Predikat Taqwa

Dari balik dunia huruf dan angka, langit diatas kepala kita telah menghasilkan 
ribuan sketsa kata dari orang-orang brillian yang dimiliki penghuni bumi ini. 
Panca indera kita di wajibkan beradaptasi dengan kemajuan tehnologi agar 
perputaran waktu tidak mengunci  pikiran kita dalam satu dimensi ruang. Telinga 
kita telah mampu mendengar cerita teman yang berjarak ribuan kilometer, mata 
kita telah mampu menembus langit menuju beribu galaksi diantariksa akan tetapi 
kesadaran kita akan keberadaan Sang Pencipta ini tidak pernah beranjak 
kemana-mana.

Biasanya menjelang Ramadhan dan Syawal, email di banjiri oleh ukiran kata maaf 
, atau kata sambutan terhadap bulan tersebut. Indikator taqwa tidak hanya 
puasa. Bahkan dalam rukun Islam, puasa hanya menempati urutan ketiga setelah 
syahadat dan sholat. Jika kita mau lebih jauh lagi maka ibadah yang pertamakali 
di hisab adalah sholat bukan puasa

Dari Abu Hurairah ra. dari Rasulullah saw., beliau bersabda : "Sesuatu yang 
pertama kali diperhitungkan pada hamba adalah shalatnya, jika ia 
menyempurnakannya. Jika tidak (sempurna) maka Allah Yang Maha Mulia dan Maha 
Besar berfirman : "Lihatlah apakah hambaKu mempunyai (shalat) sunat ?". Jika 
kedapatan padanya (shalat) sunat, maka Allah berfirman : "Sempurnakanlah fardhu 
itu dengannya". (Hadits ditakhrij oleh Ibnu Majah).

Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa cerita yang banyak 
diperdengarkan adalah keutamaan bulannya bukan ibadah puasanya, karena pada 
bulan itu semua ibadah di perhitungkan beberapa kali lipat , seperti sholat, 
puasa dan zakat. Bulan Ramadhan adalah bulan latihan kata beberapa ustadz, 
artinya paraktek dari latihan itu ada di 11 bulan tersisa. Perumpamaan itu jadi 
rancu karena hampir semua orang lebih senang latihannya ketimbang prakteknya 
karena memang nilai latihan lebih besar dari pada nilai praktek. Mungkin bagi 
orang awam seperti kita, bulan ini lebih tepat dikatakan bulan penyucian diri 
setelah berkotor-kotoran selama sebelas bulan dan mungkin akan seperti itu juga 
setelah Ramadhan nanti menuju Ramadhan berikutnya, jika tidak percaya 
tanyakanlah kepada umur kita yang menjadi saksi berapa banyak kita telah 
berpuasa.

Walaupun tahun terus berjalan, tapi kedewasaan kita dalam berpuasa tidak pernah 
berkembang, pertanyaan mengenai tatacara berpuasa dan hal-hal yang membatalkan 
puasa hampir setiap tahun dibahas dengan dalil yang sama, bahkan forwadan email 
ada yang berulang tahun sampai 3 kali. Teori ibarat anak muda sedangkan 
faktanya disimpan orang tua kata Edgar Watson dan kita hampir tidak pernah 
menjadi orang dewasa dalam hal ibadah. 


"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan bagi kamu berpuasa sebagaimana telah 
diwajibkan bagi orang-orang sebelummu, agar kamu bertakwa" (Al Baqarah ayat 183 
) kata "la'allakum tattakun"  agar atau mudah-mudahan kamu bertaqwa , 
menunjukan bahwa kita memang belum bertaqwa dan kata tersebut selalu berulang 
setiap tahun, artinya setiap tahun kita harus mempertegas ketaqwaan kita kepada 
Allah. Karena puasa adalah ibadah rahasia maka kitapun tidak pernah tahu siapa 
orang yang telah menjelma menjadi orang yang bertaqwa.

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda : 
Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : "Setiap amal anak Adam baginya 
selain puasa, puasa itu bagiKu dan Aku membalasnya". Demi Dzat yang diriKu 
ditanganNya sungguh bau busuknya mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di 
sisi Allah dari pada bau kasturi". (Hadits ditakhrij oleh Muslim).

Jika saja semua orang bisa melihat predikat taqwa tersebut  maka setiap tahun 
kita akan jarang menjumpai orang yang banyak bicara tetang ramadhan atau puasa 
, sebaliknya kita justru akan  lebih banyak di suguhkan amalan-amalan yang bisa 
menggetarkan hati.

Salam

David
www.sebuahtitik.blogspot.com

Kirim email ke