" Mahluk " Yang Tidak Mungkin Tidak Ada

Dipesisir-pesisir pantai Sumatera, gelombang samudra Hindia perlahan-lahan 
telah berhasil mengikis daratan, disamping abrasi oleh tangan-tangan manusia 
sendiri. Bahkan pasir yang telah terkikis itu masih saja di ekspor ke negara 
tetangga, agar tetangga tercinta tersebut lebih leluasa beraktifitas, termasuk 
mengawasi kita agar tidak nakal. Waktu beserta alam semesta telah bekerja sama 
meminimalkan satu sisi dan memaksimalkan sisi yang lain. Kepadatan penduduk 
telah berhasil merubah paradigma lebar menjadi tinggi yang di tandai dengan 
bermunculannya gedung-gedung pencakar langit, dan dengan kalkulator tangan 
lebih cepat menghitung dari pada kepala. Menara Pisa yang dibangun dengan 
tangan manusia tergantikan dengan menara plaza-plaza yang dibangun oleh 
tangan-tangan besi.

Seiring perkembangan zaman akal manusia lebih berkembang dari pada insting, 
karena segala sesuatu ditimbang dengan nalar dan logika. Mata batin sudah tidak 
berfungsi lagi karena keniscayaan menggunakan mata kepala sudah tidak bisa 
diganggu gugat. "Dahulu guru mengaji saya dikampung mampu melihat siapa 
tamu-tamu yang akan datang walaupun belum ada alat komunikasi cangih seperti 
sekarang" kata Ustadz Abbas disela pengajian. Banyak hal yang tidak mungkin 
bisa terjadi dimasa lalu, jika di timbang dengan akal orang saat ini, sama 
seperti tidak mungkinnya manusia bisa menjelajah angkasa luar oleh akal orang 
dimasa lalu. Waktu seperti bermain dalam hal " mungkin atau tidak mungkin".

Jika saat ini orang yang membuat sesuatu mungkin terjadi didominasi oleh ahli 
sains dan tehnologi maka pada masa lalu hal-hal yang tidak mungkin terjadi 
dilakukan oleh ahli-ahli ibadah, yaitu para Nabi dan Wali Allah. Artinya 
ketidak mungkinan bisa terjadi oleh dua hal yaitu hati yang bersih atau otak 
yang cemerlang. Sebagian orang mengistilahkan dengan perpindahan dari dimensi 
spritual kepada dimensi material, dampaknya adalah kita akan sering mendapati 
orang yang berspritual dengan berlandaskan material, seperti mahalnya tarif 
seorang penceramah ketika wajahnya sudah muncul di televisi. 

"Tidak mungkin dia melakukan itu, setahu saya dia anak yang baik dan ramah 
kepada semua orang" kata seorang ibu kepada tetangganya ketika mengetahui 
anaknya melakukan tindakan kriminal. " Mana mungkin sih guru itu melakukan 
tindakan seperti itu, dia kan selalu perhatian dengan murid-muridnya" kata 
orang tua murid menanggapi pelecehan seksual oleh seorang guru. Dimensi materi 
telah merubah dan menciptakan berbagai kamuflase kebaikan yang hanya bisa 
dilihat dan dijamah. Orang yang berteriak " mari kita berbuat baik" lebih 
dihargai dari pada orang yang diam-diam membersihkan selokan agar tidak mampet 
yang bisa mengakibatkan banjir didaerah tersebut, atau orang-orang yang 
beratribut keagamaan dan menghadiri ceramah jauh lebih dihargai dari pada 
tukang sampah yang sibuk membersihkan bekas minuman dan makanan yang mereka 
buang sembarangan sewaktu ceramah.

Mahluk seperti apa sebenarnya yang bernama "kebaikan" itu , mungkinkah ada yang 
mau memeliharanya walaupun tidak ada yang menghargai, mengapa masih ada caci 
maki dari mulut umat Muhammad SAW yang justru terkenal dengan ketinggian 
ahlaknya, siapa tahu jika umat Islam mau memelihara mahluk ini mata batin 
kembali terbuka dan ketidak mungkinan-ketidak mungkinan masa lalu bisa muncul 
kembali seperti ketidakmungkinan mimpi orang sekarang yang ingin melintasi 
waktu kemasa lalu.

Salam

David Sofyan

Kirim email ke