itu telah membuat orangtua resah karena efek negatif yang 
ditimbulkan terhadap anak-anak.Ada anak laki-laki yang minta mengenakan pakaian 
perempuan dengan segala aksesorinya, ingin meniru apa yang dilihat di televisi. 
Jika ini berkelanjutan, maka baik selebriti yang melakukan maupun anak-anak 
yang jadi pemirsa, akan mengalami perkembangan pribadi yang tidak normal. Dari 
sisi jumlah, selebriti yang senang dengan peran ini mungkin tidak banyak. 
Pemirsa pun mungkin bisa menghitung dan hafal namanama mereka.
Tetapi bagaimana dengan pihak anakanak yang jadi penonton? Jumlahnya pasti 
lebih banyak. Apakah para selebriti itu juga senang kalau anakanaknya nanti 
tumbuh dengan kepribadian ganda? Menarik direnungkan, terdapat pendapat dari 
kalangan kritikus panggung, pelawak yang tidak kreatif dan tidak cerdas, jika 
kekurangan bahan lawakan maka cenderung menyajikan lawakan yang bersifat porno 
atau bertingkah yang paradoksal semacam laki-laki lalu jadi ”wanita”. 
Padahal pelawak yang memang berbakat dan cerdas,untuk menjadi lucu tidak mesti 
menyinggung hal-hal porno.Kalaupun menyinggung, caranya tidaklah vulgar. Para 
psikolog, pendidik dan ahli agama rasanya perlu duduk bersama menyikapi 
fenomena ”waria” dalam acara televisi ini. 
Diperlukan pendekatan yang bijak dan penuh empati,bukan dengan kebencian dan 
penghakiman. Ajak dialog baik-baik tanpa merendahkan pihak lain. Pasti banyak 
pelajaran dan penjelasan ilmiah mengapa mereka bertingkah seperti itu serta 
akibat negatif apa saja yang ditimbulkan. 
Kita hargai peran mereka yang bermaksud menghibur rakyat dengan profesi mereka 
sekalian mencari rezeki dengan cara halal. Kalaupun terdapat kesalahan dan 
penyimpangan, mari kita bicara dengan penuh persaudaraan. Profesi apa sihyang 
steril dari kesalahan dan penyimpangan? (*) 
*)Rektor UIN Syarif Hidayatullah

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/berita-utama/dia-itu-om-atau-tante-sih.html

salam
budi   085229407712
http://groups.yahoo.com/group/dunia_santri


      New Email names for you! 
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

Kirim email ke