Tidak Selalu Pada Apa Yang Kita Mau

Hari itu cukup cerah terlihat seseorang melemparkan koran kedalam pagar rumah 
tetangga, setiap hari dia selalu rutin membawa surat kabar untuk para 
pelanggannya walaupun tidak pernah ada yang menanyakan khabarnya. Pada zaman 
modern seperti saat ini, transaksi memang tidak selalu harus bertatap muka. 
Banyak pedagang yang menjual barangnya dengan memberikan pelayanan yang 
memudahkan setiap pembeli untuk melakukan transaksi. disudut jalanan terlihat 
seorang ayah menarik tangan anaknya untuk sekolah, sedangkan si anak menangis 
dan bersikeras untuk tidak mau sekolah. " Aku gak mau sekolah ! , gurunya galak 
suka marahin aku" kata anak tersebut kepada ayahnya. " Memang kalau tidak 
sekolah kamu mau jadi apa nanti ? makanya kalau mengerjakan PR di rumah , bukan 
disekolah supaya tidak dimarahin guru, gimana sih !" balas sang ayah tidak mau 
kalah.


Di belahan duniamanapun kejadian seperti tadi pasti pernah terjadi, bahwa 
setiap orang tua menginginkan yang terbaik bagi anaknya walaupun dengan cara 
yang sering sekali tidak disukai oleh sianak. Jarang kita temui ada orang yang 
memulai sesuatu dari sudut padang orang lain dan baru kemudian memberikan 
alternatif pandangan dari sisinya. Sebaliknya kita sering kali memaksakan apa 
yang kita anggap baik lalu mengeyampingkan pandangan orang lain atau paling 
tidak  mengiyakan tanpa menghiraukannya. Saya teringat sebuah buku cukup laris 
tentang pembentukan karakter dalam memahami orang lain oleh Dale Carneigie. 
Salah satu kiatnya menyebutkan bahwa agar kepentingan kita didengar maka 
mulailah berbicara atas nama kepentingan lawan bicara. Setelah dia mengetahui 
kalau kita telah memahami kepentingannya barulah kita menyampaikan apa yang 
kita inginkan.

Beberapa tahun yang lalu hal ini pernah saya terapkan tanpa sengaja. Sebuah 
kecerobohan yang membuat terjadinya tabrakan di perempatan lampu merah. Karena 
sedang terburu-buru, lampu kuning sebagai tanda akan munculnya tanda berhenti 
(merah) saya terobos. Di sebelah kiri arah melintang sebuah sepeda motor juga 
menerobos lampu kuning sebelum masuk lampu hijau. walaupun hanya berselang 
beberapa detik tapi kecelakaan tidak bisa dihindari dan orang tersebut 
bersembunyi di balik alibi lampu hijau yang sedang menyala, artinya dia 
melimpahkan kesalahan itu kepada saya.  Karena benturan yang cukup parah , 
pengemudi motor tersebut meminta ganti rugi sebanyak tiga ratus ribu rupiah., 
sedangkan uang yang ada di dompet saat itu hanya berjumlah lima puluh ribu 
rupiah. Sebenarnya keadaan saya jauh lebih parah dari pada bapak tersebut 
tetapi masalah tidak akan pernah selesai ketika semua orang berbicara mengenai 
keadaan dirinya


"Nampaknya kondisi kita sama-sama parah dan mungkin ini akibat kelalaian saya 
tapi saya tidak punya uang sebesar yang bapak minta. Saya hanya memiliki uang 
lima puluh ribu, tentu tidak akan bisa menutupi semua kerugian bapak dan bapak 
bisa saja memperkarakan hal ini kepada polisi untuk kemudian di buat berita 
acara dan mungkin saja uang lima puluh ribu ini hanya untuk mengurus biaya 
perkara, lalu kita berdua tidak mendapatkan apa-apa selain menunggu untuk 
diproses dan itu akan memakan waktu sedangkan kondisi kita tidak akan berubah. 
Saya serahkan semua kepada bapak " kata saya secara halus kepada bapak 
tersebut. Kemarahannya mulai mereda. Seringkali kemarahan membutakan mata dan 
membuat oarng tidak mau berfikir. Setelah saya lihat keteduhan di wajahnya, 
saya kemudian menyalami tangannya sambil memberikan uang  lima puluh ribu 
tersebut. Mungkin saja masih ada rasa kesal yang tersisa , tetapi tidak ada 
terucap sepatah katapun ketika saya meninggalkannya di lokasi tersebut


Segelas ilmu belum tentu lebih besar nilainya dengan setetes amal, setiap hari 
dalam keadaan apapun belajarlah untuk tetap terus berkembang dan beramal. Andre 
Gide mengatakan dalil tentang mengenali diri bisa menyesatkan tanpa mengenali 
potensi yang bisa menghambat perkembangan karena seekor ulat yang sibuk 
mengenali dirinya tidak akan pernah berubah menjadi kupu-kupu. Orang yang 
selalu memikirkan dirinya sendiri tidak akan pernah di pikirkan oleh orang lain 
dan ketika dia menyampaikan apa yang dia pikir maka orang akan mengira dia 
sedang bergumam untuk dirinya sendiri.

Akhlak memang menempati cerita tersendiri dalam bab kehidupan seorang muslim 
kepada siapapun. Rasulullah SAW pernah bersabda 
"Sesungguhnya Allah membenci orang yang berhati kasar (kejam dan keras), 
sombong, angkuh, bersuara keras di pasar-pasar (tempat umum) pada malam hari 
serupa bangkai dan pada siang hari serupa keledai, mengetahui urusan-urusan 
dunia tetapi jahil (bodoh dan tidak mengetahui) urusan akhirat." (HR. Ahmad) 
dan "Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan (pada hari kiamat) dari 
akhlak yang baik." (HR. Abu Dawud)

Salam

David Sofyan


Kirim email ke