salam, Suatu pengorbanan yg sangat baik yg dilakukan seoarang 'hakim',... Tetapi utk menyamakan dg pengorbanan Nabi Ibrahim AS ? Menurut sejarah Ibrahim ktika dibakar diusia kisaran 16th, ktika dia memperoleh putera (Ismail) di usia hampir 100th (sumber buku: Ibrahim Khalilullah). Ada jarak yg panjang dalam memaknai 'pengorbanan' yg dilakukan Ibrahim AS, dan belumlah pada tempatnya menjadikan setara dg yg dilakukan Hakim. Begitu besarnya 'kurban' yg dilakukan Ibrahim sehingga perlu dia mengkaji lagi perintah Allah (diriwayatkan turunnya perintah sampai bbrp kali) sampai akhirnya Beliau melaksanakan perintah Allah. Tidak bisa kita menyamakan pengorbanan dg bgitu mudah, tanpa kita memhami makna hakiki dari pengorbanan itu sendiri. Dalam masa perjuangan Islam, Abubakar menyumbang seluruh hartanya utk Islam, bagi Abu Bakar, cukuplah "Allah dan RasulNya"... Bgitu juga dengan umar yang menyumbangkan 1/2 dari hartanya sementara dia menanggung sitri dan anak2nya... Usman bin Affan dg 300 ekor untanya...
Ada nilai2 ruhani yg harus diperhitungkan ktika kita mencoba memahami pelajaran yg diambil dari kisah2 para Rasul dan Nabi, dan juga para Khalifah... dengan melihat secara keseluruhan, sehingga tidak sepotong2 informasi yg kita dapat. Sehingga ktika kita mengucapkan sesuatu yang mengatasnamakan Islam (yg suatu hari Allah akan mempertanyakan terhadap semua yg kita lakukan), maka kita akan cenderung lebih berhati2 lagi dalam mem fatwa kan suatu kejadian. Semoga Allah mengampuni kita semua... wassalam 2009/11/26 bobby herwibowo <[email protected]> > > > Momentum Iedul Qurban tahun ini membuat saya membaca berulang kali beberapa > literatur tentang pengorbanan yang dilakukan Ibrahim Alaihis-salam. Saya > yakin, anda sudah mengetahui hal ini. Saya mendalami makna cinta yang begitu > kuat dalam hati Ibrahim As kepada Tuhannya, hingga ia rela mengorbankan apa > saja yang terbaik miliknya demi mempertahankan kecintaan yang luar biasa > itu. > Membahas tentang pengorbanan berjuang di jalan Allah, ada satu kisah yang > hendak saya sampaikan atas perjalanan hidup yang Allah hadiahkan kepada > saya. > > Dompet Dhuafa Kaltim mengundang saya untuk berpartisipasi dalam acara yang > mereka buat demi membantu saudara-saudara korban gempa bumi di Sumatera > Barat pada medio Oktober lalu. Tiket sudah dipesan, acara telah dirancang, > hanya menunggu hari 'H'. Tanggal yang dimaksudpun tiba. > Seperti perjalanan ke luar kota sebelum-sebelumnya, saya menganggap bahwa > ini adalah perjalanan dakwah biasa-biasa. Namun ternyata tidak! > Pesawat dikabarkan delayed 30 menit. Sebab saya merasa lapar saat itu, maka > saya pun pergi mencari makan. Begitu saya kembali ke ruang tunggu rupanya > sudah sepi, dan saya diberitahu bahwa pesawat sudah menutup pintu dan hendak > berangkat beberapa saat. > Sedikit 'nerved', saya berargumen kepada petugas bahwa saya tidak mendengar > panggilan atas nama saya atau pemberitahuan bahwa pesawat akan > diberangkatkan. Setelah berupaya menghubungi pihak pesawat, petugas itu pun > memberitahukan saya bahwa saya bisa naik ke pesawat. “Alhamdulillah...!” > pekik saya. Andai saya tertinggal pesawat, maka tak bisa dibayangkan > kekecewaan panitia penyelenggara di Balikpapan. > > Beberapa saat kemudian, pesawat tiba di bandara Sepinggan, Balikpapan. Saya > dijemput oleh perwakilan panitia. Dalam perjalanan menuju hotel, saya > menanyakan lokasi acara. Mereka memberitahukan bahwa acara digelar di masjid > Istiqomah. Saya bertanya , “Apa ada jemaahnya... bukankah ini malam minggu > dan acara digelar pukul 20?” Dengan santai panitia menjawab, “Tenang > pak...., insya Allah jemaahnya banyak. Sudah beberapa kali masjid ini bikin > acara pada waktu serupa, Alhamdulillah jemaah antusias untuk datang.” Saya > sedikit terhibur mendapat jawaban itu. > > Rupanya benar dugaan saya, jemaah yang saya harap akan banyak hadir rupanya > hanya memenuhi kira-kira seperempat dari kapasitas ruang masjid. Banyak > terlihat 'space' melompong di sana-sini. Agak sedikit prihatin dengan jumlah > jemaah yang ada, dan saya berpikir keras tentang target penggalangan dana > panitia, maka saya pun berujar dalam hati, “Ya Allah, semoga kami mampu > memberi yang terbaik di jalan-Mu!” > Jujur saja, sebelum memulai menyampaikan materi, saya sedikit pesimis akan > dana yang hendak digalang. Namun berulang kali saya berhenti berceramah > untuk sekedar meluruskan niat Lillahi Ta'ala. > > Maka saat penggalangan dana pun tiba. Saya melihat mereka semua antusias > mengulurkan tangan memberi bantuan. Namun lagi-lagi karena jumlah audiens > yang sedikit saya merasa khawatir akan jumlah dana yang tidak akan menyentuh > target. > Alhamdulillah... dana terkumpul beberapa belas juta rupiah malam itu, namun > jumlah itu saya yakin masih jauh dari target panitia. > > Hanya kepada Dia Yang Maha Agung, kita sepantasnya berserah diri. > > Malam itu bagi saya bukanlah sebuah prestasi dakwah yang menggembirakan. > Saya sedikit prihatin dan kecewa. “Mengapa hanya segini rezeki yang Allah > karuniakan dalam majelis kita?” batin saya. > > Namun rupanya kekhawatiran itu segera dijawab Allah Swt. Seorang panitia > datang kepada saya memberitahukan bahwa ada seorang jemaah hendak minta > waktu untuk berbicara. > Setelah saya bersedia maka jemaah tersebut dipersilakan dan kami pun duduk > berdua di karpet masjid. > > Dia adalah seorang anak muda berusia 27 tahun, sebutlah namanya Hakim. Dari > wajahnya saya melihat ada sinar yang Allah pancarkan ke dalam hatinya. > Ia mengajak bicara beberapa menit sebagai pembuka. Saat saya tanya apa > keinginannya, maka Hakim berkata, “Tadi bapak dalam ceramah menyampaikan > berulang-ulang untuk memberi yang terbaik di jalan Allah.” “Ya, betul!”jawab > saya. > Hakim melanjutkan, “Tadinya saya ingin memberikan hape saya ini sebagai > infak...” Kalimat dari mulutnya terputus. Ada jeda beberapa detik bagi Hakim > untuk menyambung kalimatnya. Saya pun penasaran menunggu selama itu. > “Namun setelah pikir-pikir, sepertinya saya urung memberi hape ini” jelas > Hakim. > “Lalu apa yang hendak Anda sampaikan kepada saya?” saya bertanya kepadanya. > Hakim pun menjawab, “Setelah saya berpikir ulang, maka saya mendapati bahwa > harta terbaik yang saya miliki bukanlah hape, tapi saya mohon bapak menerima > ini sebagai infak dari saya!” > Maka Hakimpun menjulurkan tangannya kepada saya seolah ingin berjabat, dan > saya pun menyambut tangannya yang terulur. > Namun saya merasa ada sebuah benda cukup besar yang terselip antara telapak > tangan kami. Saya bertanya kepada Hakim, “Apa ini?” Dia menjawab, “Itu harta > terbaik yang bisa saya infakkan, pak!” > Saya pun membuka telapak tangan saya. “Subhanallah...!” saya terperanjat. > Kini ditelapak tangan saya ada sebuah kunci mobil. > Saya terkagum, terpesona, dan sesaat terbungkam. Betapa terperanjat hati > saya sehingga bola mata terasa hendak meloncat saat menerima infak sebesar > ini. > Seketika itu juga hati saya berbunga sebab merasa terhibur dengan anugerah > luar biasa yang Allah berikan kepada saya. > Dana yang telah digalang malam itu yang bernilai hanya beberapa belas juta > rupiah, rupanya dilengkapi Allah Swt dengan sebuah mobil milik Hakim yang ia > infakkan dengan harga saya yakin lebih dari 100 juta rupiah. > > Hakim, 27 tahun memberikan harta terbaik yang ia miliki untuk membantu > saudara-saudaranya yang menjadi korban gempa di Sumatera Barat. > Ia berkorban dengan sepenuh hati dan kesadaraan penuh. Meski mungkin kini > ia belum punya mobil lagi, namun saya yakin hatinya sudah setenang > nabiyullah Ibrahim Alaihis-salam saat hendak mengorbankan anaknya tercinta. > Ya, ketenangan dan kedamaian yang diberikan kepada Ibrahim As dari Allah Swt > yang kagum atas pengorbanan hamba-Nya. > > Cahaya Langit, > Bobby Herwibowo > 0817200456 > > >
