Jika Agama jadi Santapan Logika

Jika ada orang yang paling pandai bicara dilingkungan kelas pada waktu sekolah 
dulu maka Penni lah orang nya, dia mampu menyitir ayat-ayat suci dengan gaya 
pilosofis, " Apalah arti sebuah nama" katanya dengan gaya Taufik Ismail 
membacakan puisi " Nama Sukarno terkenal setelah ada yang menjadi presiden, 
siapa itu Ali RA, namanya dikenal setelah si empunya nama mengukirnya di pentas 
kejayaan Islam, Ibrahim tidak akan pernah dikenal dan di jadikan nama oleh 
banyak orang jika Nabi Allah itu tidak diberi nama seperti itu, begitu juga 
dengan Muhammad SAW, bukan nama yang membuat seseorang menjadi terkenal tetapi 
tindakan seseorang yang menjadikan namanya bermakna" katanya dengan antusias, 
ketika dia berargumen membela namanya yang sering di plesetkan teman-temannya 
sehingga berkonotasi alat kelamin laki-laki.

Berbicara mengenai topik-topik kegamaan selalu menjadi menu utama kami saat 
itu, Fahmi adalah seorang yang paling sering bicara mengenai taqdir Allah, 
sehingga apapun yang dia lakukan di klaim sebagai bagian dari taqdir Allah 
termasuk kebodohannya yang selalu mendapat nilai lima untuk pelajaran bahasa 
Inggris, dalihnya adalah " Jika sehelain daun jatuh saja sudah tercatat di 
lawuh mahfuz apalagi nilai bahasa kafir ini " jelasnya sok jadi ustadz.

Agama sering jadi santapan logika kata-kata kala itu mirip dengan debat 
politikus kelas tinggi atau warna-warni kutipan dalil di milis -milis terkenal. 
Seperti plintiran logika herman yang sering ngotak-ataik rumus fisika dan 
biologi dalam menjawab pertanyaan Fahmi " dimanakah Allah itu " , dengan 
spontan dijawab oleh ugeng dengan kutipan surat Al Baqarah ayat 115 " Dan 
kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah 
wajah Allah. " dengan rada sok nguji Fahmi menimpali " bukan nya di langit ?, 
di Al Qur'an di terangkan bahwa malaikat sering naik kelangit menyampaikan 
berita di surat As Sajdah ayat 5 "Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, 
kemudian (urusan) itu naik kepadaNya dalam satu hari yang kadarnya adalah 
seribu tahun menurut perhitunganmu "

"sudah-sudah kalian ini nampaknya pintar tapi bodoh, percuma kalian belajar 
ilmu biologi dan astronomi kalo cuma baca teks kayak gitu kalian tidak lebih 
baik dari balita di pos yandu " ejek herman " logikanya gini man , anda semua 
kan tahu kalo kalo bakteri di tubuh kita berjumlah jutaan, contohnya kau 
sajalah fahmi, di badan kau itu ada beribu bahkan berjuta sel yang mengandung 
bakteri baik di otak kau yang bebal itu , di jantung kau yang deg-degan kalo 
ngeliat cewek, di hati kau yang suka di bolak-balik sama Allah kayak pesawat 
apollo , di usus dan sebagainyalah, nah kalo di langit kita sebut konstalasi 
bintang kalo di badan kau itu kita beri nama saja konstalasi organ, ngerti 
kalian sampai disini ?" terang herman sok professor belagak tengil, gak ada 
yang jawab , malas dengarin cuma penasaran kalo ditinggalin 

" Di konstalasi organ kau itu fahmi ada namanya planet hati, jantung dan 
sebagainya, didalam jantung kau itu ada beribu bahkan jutaan bakteri, nah salah 
satu bakteri itu bertanya di mana si Fahmi berada, temannya menjawab di langit 
atau diatas ada juga yang menjawab di mana-mana , lalu yang mana yang benar 
menurut kau si empunya organ ?" tanya Herman mengahiri  bualannya

Celotehan terus saja berlanjut tanpa arah, menerobos adab kesopanan berfikir , 
mempermalukan Albert Einstain selaku pemikir ulung bahkan tidak layak di bilang 
ummat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassallam karena wasiat beliau ( Al Qur'an 
dan Hadist ) lebih banyak di ceritakan daripada di laksanakan.

Salam

David

Kirim email ke