Petualangan Lima Santri

2. Kebiasaan Yang Dilestarikan

Apalah arti sebuah nama kata pepatah, tetapi tanpa nama sulit memberikan arti 
pada sesuatu maksudnya kalau mau membuat sesuatu itu berarti maka berilah nama, 
lalu apa artinya pepatah tadi, entahlah tapi yang jelas walaupun sudah tidak 
ada hubungannya, tetapi kata kereta dan api seperti saudara kandung yang 
dilestarikan dalam kamus bahasa Indonesia. Mungkin dalam beberapa hal cerita 
hubungan nasab atau keturunan ada kaitannya dengan hubungan sebab akibat. Tidak 
ada yang pernah melarang transformasi atar suku dan ras, tetapi jika kemudian 
transformasi tersebut melahirkan sebuah kombinasi baru apalagi berkaitan dengan 
nama bisa sedikit mengganggu telinga kita. Panggil saja dia dengan sebutan 
Metung , tetapi tung nya agak sedikit di medokkan biar keliatan jawanya 
kependekan dari Slamet Marpaung, ibu dari Tegal bapak dari Siantar dan dia 
lahir di Banyumas dimana lokasi gunung Slamet yang merupakan gunung kedua 
tertinggi di jawa dengan ketinggian tiga ribu empat ratus tiga puluh dua meter 
di bawah permukaan laut dan berdiri diatara kabupaten banyumas dan kabupaten 
Pemalang. Mungkin nama gunung itu bisa untuk mendampingi ketinggian marga 
ayahnya yang akan di embannya kelak.

Dengan tas ransel ditangan Metung masih clengak-clinguk mencari temannya yang 
hilang. Hampir setengah jam Metung menunggu Jaja ke toilet tapi anak garut itu 
belum juga menampakan batang hidungnya apalagi batang lehernya yang agak 
memanjang ketika mencium tiga jenis bau yang berbeda, yaitu bau makanan, bau 
uang dan bau kesempatan. Bau yang terakhir itu juga dalam rangka mencium bau 
yang pertama dan kedua yaitu kesempatan mencium bau makanan dan uang. Jaja yang 
berbadan tambun memang senang memanjakan perutnya. Dia hampir tidak punya 
alasan menolak ajakan perutnya yang bersiul jika waktu untuk  mengkonsumsi 
sesuatu telah melewati angka  setengah jam. Benar-benar perut yang tidak punya 
toleransi. "Kemana sitambun itu "keluh Metung " jangan-jangan sehabis membuang 
hajat di mengisi kembali tangkinya itu lalu dibuang lagi , mungkin dia mau 
meringkas proses memamak biak dalam satu waktu sehingga di perjalan dia bisa 
lenggang tanpa di ganggu oleh keluhan perutnya " maki Metung dalam hati.

"Mukamu nampaknya kusut sekali Tung" , 
" Eh kamu Dri, si Salman mana biasanya dia paling duluan kalo urusan 
jalan-jalan" tanya Metung kepada Hendri yang baru tiba di staisun kereta. 
"Gak tau juga mungkin sudah pulas tidur diatas kereta, nanti kita cari saja 
soalnya nggak susah nyarinya tinggal lihat nomor bangku, masalahnya tinggal si 
tambun sama si begeng nih, sudah keliatan belum tadi ?" , 
" Si Jaja sih sudah datang terus dia ke toilet, tapi sampai sekarang masih 
belum keliatan juga padahal sudah hampir setengah jam aku nunggu disini" keluh 
Metung. 

Jaja memang berbadan tambun, itu menunjukkan kalau keluarganya menjunjung 
tinggi istilah empat sehat lima sempurna. Walaupun berbadan gempal tapi jauh 
dari obesitas karena kesempatan untuk memakmurkan perut sangat terlarang di 
pesantren yang memiliki motto ' Berhentilah makan sebelum kenyang' seperti 
nasehat Rasulullah SAW kepada ummatnya. Tetap saja porsi makan Jaja dua kali 
lipat anak seusianya dan dia masih beranggapan porsi seperti itu belum 
mengenyangkan sehingga hadist Rasulullah SAW masih dirasa melekat pada dirinya, 
entah malaikat percaya atau tidak karena malaikatpun tidak bisa membaca isi 
hati manusia.

Masa liburan memang selalu sama, apalagi bagi anak menjelang remaja, indah, 
mungkin itulah kata yang tepat menggambarkannya, kepenatan berhimpit kerinduan 
membuat para santri berhamburan meninggalkan pondok. Ada yang balik ke kota 
tempat tinggalnya ada juga yang berlibur ketempat tinggal temannya. Salman, 
Hendri, Slamet Marpaung, Jaja dan Sugeng berniat main ke Jakarta. Kebetulan 
Salman dan Hendri tinggal disana sehingga jatah ketempatan di bagi dua. Jauh 
hari mereka telah memesan tiket kereta api, transportasi favorit  kelas 
menengah kebawah. Diantara kelima orang tersebut hanya Sugeng yang sering 
terlambat jika diadakan suatu acara, sehingga untuk berjanji dengan Sugeng 
mesti di majukan dua jam , misal kita akan berkumpul jam sepuluh maka informasi 
yang harus diberikan kepada Sugeng adalah kumpul jam delapan maka ada 
kemungkinan kumpul bersama bahkan terkadang dia datang duluan sambil 
membanggakan ketepat waktuannya. Hanya saja dalam hal ini anak-anak lain tidak 
bisa memanipulasi jadwal kereta karena jelas tertulis disana jam keberangkatan, 
walau keberangkatannyapun terkadang sering molor tapi itu urusan lain karena 
urusannya tinggal masalah kebiasaan.

Sekitar dua ratus meter dari stasiun kereta , Sugeng berjalan dengan santai 
sambil menjinjing tas plastik berisi sepatu karena didalam kereta memang lebih 
nyaman menggunakan sandal, sedangkan tas sandangnya telah dipenuhi oleh pakaian 
dan buku. Tidak beberapa lama Sugeng berjalan dia berpapasan dengan Jaja 
" loh kok keluar Ja, tas kamu mana, terus yang lain sudah datang belum ?" , 
" ada sama Metung, yang aku tahu sih baru Metung sama Salman itu juga gak 
sengaja aku lihat dia sudah terbang bersama lamunannya di jendela kereta 
sewaktu aku mau ke toilet " jawab Jaja 
" katanya mau ke toilet tapi kok diluar stasiun memang toilet distasiun rusak 
?" , 
" bukan masalah rusak atau tidak tapi penuh geng ,belum lagi yang antri, jadi 
aku cari diluar saja, eh geng tungguin sebentar yah sepertinya proses sirkulasi 
tidak bisa ditahan nih ?" pinta Jaja setengah memelas 
" oooh biasa ya jeritan perut ......dasar tambun " sahut Sugeng memaklumi 
kebiasaan terkenal si Jaja. Waktu keberangkatan masih menyisakan  dua puluh 
menit lagi, masih bisa gabung sama si Jaja nih pikir Sugeng. Tanpa pikir 
panjang dia duduk memesan nasi uduk disamping Jaja yang sudah melahap 
makanannya terlebih dahulu. 

Suasana stasiun memang sangat ramai tidak terkecuali warung-warung makanan 
disekitarnya, makan sambil berdesak-desakan bisa jadi sesuatu yang dilumrahkan 
diarea tersebut. Jaja dan Sugeng begitu menikmati makanannya sampai tidak 
menghiraukan beberapa orang pria dari tadi telah menempel di belakang mereka 
lalu kemudian hilang di antara kerumunan massa. setelah menyelesaikan transaksi 
perut, Jaja dan Sugeng bergegas menuju stasiun. Dari kejauhan tampak wajau 
Metung merah padam menahan emosi dan disampingnya Hendri kelihatan sibuk 
membaca tabloid ibokota menghilangkan kejenuhan pada sesuatu yang secara umum 
di benci umat manusia yaitu  menunggu. 
" Eh tung nih ada gorengan sama teh manis hangat yah luamyan buat ganjal perut" 
sapa Jaja berusaha mnegalihkan rasa kesal Metung dengan barang sogokannya. 
Tidak ada jawaban dari mulut Metung selain mengambil pemberian Jaja sambil 
memelototkan matanya sewaktu menggigit gorengan tersebut seolah sedang 
menggigit kuping si Jaja sampai putus. 
" Halo Bos, apa khabar belum terlambatkan ?" tanya Sugeng kepada Hendri yang 
sedang acuh tak acuh dengan rekannya yang lain, sambil membolak-balik tabloid 
dia berkata " Kau tuh Geng sebelum di kentutin asap kereta yang lagi jalan 
belum ada kata terlambat bagi kau, sudahlah pusing aku lihat kalian, jangan 
sering-seringlah mempertotonkan ciri khas anak bangsa ini yakni jam yang selalu 
molor percuma tiap hari kalian baca surat Al Ashr"

Hendri memang lebih senior, dalam beberapa mata pelajaran rekannya sering 
bertanya kepadanya kecuali Salman yang justru sering mendebatnya, maklum kedua 
anak itu mempunyai tabiat yang keras dan tidak pernah mau kalah dalam hal 
apapun tetapi selalu kompak dalam urusan jalan-jalan, yah hobilah  yang 
mempersatukan mereka. Setelah membereskan perlengkapan, mereka memasuki kereta 
mencari nomor yang tertera pada tiket. Tidak beberapa lama terlihat seorang 
anak melamun memandang kearah jendela, anak itu menempati salah satu bangku 
yang telah mereka pesan 
" Dooor!!! ngelamun aja, ntar juga sampe tenang aja man " teriak Jaja sambil 
menghenpaskan badan gendutnya disamping Salman yang dari tadi menunggu diatas 
kereta. 
" wah ternyata yang duduk disampingku si tambun , awas yah kalo kebiasaan 
kentutmu di terapkan disini akan ku remas perutmu biar sekalian keluar isinya" 
tegur Salman sambil terkekeh di iringi oleh tawa rekannya yang lain.

Liburan telah tiba kawan, sesuatu yang di rindukan anak-anak berseragam di 
negeri ini dari dahulu sampai pada masa yang akan datang. Cerita pada masa itu 
selalu memiliki warna tersendiri di hati semua orang yang pernah sekolah, 
cerita yang mungkin suatu ketika akan di dongengkan pada anak cucu atau 
tersimpan rapi pada sebuah diary



Bersambung...................

David. S

Kirim email ke