Nikmat yang Terlupakan

"Fabi ayyi 'ala 'irabbikuma tukazzibaan" kata Allah beberapa kali dalam surat 
Ar Rahman. Ada banyak nikmat Allah yang tidak bisa kita hitung tapi bisa kita 
rasakan, dan adakalanya nikmat itu baru bisa terhitung ketika kita berhenti 
merasakannya. Pak Sarmili sering berangan-angan memilki uang banyak, 
penghasilannya yang didapat saat ini dinilai masih kurang. Sebenarnya walaupun 
hidup dalam kesederhanaan Pak Sarmili bukan termasuk dalam orang yang 
kekurangan, bahkan dengan pekerjaan nya sebagai petugas kebersihan di Sekolah 
Dasar Negeri, Pak Sarmili bisa menyekolahkan ketiga anaknya.

" Seandainya saya mendapat uang seratus juta, mungkin cerita hidup saya agak 
sedikit berbeda " kata Pak Sarmili yang memandang kosong kedepan penuh dengan 
khayalan. Diantara jama'ah masjid Pak Sarmili termasuk orang rajin beribadah 
dan pandai bersosialisasi diantara masyarakat.

Ketika hendak mengantarkan anaknya yang bungsu  kesekolah, Pak Sarmili di 
tabrak mobil sedan milik anak seorang pengusaha yang baru belajar mengendarai 
mobil. Anak bungsunya hanya cidera kecil tetapi Pak Sarmili terkena luka cukup 
parah di kepala , bahkan matanya mengalami luka cukup serius. Memang segala 
biayai pengobatan di tanggung oleh pengusaha, ayah anak yang menabrak tersebut, 
tetapi ada luka yang tidak bisa sembuh yaitu kedua mata Pak Sarmili.

Sebagai tanda bersalah dan keprihatinan pengusaha tersebut memberikan uang 
sebanyak seratus juta rupiah kepada Pak Sarmili diluar biaya pengobatan, dan 
biaya rawat inap dirumah sakit. Pak Sarmili hanya bisa menangis, Allah telah 
mengabulkan angan-angannya tetapi sebagai gantinya Allah mengambil sesuatu yang 
ketika dia ada dia jarang di syukuri sebagai nikmat.

"Hal jazaa'ul ikhsani illal ikhsan , Fabi ayyi 'ala 'irabbikuma tukazzibaan" 
Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula, maka nikmat Tuhan manalagi 
yang hendak kamu dustakan"  (QS 55:60-61)

Salam


David

Kirim email ke