Atas Nama Penilaian Orang Lain

Didalam salah satu festival film dari Iran di ceritakan bahwa dua orang anak 
tukang jahit setiap hari berangkat sekolah dengan berlari karena jarak yang 
ditempuh kedua anak itu cukup jauh dan tidak jarang mereka sampai terlambat 
kesekolah. Karena terlalu sering di bawa berlari sepatu keduanya menjadi rusak 
, namun sang ayah hanya bisa membelikan sepatu untuk si kakak karena tabungan 
mereka tidak cukup untuk membeli dua pasang sepatu dan hal itulah yang 
menyebabkan  sang kakak berusaha mencari kerja sampingan agar bisa membelikan 
sepatu baru buat adiknya akan tetapi harga sepatu pada waktu itu terlalu mahal.

Ketika lomba lari antar sekolah akan di selenggarakan sang kakak melihat bahwa 
hadiah bagi pemenang kedua adalah sepasang sepatu dan ukurannya hampir sama 
dengan ukuran kaki adiknya. Dengan hati yang penuh harap si kakak mendaftar 
pada acara lomba tersebut. Sang kakak sengaja merahasiakan hal itu keluarganya 
termasuk adiknya agar kalo kalah terlalu berharap banyak dan kalo menang bisa 
menjadi kejutan. 

Pada hari yang telah di tentukan lomba pun dimulai, sang kakak berlari dengan 
sangat cepat karena memang setiap hari telah terbiasa berlari pulang pergi 
sekolah. Yang ada dimata sang kakak hanyalah sepatu bagi adiknya. Satu persatu 
lawan di tinggalkan sampai dia lupa bahwa garis finish semakin dekat dan hadiah 
sepatu hanya bagi juara dua sedangkan lawan masih jauh di belakang. Para guru 
dan teman-temannya menyoraki agar dia secepatnya mencapai garis finish tetapi 
dia hanya ingin jadi juara dua bukan juara satu. Semakin dekat garis finish 
teriakan penonton semakin membahana dan dia tidak bisa lagi menahan teralu 
lama. Sorak penonton mengelu-elukan dia sebagai juara tetapi airmatanya 
menangis melihat sepatu bagi adiknya yang terlewatkan, dia tidak perduli juara 
atau tidak , dia tidak begitu perduli dengan segala pujian karena yang di 
butuhkan cuma satu yaitu sepatu bagi adiknya.

Terkadang apa yang menurut kita baik belum tentu seperti itu penilaian orang 
lain terhadap kita begitu juga sebaliknya apa yang dianggap orang baik belum 
tentu bisa kita terima sebagai sebuah kebaikan, namun ada saat kita sulit 
menghindar dan terkondisi pada penilaian orang lain lalu mengenyampingkan 
pendapat kita sendiri atas nama toleransi.

Berlakulah lunak dan saling mengasihi. Hendaklah kamu saling mengalah terhadap 
yang lain. Apabila orang yang punya hak mengetahui kebaikan yang akan 
diperolehnya disebabkan menunda tuntutannya atas haknya pasti orang yang punya 
tuntutan atas haknya akan lari menjauhi orang yang dituntutnya. (HR. Bukhari)

Jika bukan karena matahari, mana mungkin orang bisa menilai indahnya cahaya 
rembulan atau gemerlapnya bintang-bintang tetapi tetap saja panasnya yang 
selalu menjadi cerita

Salam 


David

Kirim email ke