Ketika Ketidak Cocokan Datang

Lebih dari seribu empat ratus tahun kitab itu beredar di masyarakat, dari 
goresan diatas percah kain, lembaran kayu, maupun yang bersemayam di ingatan 
para pionir agama ini yang terpisah-pisah sampai disatukan dalam sebuah 
mahakarya. Ragam penafsiran telah tersebar dalam berbagai bahasa yang berarti 
berbagai macam pula pemikiran orang terhadapnya dan hal itu wajar  karena jika 
pemikiran semua orang sama tentu tidak ada lagi yang mau berfikir. Disisi lain 
kadangkala kita susah membuka diri bagi pemikiran orang lain ( open minded 
difficulty ), termasuk pasangan kita sendiri.

Suatu hari,  sekitar tujuh belas tahun yang lalu, jauh kami  tersasar di salah 
satu desa di Sukabumi mencari alamat seorang teman, tapi di tengah perjalanan 
kertas alamat tersebut tercecer hilang dan yang teringat hanya nama desa yang 
dituju  yaitu desa gamping. Satu persatu orang  yang lewat didesa tersebut di 
tanya tapi tak satupun yang mengenal orang yang bernama Ahmad Sugianto. Kami 
memutuskan untuk mencari tempat istirahat dan sebaik-baiknya tempat istirahat 
bagi yang tersasar adalah masjid. Mungkin jika alat komunikasi telah canggih 
seperti sekarang, hal ini tentu tidak terlalu merepotkan. 

Masjid yang akan kami tuju ternyata ramai oleh para peserta pengajian yang 
mengadakan acara maulid Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wassallam. Ada 
sedikit harapan siapa tahu diantara kerumunan orang tersebut kami menemukan 
orang kami cari yaitu Sugianto karena hampir seminggu dia tidak masuk sekolah, 
dan terdengar kabar kalau dia pulang ke Sukabumi, tempat orang tuanya.

Nasib baik berpihak kepada kami, diantara kerumunan pedagang yang menjajakan 
dagangan kepada jama'ah masjid, terlihat seorang lelaki kurus agak kriting 
menggendong anak kecil sambil menjajakan kue-kue basah dalam sebuah nampan, 
tidak salah lagi laki-laki adalah Ahmad Sugianto yang kami cari dan kami pun 
menghampirinya dengan gembira.

Sugianto kaget sewaktu mengtahui kalau kami jauh-jauh ke Sukabumi hanya untuk 
melihat keadaannya. Dengan raut muka yang tampak sedih dia bercerita bahwa 
orang tuanya baru saja bercerai setelah sang ibu tahu kalo ayahnya menikah 
lagi. Adik-adik nya yang masih kecil tampak kebingungan karena kurang mengerti 
permasalahannya tetapi yang jelas sejak saat itu ayahnya tidak pernah lagi 
menampakkan diri. Sugianto menjelaskan bahwa dia mungkin masih akan tinggal 
disana beberapa hari menghibur adik-adiknya. Di Jakarta sendiri Sugianto 
bekerja sebagi petugas kebersihan asrama mahasiswa di dekat sekolah, karena 
sekolah kami memang masuk siang dan dia mendapat keringanan untuk bisa sekolah 
dan melanjutkan pekerjaannya pada sore harinya.

Perceraian adalah sesuatu yang tidak hanya di benci oleh Allah tetapi juga oleh 
anak-anak yang menjadi korban. Jika pada sebagian orang ada yang berpisah dari 
pasangannya karena maut, maka sebahagian yang lain berpisah karena merasa tidak 
ada kecocokan lagi, namun diluar itu rasa yang jauh lebih sakit akan dialami 
oleh anak-anak kita sesuatu yang dimanahkan Allah kepada kita tanpa perlu 
embel-embel cocok atau tidaknya kita terhadap pasangan kita masing-masing.

Salam

David

Kirim email ke