tau-tau diganti dengan linux secara total berarti akan
terjadi investasi untuk applikasi yang sudah ada.
Selain itu akan membutuhkan biaya lagi untuk
pendidikan para user.
~~~~~~~~~~~
Ingat kita sudah salah konsep pengembangan TI, terlalu
menomor satukan pembelian alat, dan menomor sekiankan peningkatan
SDm akibatnya banyak SEKALI proyek TI gagal..total.. karena SDM.
Mengapa tidak mencoba membuka mata.. bahwa menomor satukan
pendidikan user akan lebih baik daripada PEMBELIAN SOFTWARE.
1. Investasi ulang untuk konversi aplikasi yang ada
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
agar compatibel dengan linux. Konversi ini mau tidak
mau harus dilaksanakan karena software gratisan yang
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
bisa didownload di website tidak akan mampu memenuhi
kebutuhan perangkat lunak yang sesuai dengan kebutuhan
manajemen yang berbeda-beda
INi sesuai mitos yang selalu ada di Indonesia,.. barang gratis
pasti jelek.. padahal apakah kita sadar 70% dari traffic Internet
ini bergantugn pada BIND, SENDMAIL, APACHE yang meruapakan barang
gratis yang didownload dari Internet. Jadi masalahnya BUKAN
KEBUTUHAN tapi MITOS.. yang kurang tepat.
Jadi saya rasa... argumentasi bahwa barang gratis tidak bisa
memenuhi kebutuhan bisnis koq malah tanda tanya... coba perhatikan
e-commerce site.. banyak yang pakai Linux 8-)
Saya ingin tanya... DATABASE besar untuk project GENOME (genetika)
diolah dg PERL yan barang GRATIS juga..
2. Investasi untuk pendidikan bagi user. Mungkin buat
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
orang seperti mas Dukun tidak terlalu sulit untuk
beralih ke Linux. Tapi kalo mas dukun sudah melihat
kondisi dilapangan sungguh sangat berbeda. Banyak user
Kembali ke substansi permasalah proyek TI di Indonesia terutama
sebagian BESAR KEGAGALAN karena investasi pendidikan (atau
pelatihan terpusat pada product oriented) -. sehingga selalu
membutuhkan RETRAINING setiap ada product baru keluar.
Hal ini seharusnya dibuah dengan PELATIHAN pada generic knowledge
(bisa diambil contoh, orang latar belakang Linux akan mudah
mengadaptasi ke NT, daripada sebaliknya, hal ini karna
basic knowledge dari UNIX memberikan landasan pola pikir yang baik
untuk mempelajari sistem baru (Erno Penzias, dan Minsky)..
3. Kalo terjadi reinvestasi dibidang perangkat lunak
tentunya akan memakan biaya yang amat besar. Sebagai
kebutuhan programmer Linux yang jumlahnya cukup besar.
Padahal selama ini kita baru sampai pada level
menggunakan Linux belum pada level untuk mengembangkan
satu applikasi dalam Linux.
Bagaimana kalau 2 tahun lagi terpaksa (karena upgrade OS tersebut)
kita melakukan investasi ulang..
- Pembelian software aplikasi baru (karena OS baru)
- Pembelian Sistem operasi baru
Dilemma ini melanda beberpa persh, sehinga tidak heran karena
CEPAT atau LAMBAT mereka akan menghadapi up-grade (atau migrasi)
Hanya kapan. Kalau anda sekarang 'terpaksa' investasi ulang
aplikasi, tapi tahun mendatang, investasi tersebut akan minim.
Tapi kalau sekarnag bertahan 'tidak investasi'.. tahun depan..
akan investasi yang mungkin lebih banyak...
3.4. Kekurang percayaan institusi swasta terhadap
Linux(Kebanyakan mereka lebih percaya pada Unix,
Hm..... anda tahu PEMILU kemarin...???? anda tahu bank danamon ??
he..he.h. anda tahu ISP semacam IndoNet..?.. masih banyak lagi...
Silahkan tanya.. apa mereka tidak percaya.. dg Linux.. faktor X
yang sering membuat mereka mengatakan 'tidak percaya dg software
seperti Linux
Seperti kita ketahui sebagian besar pengambil keputusan bertumpu
pada berita pemasaran di koran dan majalah umum...he.h.eh
______________________________________________________________
>From [EMAIL PROTECTED] to UNDIP List
Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id