Pelajaran Yang Tidak Pernah Selesai

"Berburu kepadang datar, dapat rusa belang kaki, berguru kepalang ajar bagai 
bunga kembang tak jadi". Terhirup aroma ilmu yang menyambangi pagi dari di 
balik dinding-dinding merah putih yang semakin lama semakin tampak tak putih 
lagi. Semua murid menatap Pak guru dengan khidmat, menunggu terjadinya 
perpindahan ilmu, menerima  segala nasehat-nasehat yang membuat mereka terpaku. 
"Meraih bintang itu tidak mudah anakku, selalu ada bekal yang mesti di 
persiapkan, rajin-rajinlah kalian membuka mata dan telinga untuk membaca segala 
gejala pada alam semesta agar kita bisa mengerti bahwa mereka di ciptakan untuk 
kita syukuri".

Tidak jauh dari sekolah kecil itu, seorang anak di pinggir kali, menumpuk 
buku-bukunya diatas rumput. " oooiiii Aman kamu tidak sekolah !!" terdengar 
suara teriakan  seorang bapak dari tengah-tengah sawah di seberang kali " Tidak 
Pak, aku mau bantu Bapak saja di sawah" jawab anak itu sambil buka baju dan 
menumpuknya diatas buku. Anak itu kemudian menghampiri ayahnya yang sedang 
mencangkul. " Mengapa kamu tidak sekolah Man, kamu bisa bodoh nanti " tanya 
sang ayah penasaran. " Belajarkan bisa dimana saja Pak tidak harus di sekolah, 
kata guru ngaji semalam yang menyelamatkan kita nanti di akhirat itu adalah 
amal bukan ilmu" jawab Aman membela diri. Sang ayah berhenti mencangkul 
mendengar bantahan anaknya " Setiap amalan itu harus berdasarkan ilmu nak, 
Rasulullah sendiri memerintahkan kita untuk menuntut ilmu agar kita bisa 
membedakan mana yang haq dan mana yang batil, mana yang bermanfaat dan mana 
yang merugikan" kata ayahnya sambil memegang dada, seperti orang kesakitan. 
Aman diam saja sambil terus mencangkul menggemburkan tanah yang akan ditanami. 
Anak yang masih duduk di kelas tiga sekolah dasar itu terus berfikir apakah 
nasib keluarganya akan berubah hanya karena merubah status dari tidak tahu 
menjadi tahu, atau dari tidak paham menjadi paham ? seperti apa manfaatnya 
mengetahui bahwa bumi mengelilingi matahari dengan apa yang bisa dia makan esok 
hari.

Walaupun konsumsi perut dan kepala berbeda tetapi banyak juga orang membuat 
keterkaitan satu sama lain. Para koruptor yang tergolong orang yang 
berpendidikan dan memiliki pengetahuan yang cukup telah mengakomodasi seluruh 
isi kepalanya untuk menuruti kemauan perutnya. Untuk pintar seseorang memang 
harus sekolah, tetapi apa yang didapat setelah predikat pintar disandang, tentu 
saja lebih dari sekedar mencari nasi tetapi juga tawaran dari berbagai posisi. 
Tidak bisa di pungkiri lebih dari sembilan puluh persen tujuan akhir sekolah 
adalah pencapaian materi, dan hanya sedikit yang menyisakan kepintaran untuk 
sebuah dedikasi.

Ketika Aman pulang dari sawah siang harinya, dia berpapasan dengan Pak guru 
yang pulang mengajar. Pak guru menanyakan mengapa Aman tidak masuk sekolah hari 
itu, tapi Aman malah bertanya balik kepada Pak guru tersebut " Mengapa kita 
harus belajar di sekolah Pak, bukankah ketika kita belajar ilmu pengetahuan 
alam kita harus berada di alam terbuka agar kita tidak hanya sekedar mengetahui 
tetapi juga memahami cara kerja alam semesta, ketika kita belajar ilmu sosial 
maka kita harus berada di masyrakat dan menerapkan nilai sosial secara langsung 
" . Pak guru hanya tersenyum mendengar nalar kritis dari muridnya " Benar Aman, 
tapi semuanya mempunyai wadah. Tidak mungkin kita mengumpulkan semua murid di 
pasar hanya untuk tahu ilmu pemasaran, Untuk mengetahui sesuatupun ada 
prosesnya. Kita juga tidak bisa menggiring setiap orang pada apa yang kita 
mau." Kata Pak guru tidak mau memperlebar masalah karena sekolah memang tempat 
dibeku dan dibakukannya ilmu agar mudah disampaikan, tugas sang muridlah nanti 
yang mencairkan dan menuangnya pada tempat yang diinginkan.

Pada malam harinya di pengajian ba'da maghrib Aman semakin di perkuat dengan 
cerita dari guru ngaji yang diambil dari matsnawi Jalaludin Rumi. Dikisahkan 
sorang petani yang hendak membawa sekarung gandum kepasar kesusahan 
menyeimbangkan beban di punggung keledai miliknya  dan untuk menyeimbangkannya 
dia mengambil sekarung pasir untuk di letaknya disisi yang lain. Petani 
tersebut pergi kepasar dengan memakan waktu lebih lama dari biasanya karena 
beban yang ada pada keledai terlalu berat. Sewaktu beristirahat petani tersebut 
bertemu dengan seorang yang berpakaian compang- camping mirip seorang pengemis 
tetapi orangtersebut tidak mau disebut pengemis. Setelah berdialog dengannya, 
petani tersebut sangat kagum dengan ketinggian ilmu dari orang tersebut. Salah 
satu dari nasehat dari orang itu mengatakan bahwa beban yang diderita keledai 
bisa di peringan dengan membagi dua gandum sehingga separuh disebelah kiri dan 
sebelah lagi disebelah kanan dan bukan mengganti dengan pasir yang justru 
memperberat beban keledai sehingga keledai tersebut berjalan dengan lambat.

"Kisanak sangat cerdas dan memiliki pengetahuan yang luas, sebenarnya apa 
pekerjaan kisanank ?" kata petani tersebut penasaran dengan kehebatan orang 
didepannya. " Saya tidak mempunyai pekerjaan apa-apa, saya melangkah kemanapun 
kaki saya mau" jawab orang tersebut acuh-tak acuh. " Lalu bagaimana dengan 
keperluan sehari-hari seperti makan dan minum ?" tanya petani tersebut 
penasaran. " Aku tidak pernah meminta tapi jika ada yang memberi aku terima 
jika tidak maka aku akan puasa" jawab orang itu. Kemudian tanpa basa basi 
petani tersebut pergi meninggalkan orang tadi. " Aku bisa saja bodoh tapi aku 
mampu menghidupi diriku sedangkan kepandaianmu tidak berpengaruh apa-apa 
terhadap dirimu, aku tidak suka medekati orang malas sepertimu" kata petani 
tersebut dari jauh. 

Aman menyimak dengan serius cerita dari guru ngajinya. "Anak-anaku hikmah yang 
mesti diambil adalah bahwa banyak diantara kita yang berilmu tetapi ilmu itu 
tidak bermanfaat baginya selain sebagai kebanggaan semata. Ada orang yang 
mempunyai pemahaman agama yang sangat tinggi tapi ahlaknya tidak mencerminkan 
apa yang telah dia pahami. Ada juga yang memiliki ilmu tetapi tidak tahu 
bagaimana memanfaatkan ilmu tersebut seperti banyak sarjana yang dilahirkan 
bangsa ini. Ada juga yang tidak berilmu tetapi dia di wakili oleh selembar 
kertas yang mengatakan kalau dia berilmu, padahal tidak, dia sekolah hanya 
untuk selembar kertas tersebut. Oleh sebab itu hati-hatilah anakku setiap apa 
yang kita kerjaan akan dimintai pertanggung jawaban nanti oleh Allah SWT, apa 
yang bapak ceritakan bukan membuat kalian jadi tidak mau sekolah untuk menuntut 
ilmu, jangan jadikan kelemahan orang lain menjadi penghalang bagi kita untuk 
berusaha, kita justru harus membuatnya berbeda" kata guru tersebut sambil 
menutup kitab fiqih yang telah dikaji terlebih dahulu sebelum bercerita kepada 
murid-muridnya.

Aman terdiam merenung dirumah, banyak orang yang salah kaprah dalam 
memanfaatkan ilmu termasuk cerita lucu dari temannya yang ditugaskan pak guru 
untuk mengganti tiang bendera yang patah " Nang tolong ukur dulu tinggi tiang 
lama ya biar tidak kerja dua kali" kata pak guru kepada Nanang temannya. Nanang 
lalu memanjat ting itu untuk mengukurnya." Kenapa harus naik Nang ? nanti jadi 
patah lagi, cabut aja terus ukur di bawah" kata pak guru. " Loh tadi kan pak 
guru menyuruh saya mengukur tinggi tiang bendera bukan panjang tiang " jawab 
Nanang asal kena. Dalam matematika panjang dan tinggi hanya dibedakan oleh 
posisi yang satu horisontal yang satu vertikal, tapi ketika jadi rumus kenapa 
nampak begitu susah bagi anak-anak. Apakah pintar itu indentik dengan kesulitan 
? pasti ada yang salah, pikir Aman. 

Beberapa tahun kemudian setelah menamatkan kuliah di ITB bandung, Aman 
mendedikasikan dirinya sebagai guru di kampung halaman tercinta dengan metode 
penyederhanan, bahwa sehebat apapun masalah harus disederhanakan terlebih 
dahulu untuk kemudian di pecahkan. Aman mendirikan sekolah Alam yang mengajak 
murid-muridnya tidak hanya menerpkan prinsip 5W1H pada perbuatan tapi juga pada 
pemikiran, bahwa apapun yang dipelajari harus bisa bermanfaat bagi diri maupun 
orang lain. Hasilnya beberapa orang muridnya berhasil menduduki peringkat 
tertinggi sekabupaten. 

Salam

David Sofyan

Terispirasi dari kehidupan penulis " Titik Ba" Ahmad Toha Faz yang sekarang 
mendirikan sekolah alam yang berbasis sains di Tegal, Jawa tengah


Kirim email ke