>On Sat, 13 Nov 1999, HERI HERWANGGONO wrote:
>Ada hal yang cukup menarik untuk diperhatikan
>dilikungan perbankan nasional. Hingga saat ini telah
>terjadi pemborosan investasi dalam bidang perangkat
>keras. Pemborosan tersebut meliputi pemborosan sarana
>ATM &  Sarana Telekomunikasi. Selama ini perbankan
>memiliki jaringan telekomunikasi & ATM yang tidak
>terintegrasi/Terpisah antara satu bank dengan bank
>yang lain.

EWR:

Bank Oh Bank How Lucky You Are!
*****************************

Dari media dapat diketahui bahwa masyarakat disini
(north America) pada mulai muak dengan kerakusan
dan keserakahan dari sistem perbankan yang ada.
Bank-2 mengeruk keuntungan yang tidak tanggung-2
dari kocek para nasabah. Setiap tahun jumlah bank yang
masuk multibillion-dollar-profit-club semakin bertambah.
Namun tidak ada tanda-2 bahwa mereka akan puas.
They seem not to know enough is enough. Sebaliknya
bank-2 terus mencari peluang untuk merger, tidak lain
dengan tujuan agar posisi mereka sbg monster predator
semakin mantap.

Belum lama ini dua raksasa Canadian banks: Royal bank
dan Bank of Montreal telah siaga untuk merger. Tidak
sedikit ekonom dan ahli perbankan pada memuji IDE
EFISIENSI tsb. What does it mean to the people? Artinya
akan lahir satu chimeric-giant predator yang lebih powerful
dalam mengkeruk kocek nasabah, dengan pelayanan yang
lebih sedikit. Karena praktis tidak ada saingan, bank-2 tsb
akan bisa seenaknya dalam menyediakan mesin ATM dan
mengutip beaya untuk tiap transaksi yang diperlukan oleh
nasabah. Cabang-2 kecil (districts) yang dianggap kurang
efisien (menguntungkan) akan ditutup sehingga nasabah
kecil menjadi kerepotan. Tentu saja bank-2 tidak pernah
pula sungkan untuk mengkanibal (lay off) karyawan sendiri.

Syukurlah the government of Canada lewat finance minister
(yang dijabat oleh pak Paul Martin) menolak mentah-2
rencana merger tsb. Selamatlah para nasabah dari "indecent
proposal" dua raksasa bank tsb, paling tidak untuk sementara.
Sebab saya yakin bahwa bank selalu pantang mundur untuk
mengkeruk profit sebesar-2 nya dari kocek nasabah, secara
halal ataupun tidak.

Topik yang masih hangat disini sekarang ini adalah mengenai
transaksi lewat mesin  ATM, dimana bank dianggap mengutip
ongkos terlalu banyak (> $1) per transaksi yang sifatnya
otomatis tsb, dan teramat pelit untuk menyediakan mesin ATM
dengan jumlah yang cukup. Seperti yang disinggung bung Heri
di Australia, pelayanan ATM di commonwealth Canada juga
sudah terintegrasi. Namun, justru dengan jumlah mesin yang
diirit maka nasabah jadi tambah kehilangan waktu untuk antri.
Masyarakat disini merasa terjerat dan terperas dengan sistem
perbankan yang ada. Sungguh mengagumkan bahwa pemerintah
satu negara bagian di USA (Texas?) mendengarkan keluhan
masyarakatnya, dan melarang bank untuk mengutip ongkos
apapun dari transaksi otomatis lewat mesin ATM.

Sungguh ironis pemerintah yang kapitalis, yang tidak punya
dasar pancasila, bukannya membantu bank menuju efisiensi
tetapi malahan punya komitmen untuk melindungi masyarakat
dari eksploitasi dan kerakusan bank!

Indonesia tentu kasusnya lain, sebab di Indonesia bank bisa
bangkrut.  Kalau suatu bank di Indonesia bankrut artinya seluruh
uang dari masyarakat akan amblas (ikut amblas pula jaminan
masa depan masyarakat yang dikumpulkan melalui cucuran
keringat dan darah)  karena bank di Indonesia kebanyakan
neglect untuk mengasuransikan uang nasabah. Di waktu bank-2
di Indonesia jaya, bersama pemerintah (therefore secara legal)
mereka menggerogoti uang negara (Bank Indonesia) untuk
dipakai mengucuri perusahaan-2 sendiri. Di Indonesia bank-2
telah banyak terbukti memberaki masyarakat, tetapi pemerintah
tetap memihak mereka.

Sementara itu, disini kita para cendekiawan Undip pada berpikir
keras untuk pula membantu efisiensi bank (agar mengeruk profit
lebih banyak dari masyakat). Oh bank oh bank how lucky you are.
Oh masyarakat Indonesia betapa malangnya dikau. Oleh karena
itu aku bisa maklum bahwa banyak diantara kalian yang mau
memisahkan diri dari sistem negara republik Indonesia yang tidak
pernah memihak kepada masyarakatnya.


Wassalam,
Eko W Raharjo


> Misalnya saja suatu lokasi bisa saja
> memiliki lebih dari 1 ATM yang berasal dari beberapa
> bank yang berbeda. Padahal 1 lokasi bisa dilayani oleh
> 1 atau 2 ATM tergantung tingkat keramaian transaksi.
> Sebagai contoh Australia yang jumlah banknya umumnya
> kurang dari 10 telah menerapkan integrasi perangkat
> keras antar bank. Dengan integrasi ini ditiap lokasi
> hanya diperlukan 1-2 ATM untuk melayani nasabah dari
> beberapa bank demikian pula  dengan sistem komunikasi
> datanya. Pemborosan perangkat keras mungkin tidak akan
> terasa selama Bank yang bersangkutan masih
> operasional. Tetapi bila sewaktu-waktu bank tersebut
> bankrut maka akan amat sulit untuk menjual perangkat
> keras yang sudah diinvestasikan. Alangkah baiknya bila
> ada kerjasama antar bank untuk mengatasi masalah
> perangkat keras dengan melakukan investasi bersama
>  pada perangkat keras.





______________________________________________________________
>From Eko W Raharjo <[EMAIL PROTECTED]> to UNDIP List
Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList               http://www.undip.ac.id

Kirim email ke