Knowing for Doing

Sambil memegang buku tebak-tebakan Pak Syahnan bertanya kepada anaknya yang 
baru kelas tiga SD " Coba tebak apa yang paling besar di muka bumi " , " gajah 
" jawab adiknya yang kelas satu SD memotong jawaban kakaknya " gunung " jawab 
si kakak tidak mau kalah. Pak Syahnan hanya tersenyum sambil melirik kunci 
jawaban yang ada di buku " ya semua benar, tapi ada yang lebih tepat, yaitu 
fikiran " , " loh kok bisa gitu yah " tanya si adik penasaran , " karena gajah 
dan gunung bisa masuk kedalam fikiran kalian sedangkan gajah dan gunung 
terkadang tidak bisa menahan beban fikiran manusia" jawab Pak Syahnan walau dia 
sadar bahwa kedua anaknya tidak begitu memahami apa yang dia maksud sambil 
fikirannya menerawang jauh ke Irian Jaya dimana gunung emas telah berubah 
menjadi lembah limbah, tempat kehebatan eksplorasi pikiran manusia yang di 
tunggangi nafsu keserakahan.

Tanpa kita sadari apa yang kita perbuat, alat yang kita gunakan, tempat yang 
kita diami , dan apa yang kita kenakan merupakan adaptasi dari hasil pikiran 
manusia yang terus berkembang, jika jarak antara satu benda dengan benda lain 
tidak bisa di perpendek maka waktu untuk menempuhnyalah yang di persingkat, 
dahulu untuk menerima informasi melalui pos di butuhkan waktu berhari-hari dan 
hari ini berubah menjadi hitungan detik. Namun ketajaman daya jelajah fikiran 
tidak bisa membentuk karakter. Keimanan tidak bisa mengakar hanya dengan 
mengkonsumsi berbagai informasi baik berupa buku, ebook hadist , tafsir dan 
berbagai artikel yang 'menyentuh' yang   menyebar lewat milis maupun yang 
tertempel di mading masjid, karena semuanya di bentuk dari dalam diri lewat 
proses pembiasaan.

 " Seseorang bisa saja memiliki pengetahuan berkat pengetahuan orang lain 
tetapi sulit seseorang menjadi bijaksana dengan hanya menyaksikan kebijaksanaan 
orang lain " ( de montaigne)

Tulisan ini adalah proses pendefinisian keadaan dan hal ini mudah dilakukan 
oleh siapapun tetapi yang paling sulit adalah merealisasikan definisi ini 
menjadi " something to do " . Entah benar atau tidak seorang ustadz pernah 
berkata perbedaan seorang muballig dan da'i di lihat dari proses pencontohannya 
kepada masyarakat, muballig lebih sering lewat mulut sedangkan da'i ditindak 
lanjuti dengan perbuatan. Lalu bagaimana dengan kita ?

"Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak 
kamu kerjakan" (QS 63:3)

Salam


David

Kirim email ke