Fanatik Buta

Dari sebuah buku anekdot, saya mengambil sebuah cerita untuk bisa kita ambil 
hikmah didalamnya. Tersebutlah seorang pemuda bernama Vizai, nama aslinya 
Zainuddin tetapi agar lebih keren maka dia di panggil dengan nama Vizai. 
Pekerjaanya adalah sebagai pemain sepak bola amatir. Vizai baru mulai mendalami 
agama Islam. Yang ada dikepalanya Islam itu berasal dari Arab, sehingga semua 
yang berbau Arab mulai menghinggapi badannya. Mulai dari baju gamis, kopiah, 
minyak wangi sampai puluhan habbatus saudah bertengger dilemarinya hanya karena 
ada hadist nabi di karton pembungkus. Di rumahnya banyak di tempel 
bermacam-macam kaligrafi dan foto ulama terkenal.

Hari itu ada pertandingan persahabatan melawan Malaysia dan wasit pertandingan 
berasal  dari Arab. Vizai sangat senang karena dia beranggapan bahwa pasti 
wasit tersebut akan berlaku adil karena dia dari Arab, tanah para nabi. Ketika 
pertandingan dimulai Vizai sangat bersemangat sampai dia melakukan kesalahan 
dengan menendang kaki lawan. Wasit mendatangi Vizai sambil memberikan 
peringatan, tetapi entah mengapa tiba-tiba wasit tersebut langsung menyuruh 
Vizai keluar dari lapangan. Sesampai di tepi lapangan pelatih Vizai menanyakan 
apa yang di lakukan Vizai sampai wasit tersebut marah. Vizai yang masih 
kebingungan mengatakan bahwa dia hanya mengucapkan satu kata yaitu "aamiiiin" 
setiap wasit tersebut berbicara.
--------------------------------------------------

Diluar sana mungkin banyak Vizai-Vizai lain yang yang mempunyai pandangan yang 
sama tentang Islam. Padahal Rasulullah pernah bersabda :
"Wahai segenap manusia, sesungguhnya Robbmu satu dan bapakmu satu. Tidak ada 
kelebihan bagi seorang Arab atas orang Ajam (bukan Arab) dan bagi seorang yang 
bukan Arab atas orang Arab dan yang (berkulit) merah atas yang hitam dan yang 
hitam atas yang merah, kecuali dengan ketakwaannya. Apakah aku sudah 
menyampaikan hal ini?" (HR. Ahmad)

-----------------------------------------------

Berfikir Logic

Berfikir tidak hanya membutuhkan kecerdasan tapi juga nalar. Dalam berfikir 
sering kita meninggalkan kontekstual dan lebih fokus pada sesuatu yang 
tekstual. Pada akhirnya,  walaupun sama-sama benar tetapi berfikir secara 
kontekstual akan lebih dipilih oleh orang kebanyakan karena hasilnya lebih 
"applicable".  Saya coba ilustrasikan lewat sebuah contoh yang saya ambil dari 
sebuah buku

Dari dalam  kelas di sebuah sekolah dasar tampak seorang  Guru matematika 
sedang menerangkan fungsi penjumlahan dan pengurangan kepada muridnya. Setelah 
merasa semua mengerti,  Guru tersebut mengajukan pertanyaan yang dimaksudkan 
untuk menguji sejauh mana daya tangkap anak muridnya terhadap materi yang telah 
dia sampaikan. " Amir berapa jumlah 250 ditambah 250 ?" kata Gurunya. " 500" bu 
jawab amir dengan tangkas. " ya kamu benar " sahut sang Guru. Kemudian Guru 
tersebut menaikan nilai dari angkanya " Rudi berapa jumlah dari 750 ditambah 
550 lalu dikurangi 100 ? tanya guru tersebut. Rudi tampak menghitung sebentar, 
lalu kemudian dijawab olehnya " 1200  bu ".  " benar , dan pertanyaan terakhir 
berupa cerita, dengarkan dengan baik" kata Guru tersebut membuat model soal 
yang lain. 

" Farid diberi uang oleh ibunya sebanyak 2000 rupiah untuk membeli bumbu masak. 
Setelah sampai di pasar Farid membeli cabe dengan harga 200, lalu ia membeli 
garam dengan harga 100 setelah itu dia membeli bawang merah dengan harga 300. 
Semua barang tersebut dibeli pada toko yang sama. Pertanyaannya adalah berapa 
jumlah uang yang mesti di kembalikan oleh pemilik toko tersebut ?" tanya guru 
tersebut mengahiri pertanyaannya. " 400 rupiah bu "jawab Farid, yang membuat 
kelas jadi ribut karena ada yang menyalahkan hasil dari penjumlahan Farid.

" Salah bu, jumlah barang yang di beli adalah 200 ditambah 100 ditambah 300 
maka hasilnya 600 sedangkan uang yang dimiliki adalah 2000, maka  di kurangi 
600 sama dengan 1400 rupiah bu " jawab Amir dengan bangga. Farid hanya 
tersebyum kemudian dia berkata " Kita sudah tahu jumlah barang yang dibeli 
adalah 600, lalu mengapa mesti mengasih uang 2000 kepada penjual bukankah 
pecahan uang 1000 sudah cukup karena kita tidak pernah punya uang pecahan 2000" 
kata Farid yang acungi jempol oleh Gurunya

Dari : www.sebuahtitik.blogspot.com

Kirim email ke