Untuk Temanku Ardiyansah

Sambil berteduh disebuah halte bis, saya memandang kearah jalanan yang mulai 
tergenang air. Terlihat orang hilir mudik, ada yang sekedar mencari tempat 
berteduh, ada juga yang tetap berjalan santai dengan payung ditangan. 
Sekelompok pengamen bernyanyi di pojok kanan halte entah berusaha mempersiapkan 
lagu untuk penampilan berikutnya atau hanya sekedar menghibur diri. " Dunia 
ini....panggung sandiwara....ceritanya mudah berubah" alunan lagupun terdengar 
di iringi gitar dan beberapa alat musik buatan seperti galon air mineral yang 
berfungsi sebagai gendang.  

Entah mengapa pikiran saya tiba-tiba melayang jauh kemasa kecil sewaktu masih 
kelas satu sekolah dasar, memang tidak banyak yang bisa diingat dari peristiwa 
masakecil kecuali kilasan-kilasan yang cukup membekas termasuk kehilangan 
seorang teman. Ardiyansah nama teman saya tersebut. Sehari-hari dia tinggal 
bersama ibu dan seorang adik perempuan, sedangkan ayahnya jarang pulang karena 
bekerja sebagai nelayan memang membutuhkan waktu dua sampai tiga minggu untuk 
mencari ikan baru bisa mendarat dan menjual hasil tangkapan.

Ardiyansah sering sekali mengeluhkan ibu nya yang seperti tidak sayang 
kepadanya. Apapun tindakan nya yang kurang berkenan dihati sang ibu, maka dia 
selalu mendapat omelan bahkan tidak jarang mendapat pukulan dan hal tersebut 
tidak berlaku bagi adik perempuannya. Dia mengatakan bahwa nasibnya sama 
seperti dalam film Ratapan Anak Tiri yang kami tonton di dirumah tetangga 
seminggu sebelumnya, tetapi bedanya adalah bahwa ada atau tidaknya ayahnya 
perlakuannya tetap sama dan sang ayah hanya diam saja melihat ibu memarahinya 
walupun pada hal-hal sepele seperti telambat menimba air di sumur untuk mandi 
adiknya.

Sehari setelah keberangkatan ayahnya, Ardiyansah mendadak sakit panas tetapi 
dia berusaha mendiamkan karena menganggap penyakitnya hal biasa dan tetap 
mengerjakan rutinitas pekerjaan rumah yang menurut ukuran saya waktu itu 
terlalu berlebihan/overload. Setelah empat hari panasnya tidak juga turun dan 
kondisi badannya mulai melemah tetapi ibunya seperti tidak mau tahu dimana 
pekerjaan rumah tetap harus dikerjakan. Siang itu hujan turun sangat deras, 
adik perempuannya terjatuh dan terluka dan ibunya minta supaya dibelikan obat 
di warung. Sebenarnya kondisi Ardiyansah jauh lebih parah dari pada adiknya 
tapi ketidakmautahuan yang membuatnya jadi berbeda.

Ardiyansah memaksakan diri berjalan diantara guyuran hujan. Payung kecilnya 
tidak mampu menahan terpaan air hujan dari samping yang dibawa angin, sehingga 
sebagian tubuhnya basah , menggigil dan obat ditangannya jatuh. Mengetahui obat 
untuk anak perempuannya basah walaupun pada kenyataannya obat(merah) tersebut 
masih utuh karena kemasan dalam terbungkus plastik tetap saja omelan yang 
diterimanya, tetapi kali ini Ardiyansah menangis. Dia tidak tahu lagi kepada 
siapa dia mengabarkan rasa sakitnya, selain mulutnya yang bergumam memanjatkan 
doa dan tertidur di beranda depan rumahnya.

Ibu Ardiyansyah terdengar berteriak memanggilnya tetapi tidak ada suara 
sahutan, Ardiyansah tetap terbaring kaku. Temanku itu telah meninggalkan kami 
untuk selamanya, meninggalkan diskriminasi yang menimpanya, meninggalkan derita 
yang dideranya. Dia tidak mendapatkan toleransi dari penyakit demam berdarah 
menghinggapi tubuh kecilnya dan sang ayah tidak tahu kabarnya ada dimana ( 
maklumlah belum ada handpone seperti saat ini).

Dua minggu setelah ayahnya pulang, saya mendapatkan cerita bahwa Ardiyansyah 
adalah anak dari istri kedua ayahnya tetapi ibunya meninggal sewaktu 
melahirkannya. Ibunya yang tidak rela dimadu melampiaskan amarahnya pada 
Ardiyansah, seorang anak yang tidak pernah tahu permasalahan orang tuanya. 
Sahabatku semua ironi ini masih sering terjadi dimanapun , terutama 
didesa-desa, dimana masalah ekonomi  sering memicu ketidak harmonisan. Tataplah 
mata anak-anak kita dan bercerminlah dipantulan airmatanya, siapatahu kita baru 
sadar ternyata kita adalah orang tua yang buruk rupa.

Salam

David

Kirim email ke