Perbedaan Yang Menyatukan

Teringat dahulu ketika di sekolah pas pelajaran agama Islam guru bercerita 
tentang berbagai karakter manusia dalam menrima keputusan Allah yang di kutip 
dari hadist nabi 
- Ada orang yang dikasih sehat dia bersyukur dan ketika di kasih sakit dia 
menjadi kufur maka sakit adalah ujian baginya
- Ada orang yang dikasih sakit dia bertambah dekat dengan Allah sedangkan 
ketika sehat dia lupa kepada Allah maka sehat adalah ujian baginya
- Ada orang yang dikasih kekayaan dia bersyukur kepada Allah tetapi ketika 
kemiskinan menghampirinya dia kecewa dan meninggalkan Allah maka kemiskinan 
menjadi cobaan baginya
-Ada orang yang dijadikan Allah dalam keadaan miskin justru bertambah dekat 
dengan Allah dan ketika di amanahkan harta  dia menjadi lupa kepada Allah maka 
harta menjadi cobaan baginya

Salah satu kelebihan manusia adalah di anugrahi berbagai sifat dan karakater 
yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Perlakuan kita terhadap 
seseorang bisa dinilai berbagai macam pandangan oleh orang lain, seperti Pak 
Sakran yang sering berbicara dengan nadi tinggi maklumlah pria asal tapanuli 
tersebut memang di lahirkan barangkali dalam susana hingar bingar bagi orang 
jawa, sehingga ketika menasehati seseorang dia tampak seperti marah.

Suatu ketika Pak Imron yang dari yogya tetangganya pernah menegur cara dia 
menyampaikan nasehat " Pak Sakran, menasehati orang itu bagus tapi caranyakan 
gak mesti keras begitu, kan ada cara lemah lembut yang bisa membuat orang lain 
jadi senang " saran Pak Imron yang menasehati berdasarkan sifatnya.  Tampak 
bijaksana mungkin tetapi tidak cukup adil karena ini merupakan " habit 
comparison" sama tidak adilnya dengan Pak Sakran yang menganggap Pak Imron 
tidak tidak tegas, " plintat plitut " di istilahkan olehnya karena 
membandingkan dengan  sifat ketegasan yang dimilikinya dan seperti orang 
tapanuli pada umumnya.

Jika yang menasehati bisa berbeda maka demikian juga dengan orang yang 
dinasehati, terkadang apa yang kita inginkan terhadap seseorang yang kita beri 
pendapat tidak sama dengan harapan mereka terhadap pendapat yang mereka 
inginkan dari kita, hal ini lah yang mungkin telah lama di fikirkan 
negara-negara maju dan mereka menamainya "counseling" .  Secara umum Allah 
sudah mengindikasikan hal ini lewat surat Ibrahim

"Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya 
ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan 
siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. 
Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana". (QS 14:4)

" Egoisme terkadang menjadikan pendapat orang lain laksana cahaya yang 
menyilaukan mata sedangkan pendapat sendiri seperti bias pelangi yang melingkar 
di cakrawala " ( David )

Salam


David

Kirim email ke