Cinta Dalam Sepotong Wacana

Pengetahuan berasal dari pengalaman yang di bakukan untuk di informasikan 
kepada orang lain. Belajar membuat mobil berarti merunut ulang pengalaman sang 
penemu mobil, tetapi belajar tidak akan menghasilkan mobil, karena mobil itu 
ada karena di buat atau karena hasil dari berkerja. Hadist adalah sunnah yang 
dibukukan, jadi belajar memahami sunnah mestilah melalui hadist, tapi hadist 
bukanlah sunnah. Hadist baru bermanfaat setelah di amalkan. Apa yang di 
sebutkan tadi adalah gambaran sederhana antara mengetahui dan mengalami. Lalu 
apa yang telah kita ketahui tentang masalah keTuhanan ? dan proses apa yang 
telah kita alami dalam menanamkan keyakinan kita ? belum banyak yang bisa 
menjawab selain membeberkan rentetan teori yang bersifat " tahu"

" Anak-anak, kasih sayang Allah itu kepada manusia jauh lebih besar dari pada 
kasih sayang orang tua kepada anaknya" kata Pak Zaenuddin, guru agama sekolah 
dasar  sewaktu mengajar masalah tauhid. " Apakah kalian bisa membedakannya ?" 
tanya Pak Zaenuddin lebih lanjut. Semua anak-anak dalam kelas menggelengkan 
kepala. " Baiklah pertanyaannya Bapak ganti, apakah kalian bisa merasakan kasih 
sayang Allah ?". " Bisa ! " teriak murid serempak. " Bagaimana caranya ? coba 
kasih contohnya Mira, ?" Tanya Pak Zaenuddin kepada Mira, anak yang duduk 
paling depan. " Kita telah diberikan mata untuk bisa melihat, kita juga bisa 
menghirup nafas dan lainnya merupakan wujud kasih sayang Allah kan Pak " jawab 
Mira setengah bertanya untuk meyakinkan jawabannya. " Benar apa yang dikatakan 
Mira, anak-anak, tapi coba kalian jujur, yang mana yang lebih kalian rasakan 
antara kasih sayang  ayah dan ibu di rumah atau kasih sayang Allah ?" kembali 
Pak Zaenuddin bertanya sambil tersenyum, karena hal ini masalah rasa dan bukan 
lagi bersifat teori yang mendoktrin. Anak-anak terdiam, mereka takut untuk 
mengatakan bahwa mereka lebih merasakan kasih sayang orang tua dari pada kasih 
sayang Allah, sesuatu yang bukan lagi bersifat pengetahuan  tapi pengalaman.

Menyatakan apa yang dirasakan jauh lebih susah dari pada menyatakan apa yang 
diketahui. Kita bisa menjelaskan tentang keindahan suatu alam tapi kita susah 
menjelaskan betapa senang hati kita melihat keindahan tersebut. Membandingkan 
apa yang kita ketahui dengan apa yang kita rasakan bukanlah perkara mudah. Jika 
rukun Islam berkenaan dengan pengetahuan maka rukun iman berkenaan dengan 
perasaan. Kita bisa saja telah mengetahui banyak hal tentang keIslaman tetapi 
hal itu tidak menjamin turut sertanya keimanan dalam hati kita, seperti firman 
Allah dalam surah Al Hujuraat ayat 14 : Orang-orang Arab Badui itu berkata: 
"Kami telah beriman." Katakanlah: "Kamu belum beriman, tapi katakanlah 'kami 
telah tunduk', karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat 
kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala 
amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."  Kata 'kami 
telah tunduk' lafaznya adalah 'aslamna yang sebagian penafsiran mengartikan 
kami telah ber-Islam. Artinya ketundukan pada segala aturan yang telah di 
tetapkan belum menjamin tumbuhnya sebuah keimanan, apalagi jika aturan itu 
dilakukan dengan terpaksa.

Perpaduan Rukun Islam dan rukun iman atau pengetahuan dan perasaan akan 
memunculkan rukun Ihsan, atau keyakinan. Rukun ini sering terlupakan dan 
dianggap sebagai pelengkap semata, padahal pada rukun inilah inti ketauhidan, 
Murroqobatullah, selalu marasa diawasi Allah. seperti firman Allah dalam surah 
Al Hadiid " wahuwa ma'akum 'aina ma kuntum wallahu bima ta'maluna bashir " Dan 
dia bersama kamu dimana saja kamu berada, Dan Allah maha melihat apa yang kamu 
kerjakan." Lalu apakah setelah kita membaca ayat ini kita kemudian bisa 
langsung merasakan bahwa Allah sedang melihat kita ? belum tentu. 

Beberepa tahun yang lalu seorang teman yang beragama nasrani yang sedang 
berusaha mendalami agama lain karena merasakan kehampaan dalam agama yang 
dianutnya pernah bertanya " Kamu bersaksi bahwa Allah adalah tuhan dan Muhammad 
adalah utusanNya, apakah kamu pernah menyaksikanNya ?" , saya kemudian menjawab 
bahwa kita bisa menyaksikan segala kebesaranNya yang ada dimuka bumi, karena 
semua itu adalah ciptaanNya. Kemudian dia bertanya lagi " Berarti kamu hanya 
bersaksi atas kebesaran ciptaanNya, kamu tidak pernah bersaksi atas ZatNya ? 
apakah kamu berani bersaksi bahwa Allah sedang menyaksikanmu saat ini ?". Saat 
itu saya baru sadar bahwa kekuatan syahadat yang begitu besar sebagai inti 
ketauhidan telah lama di tinggalkan. Bukankan Allah berkata bahwa Dia lebih 
dekat dari pada urat leher kita, lalu jika sedekat itu saja kita tidak bisa 
merasakan, lalu Tuhan seperti apa yang kita saksikan selama ini, apakah sudah 
mendekati penyaksian Bilal dalam teriakan "ahadnya"  ketika hendak siksa ?

Pak Zaenuddin kemudian bercerita tentang kasih sayang orang tua yang di 
perolehnya dari dunia maya (internet). "Anak-anak, ketika terjadi gempa bumi di 
Cina, banyak orang yang sibuk menyelamatkan diri. Seorang ibu beserta anaknya 
yang berusia beberapa bulan terperangkap didalam sebuah gedung. Kemungkinan 
untuk lolos dari reruntuhan bangunan sudah tidak ada. Beberapa hari kemudian 
ibu tersebut di temukan dalam keadaan tertelungkup, seperti bersujud sambil 
mendekap anaknya yang berada di bawah. Ibu tersebut meninggal dunia karena 
kepala dan badannya remuk tetapi anak yang berada didalam dekapannya masih 
hidup dan dalam keadaan sehat. Ada pesan buat sianak yang di letakan didalam 
balutan baju si anak lewat sebuah handphone  dari ibunya tersebut : ' Anakku, 
jika pada akhirnya  kamu  bisa selamat, ketahuilah bahwa aku sangat 
menyayangimu. ' ". Pak Zaenuddin berhenti sebentar untuk melihat respon anak 
muridnya. " Apakah kalian bisa merasakan kasih sayang ibu itu kepada anaknya ?" 
tanya Pak Zaenuddin. Mata anak muridnya banyak yang berkaca-kaca menahan haru 
dan berteriak serempak " Bisaaaaa !". " Apakah kalian bisa merasakan kasih 
sayang Allah ada disana ?" tanya Pak Zaenuddin mencoba membangkitkan nalar anak 
muridnya. " Bukankah Allah yang menjaga anak itu sampai beberapa hari walaupun 
ibunya telah tiada ?" lanjutnya. Para murid hanya diam dan mulai menyadari 
bahwa ada cinta diatas cinta yang bermain dalam kisah itu. Cinta yang bukan 
lagi sebagai wacana, tapi realita yang mengisi relung-relung hati kita hari ini 
dan sampai kapanpun.

Salam

David Sofyan





Kirim email ke