Lipatan Kisah Dari Sebuah Perjalanan

Satu tahun yang lalu ketika memasuki bulan Rajab , tidak banyak yang menunaikan 
sholat duha di masjid itu, kecuali seorang pemuda yang selalu membawa tas 
ransel. Dia bekerja tidak jauh dari area masjid yang terletak di bilangan 
Jakarta Utara. Sholat sunnah dhuha memang tidak se familiar sholat sunnah 
rawatib yang selalu mengapit sholat fardu. Banyak orang menganggap sholat dhuha 
adalah sholat kepentingan sama halnya dengan sholat hajat, hanya saja dhuha 
lebih di fokuskan dengan masalah rezeki. Walaupun tidak semua seperti itu tapi 
kita tidak juga bisa menutup mata dengan bertebarannya dalil kecukupan rezeki 
bagi orang yang menunaikanya, sehingga jika ada yang menunaikannya karena 
meminta dimudahkan rezeki oleh Allah adalah wajar saja.

Memasuki bulan Syakban, kondisi masjid mulai bertambah seiring dengan sunnah 
puasa di bulan ini maka bertambah juga orang yang menunaikan sholat dhuha. 
Puncaknya adalah bulan Ramadhan, apalagi pada sepuluh hari terakhir, maka susah 
untuk membedakan mana yang datang dari luar untuk menunaikan sholat dhuha dan 
mana yang telah berdiam diri disana dari hari sebelumnya. Mengginjak bulan 
Syawal kembali masjid tersebut sepi. Kami seperti reuni dalam kesunyian, 
mengapai ridho Allah dalam hal rezeki, mengais harapan dari setiap doa dan 
bersimpuh untuk meraih setiap kesempatan yang diberikanNya.

Namanya Ahmad, bekerja sebagai office boy pada sebuah perusahaan multi 
nasional. Dia ingin meningkatkan karirnya dengan cara melanjutkan pendidikan 
keperguran tinggi. Setelah tamat sekolah menengah tingkat atas di telah bekerja 
di berbagai tempat dan mulai menabung untuk biaya memasuki perguruan tinggi 
pada sore hari selepas bekerja. Dia selalu merasa ada saja masalah yang 
menghinggapinya sehingga setiap hari lari kemasjid mengadu kepada Allah, dia 
tidak mempunyai teman yang bisa di percaya untuk berbagi cerita, sedangkan 
orang tuanya ada di kampung. Saya sempat bercanda dengannya dengan mengatakan 
bahwa Allah mungkin senang berdua dengannya sehingga selalu di titipkan sebuah 
masalah agar dia selalu kembali kepadaNya. " Benar sih mas tapi saya ingin 
berdua dengan Allah bukan karena sebuah masalah, tapi karena memang saya ingin 
berdua denganNya dengan hati damai" katanya mencoba berharap lain.

Hari demi hari berlalu dan  seperti biasa setiap pagi kami selalu bertemu dan 
menunaikan sholat dhuha secara terpisah mencari sudut yang paling ideal 
berdialog denganNya. Memasuki bulan Rajab yang lalu, saya kehilangan dia dan 
berlanjut pada bulan Syakban dan Ramadhan. Memasuki bulan Syawal, sewaktu 
perusahaan baru mulai beraktifitas kembali setelah libur lebaran. Saya bertemu 
dengannya di masjid yang sama dengan penampilan yang berbeda. " Saya sudah 
tidak bekerja di sini lagi mas , udah pindah ke Jakarta barat, saya coba mampir 
kesini mau silaturahim sama mas dan teman-teman di kantor lama" katanya 
menerangkan. Allah telah menjawab teriakan doa yang di panjatkannya gumam saya 
didalam hati. " kayaknya banyak kemajuan nih, " canda saya kepadanya. " saya 
jadi bingung mas, sebenarnya cobaan saya itu kekurangan saya dulu atau 
kelebihan saya sekarang, saat ini saya jarang sholat dhuha karena kantor di 
daerah saya kerja sekarang jauh dari masjid, sedangkan kalau sholat dikantor 
selalu saja ada halangannya karena tempat sholatnya dekat dengan pantry. Saya 
sekarang udah kuliah sore mas, tapi saya jadi sering ketinggalan sholat maghrib 
paling telat diakhir waktu. Setiap pagi kerinduan berdialog dengan Allah 
tergantikan dengan bercanda dengan teman di kantin karena suasana kantinnya 
asyik sekali karena yang makan disana cantik-cantik dan baik-baik " katanya 
seperti tidak mau  untuk bercerita, tetapi waktu memaksa kami untuk berpisah.

Mulai hari itu masjid itu kembali sepi, saya mencari sudut dari masjid tempat 
dulu ahmad melaksanakan sholat dan merasakan kehadiran Allah dalam nuansa 
ketakutan, Saya selalu gelisah dengan pencapaian-pencapaian yang tidak pernah 
berakhir dengan memuaskan tetapi saya lebih takut ditinggalkan Allah dalam 
keadaan tertawa.  Saya tidak lagi berani berdoa ini dan itu......hanya diam dan 
terpaku, tiba-tiba hati ini diliputi suasana bahagia...lau hening , entah dari 
mana asalnya lalu seperti di tuntun berdo'a " Ya Allah  berikanlah kapadaku 
keikhlasan menerima segala kehendakmu atas jalan hidupku dan jadikanlah sabar 
di hati sebagai rasa syukur atas segala cobaanMu dan hiasilah rasa syukur 
didada ini dengan sebuah kesabaran dalam menerima amanahMU"


Salam 

David

Kirim email ke