Relatifitas Potensi Diri 

Banyak segmen kehidupan didunia ini yang bersifat relatif sehingga tidak salah 
juga jika banyak orang yang mengagung-agungkan teori relatifitas Einstain 
walaupun dalam aspek yang berbeda. Meskipun besar tenaga yang pergunakan sama, 
namun hasilnya bisa berbeda jika tenaga tersebut dimanfaatkan pada tempat atau 
pekerjaan yang berbeda seperti petani dan nelayan, atau buruh dan tukang becak 
atau staf pembelian dan staf penjualan, atau mentri dan mantri. Yang terakhir 
itu tidak usah diperhitungkan karena volume pekerjaannya jelas berbeda. 
Maksudnya adalah prestasi seorang petani tidak layak dibandingkan dengan 
prestasi seorang nelayan, karena nilai usaha nelayan lebih adil jika 
dibandingkan dengan nelayan yang lain.

Dalam format yang berbeda saya pernah menulis artikel tentang nilai tolak ukur 
usaha kita terhadap suatu potensi yang di amanahkan Allah kepada kita misalnya 
seseorang yang diamanahkan Allah ilmu seratus tetapi hanya mengamalkan sepuluh 
tidak berbeda dengan seseorang yang diamanahkan Allah ilmu sepuluh dan hanya 
mengamalkan satu ilmu, karena keduanya hanya mengamalkan sepersepuluh dari 
nilai potensi yang di berikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'alaa kepada mereka. 
Lalu apakah pemberian potensi itu merupakan bagian dari takdir Allah ? taqdir 
seperti ini didalam syarah Arba'in An Nawawi disebut sebagai taqdir Umri yang 
telah ditetapkan sewaktu janin berumur empat bulan. Tugas kita hanya 
memaksimalkan potensi yang di amanahkan Allah tersebut karena takaran 
kuantitas, potensi setiap orang pasti berbeda. Untuk lebih adil meimbang 
sesuatu jangan hanya melihat nilai amaliyah tetapi juga potensi yang diberikan. 
Amaliyah seorang ustadz bisa jadi sama nilainya dengan amaliyah seorang buruh 
tani jika ditinjau dari potensi yang dimanahkan Allah kepada mereka.

 
Merubah potensi yang telah ditaqdirkan Allah bisa saja dilakukan karena didalam 
surat Ar Ra'd ayat tiga sembilan Allah berfirman "Allah menghapuskan apa yang 
Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah 
terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh) "  dan untuk bisa mendapatkan hal tersebut 
Rasulullah memberi petunjuk lewat  hadistnya  yaitu  " Tiada sesuatu yang dapat 
menolak takdir kecuali doa, dan tiada yang dapat menambah umur kecuali amal 
kebajikan. Sesungguhnya seorang diharamkan rezeki baginya disebabkan dosa yang 
diperbuatnya". (HR. Tirmidzi dan Al Hakim)

Ikhtiar yang dilakukan manusia merubah potensi Allah salah satunya adalah 
dengan belajar dan bekerja, akan tetapi setingan tempat dan lingkungan juga 
mesti diperhatikan artinya proses belajarnya seorang petani tentu beda dengan 
proses belajarnya seorang pegawai apalagi memanfaatkan fasiltas tehnologi 
seperti sekarang, artinya suatu potensipun bersifat variatif bahkan relatif. 
Terlepas dari semua itu, kita mesti optimis dan selalu berbaik sangka kepada 
Allah terhadap apapun yang telah di tetapkanNya kepada kita.


Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah daripada seorang 
mukmin yang lemah dalam segala kebaikan. Peliharalah apa-apa yang menguntungkan 
kamu dan mohonlah pertolongan Allah, dan jangan lemah semangat (patah hati). 
Jika ditimpa suatu musibah janganlah berkata, "Oh andaikata aku tadinya 
melakukan itu tentu berakibat begini dan begitu", tetapi katakanlah, "Ini 
takdir Allah dan apa yang dikehendaki Allah pasti dikerjakan-Nya." Ketahuilah, 
sesungguhnya ucapan: "andaikata" dan "jikalau" membuka peluang bagi (masuknya) 
pekerjaan setan." (HR. Muslim)

 
"Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang 
yakin. dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? 
Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezkimu dan terdapat (pula) apa yang 
dijanjikan kepadamu. Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang 
dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu 
ucapkan" (Adz Dzaariyaat, 20-23)

Salam


David
www.sebuahtitik.blogspot.com

Kirim email ke