Ini artikel menarik yang saya pikir intinya adalah bahwa pemerintahan Gus 
Dur-Mega harus dicegah agar tidak menjadi pemerintahan anti kritik.  Gus Dur 
dan Mega yang diyakini sebagai pemimpin kharismatik (Bahkan Gus Dur dianggap 
orang suci setingkat Wali), memang sangat mungkin terarah kepada 
pemerintahan tidak dikritik.  Bahkan Amien Rais, Cak Nur, Cak Emha, dll 
tidak cukup kelihatan ( setidaknya sampai sekarang ini) dalam melakukan 
kontrol terhadap Pemerintahan Gus Dur.
Kita tidak ingin terjerumus pada sejarah Orla dan Orba dengan pengkultusan 
individu, bukan ?

Bagaimanapun oposisi memang perlu, biar tidak monolitik, monopolis, dan 
mono... mono lainnya (yang jelek tentunya).

---------------
Rabu, 17 November 1999 (KOMPAS, rubrik Opini)

Menuju Masyarakat Madani yang Terbuka
Gus Dur tidak Perlu Dibela



Oleh Abd A'la
PROTES terhadap grup lawak Bagito hanya karena kelompok itu nyenggol Gus Dur 
dalam lawakannya merupakan preseden buruk dalam proses demokratisasi atau 
keterbukaan yang sedang berlangsung di negeri ini. Protes itu mengesankan 
adanya keinginan sebagian orang untuk menjauhkan sosok Gus Dur sebagai 
pemimpin dan Presiden dari rakyat yang dipimpinnya. Dari protes itu, ada 
nuansa yang samar-samar untuk meletakkan Presiden keempat RI ini dalam 
posisi yang "sakral", terselubung, dan tertutup sehingga tidak boleh 
"disentuh" oleh siapa pun dalam bentuk apa pun. Jika pola semacam ini yang 
terjadi, kemudian juga diikuti ketertutupan lembaga-lembaga yang lain, maka 
Indonesia dalam realitasnya tetap tidak akan pernah beranjak dalam masa Orde 
Baru. Hanya namanya yang berubah, sedangkan isi dan semangatnya tetap tidak 
mengalami perubahan.
Ini tentu sangat ironis. Karena bila kita mau berjujur diri, salah satu 
penyebab keterpurukan bangsa Indonesia pada masa-masa terakhir Orde Baru 
justru bermuara pada ketertutupan pemerintah yang sangat rentan terhadap 
segala hal yang berbau kritik. Pada masa itu, segala kekurangan dan 
kekurangberhasilan disembunyikan melalui permainan kata, retorika atau 
eufemisme, dan kalau perlu melalui tangan besi. Bahkan figur sang pemimpin 
pun ditutup begitu rapat sehingga yang muncul ke permukaan adalah pemimpin 
yang berwajah kebapakan, berwibawa dan penuh ketulusan; menyembunyikan 
wataknya yang asli yang angkuh, menutup diri, pendendam dan tidak mau turun 
takhta. Ia pun lalu menjadi semacam "manusia paripurna" yang tidak mungkin 
salah dan segala titahnya harus dituruti. Di sini awal bencana melabuhkan 
diri yang akhirnya menjadi malapetaka nasional. Akibatnya, sebagaimana yang 
kita lihat, rakyat yang tidak bersalah pun ikut menanggung bebannya.

Dalam perspektif ini, sikap mudah tersinggung atau kurang lapang dada - 
dengan melakukan protes - yang ditampakkan sebagian orang yang menamakan 
diri mereka warga Nahdliyin itu (saya sendiri warga Nahdliyin dan dibesarkan 
di lingkungan itu) tidak akan menguntungkan siapa pun, baik bagi NU itu 
sendiri, warganya, maupun bagi bangsa Indonesia secara keseluruhan. Hal itu 
merupakan indikasi awal dari adanya sikap ketertutupan yang berlawanan 
dengan demokratisasi dan reformasi, yang pada gilirannya akan menghambat 
proses menuju masyarakat madani sebagaimana menjadi harapan bangsa Indonesia 
secara keseluruhan.


***
DILIHAT dari fungsinya, keterbukaan dan pembentukan masyarakat madani 
merupakan dua sisi dalam satu mata uang yang tidak dapat dipisah-pisahkan. 
Menurut Turner (1984:27), masyarakat madani merupakan suatu jaringan 
kelembagaan (atau sistem sosial-politik) yang selalu berkembang yang berada 
secara serasi di antara negara dan masyarakat, serta sekaligus mampu 
menghubungkan masyarakat dengan kekuasaan dan melindungi mereka dari kontrol 
politik yang bersifat total. Karena itu, dalam civil society keseimbangan 
antara masyarakat dan negara (termasuk di dalamnya pemerintah) melalui 
keterbukaan, dialog dan semacamnya merupakan karakteristik yang paling 
dominan. Meminjam ungkapan Azra (1999: 3), sistem politik madani adalah 
sistem politik demokratis berdasarkan check and balance antara negara dan 
masyarakat, berkeadilan, dan bersandar pada kepatuhan dan tunduk kepada 
hukum. Ini, menurut dia, sangat sesuai dengan ajaran Islam. Dalam hal ini, 
Nabi Muhammad telah mencontohkan secara aktual bentuk masyarakat madani itu 
melalui pembentukan negara-kota Madinah dengan pola kepemimpinan yang 
terbuka dan inklusif.

Atas dasar kenyataan tersebut, sikap keterbukaan dari semua pihak, baik dari 
negara dan pemerintah pada satu sisi, maupun masyarakat umum pada sisi yang 
lain, menjadi satu kebutuhan yang tidak dapat diabaikan dalam pembentukan 
masyarakat madani. Keterbukaan berarti kemauan untuk selalu melakukan 
dialog, kesiapan untuk mengritik dan sekaligus dikritik, serta berlapang 
dada untuk melihat secara utuh kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri 
mereka masing-masing. Demikian pula, melalui keterbukaan itu masyarakat 
harus mampu melepaskan diri dari ikatan primordial sempit yang akan 
mengganggu terwujudnya masyarakat ideal.

Dengan kata lain, dalam suasana yang penuh keterbukaan, masyarakat, 
pemerintah dan unsur-unsurnya, termasuk presiden (serta kelompok 
pendukungnya) dituntut memiliki keberanian untuk selalu saling melakukan 
dialog dan komunikasi timbal-balik satu dengan yang lain. Dari suasana yang 
penuh dialogis itu, diharapkan akan tampak aspek-aspek apa saja yang menjadi 
kekurangan masing-masing, dan karena itu perlu disempurnakan. Pada saat yang 
sama, masing-masing tidak berusaha menutup-nutupi kekurangannya yang justru 
nantinya hanya menjadi bumerang yang merugikan bagi semua pihak sebagaimana 
hal itu telah terjadi pada masa lalu. Melalui keberanian melihat kekurangan 
yang ada dan kemudian menyempurnakan kekurangan itu, bangsa ini akan menuju 
masyarakat yang diidam-idamkan; berperadaban, sejahtera, dan berkeadilan.


***
DALAM kaitannya dengan itu, sejak awal concern Gus Dur sebenarnya terletak 
pada pengembangan hal yang semacam itu. Dari sosok dan intelektualitasnya, 
ia selalu merepresentasikan sikap keterbukaaan dan kritisisme. Sikap kritis 
dan keterbukaannya itu dapat dilacak dari tulisan-tulisan dan pernyataannya 
yang sangat mengutuk segala bentuk sikap dan pola perilaku yang akan 
mengarah kepada kekerasan, keberangan dan sebagainya. Ia mengritik (bukan 
memprotes) pejabat yang tidak mau dikritik dan hanya ingin disanjung dan 
dipuja-puja, atau pemerintah yang menolak oposisi (Wahid, 1999; 131-132). 
Bahkan dalam pembentukan Kabinet Persatuan Nasional (meskipun Gus Dur tidak 
mau menyebutnya begitu), sikap keterbukaannya itu ditampakkan secara nyata 
melalui serangkaian dialog dengan berbagai pihak; Ketua DPR, Ketua MPR dan 
sebagainya.

Keterbukaan yang telah ditampakkan Gus Dur merupakan modal dasar untuk 
meraih cita-cita bangsa; menuju masyarakat yang madani. Oleh karena itu, 
kita semua dituntut untuk menyambut dan menyikapinya secara positif melalui 
sikap yang sama. Tanpa dukungan dari semua pihak, keterbukaaan Gus, misalnya 
dengan langkah awal menghilangkan kesan lembaga kepresidenan sebagai sesuatu 
yang angker dan kramat - label yang begitu melekat selama ini - tidak akan 
mempunyai arti apa-apa.

Dalam konteks itu pula, protes sebagian masyarakat sebagai bentuk pembelaan 
terhadap Gus Dur berlawanan secara diametral dengan sikap dan keinginan Gus 
Dur sendiri. Apalagi senggolan yang dilakukan kelompok Bagito terhadap Gus 
Dur masih dalam batas-batas yang wajar. Apa yang dilakukan kelompok itu - 
saya yakin - hanya sebagai sapaan untuk semakin mengakrabi pemimpinnya. 
Sebagai pelawak, mereka meyakini bahwa tidak ada ungkapan yang lebih 
berharga untuk menyapa dan berkenalan dengan sang Pemimpin kecuali dengan 
lawakan. Karena itu, Gus Dur tidak perlu dibela, apalagi pembelaannya dalam 
bentuk protes keras yang hanya akan membuat keruh suasana politik Indonesia 
yang mulai menampakkan tanda-tanda kedamaian.

Selain itu, pembelaan biasanya diberikan kepada seseorang yang lemah, yang 
tidak berdaya, dan membutuhkan bantuan. Gus Dur bukanlah orang seperti itu. 
Meskipun memiliki kekurangan secara fisik, Gus Dur merupakan sosok manusia 
yang penuh vitalitas yang tidak memerlukan semacam pembelaan. Tuhan adalah 
Mahakuasa, karena itu Gus Dur mengatakan "Tuhan tidak Perlu Dibela". Kita 
mengetahui Gus Dur -dengan dukungan dari segenap komponen bangsa - pasti 
mampu mengatasi persoalan yang menggeluti bangsa Indonesia. Maka, Gus Dur 
tidak perlu dibela.


(* Abd A'la, alumnus Pesantren An-Nuqayah, Sumenep, dan sedang menyelesaikan 
program doktor pada pascasarjana IAIN Jakarta.)






______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
______________________________________________________________
>From "Aji Mustoko" <[EMAIL PROTECTED]> to UNDIP List
Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList               http://www.undip.ac.id

Kirim email ke