Mas Bayu:
Kalau misalnya hardwarenya cukup canggih. Softwarenya cukup canggih. Namun
hanya dipakai untuk word processor maupun spreadsheet doang, mestinya ya
eman-eman ya. Untuk ini sepertinya tantangan bagi civitas akademika Undip
(terutama FE) untuk memanfaatkan secara maksimal peralatan yang
dimilikinya. Jangan sampailah peralatan canggih itu hanya menjadi "mesin
tik" saja.
Mungkin pengalaman lain saya disini bisa dijadikan renungan.
(Bukannya saya mengatakan western education itu lebih baik, tapi teknik
pengajaran baik mestinya perlu dicontoh).
Saya disini selain sedang menempuh studi lanjut kebetulan juga menjadi
asisten dosen. Pengamatan saya terhadap tugas maupun ujian cukup berbeda
dengan model pengajaran di Indonesia. Disini, ketika ujian misalnya,
justru banyak ide komprehensif yang dimunculkan. Untuk mata kuliah yang
banyak rumusnya justru mahasiswa diperbolehkan membawa catatan rumus
(walau hanya selembar). Dan model ini ternyata mampu menghilangkan
kegiatan perngepekan. Saya pikir model ini menarik untuk dikembangkan.
Ketika saya tanya sang dosen kenapa kok begitu. Alasannya simpel. Otak
manusia itu jangan dibebani dengan hal-hal yang seperti itu. Biarlah
mereka itu digunakan ke aktivitas lain. Ibarat gelas kalau gelas itu
separo sudah diisi hapalan rumus maka daya analisisnya akan tinggal
separonya lagi. Lha kalau tetep dituangi air khan malah mbludak
(overload). Saya pikir menarik juga pemikiran ini.
Saya pikir sudah perlu direvisi deh metode pengajaran yang menuntut
peserta didik untuk menghafal.
Dalam level yang lebih rendah, pendidikan untuk elementary school
misalnya, juga menjauhkan diri dari hafalan. Yang dikembangkan justru
logika dan analisis. Contohnya, mosok anak saya yang masih grade two,
pelajaran matematikanya sudah soal cerita (walau pendek). hampir tiap
minggu ada school project dan show and tell. Itu lho cerita didepan kelas.
Lha di Indonesia, murid kelas loro apa sudah dlatih tampil didepan kelas.
Rak jarang toh? Yang banyak di Indonesia khan belajar menghafal.
Ini yang mesti diperbaiki.
Berat memang. Menghafal itu khan menyusahkan murid tapi menggampang tugas
guru. Lha kalau murid atau mahasiswa (dalam level yang lebih tinggi) harus
dikembangkan logikanya dan daya analisi, ini khan yang kesulitan gurunya
(dosennya). Makanya ya dibypass terus oleh sang pengajara. Tapi mari kita
coba bersama untuk memperbaikinya.
Tentu kita bisa.
Salam dari Kanada
IW
On Sat, 4 Dec 1999, bayu wrote:
> Pak Ibnu,
> dulu saya juga ngalami hal yg sama di FE, waktu itu saya pegang koordinasi
> dibidang komputer di KMA (kel. mhs. akt), lihat kondisi h/w komputer seperti
> ini utk training akuntansi berarti sofwarenya yg harus disesuaikan.
> Utk aplikasi Dac Easy Accounting sudah sampe v. 5, tapi karena komputernya
> masih lama & tanpa hardisk, akhirnya saya sesuaikan dengan DEA 3.0 yg bisa
> pakai disket - dengan acuan versi lama pasti lebih sulit dan kalo bisa ver.
> yg lama utk ke versi yg baru tdk akan mengalami kesulitan, untuk aplikasi DB
> Programming digunakan DB III+, dan untuk aplikasi ke Excel digunakan Lotus
> 123 - pada prinsipnya untuk mengakrabkan user ke komputer itu dan mengerti
> logika komputer dan penerapannya.
> Memang ketinggalan, tapi mau dikata apa, kita yg harus bisa cari jalan
> keluar, kalau mengeluhkan masalah h/w jaman dulu sama saja merindukan
> datangnya salju. Komputer Dell yg sempat datang waktu itu juga tdk
> dimanfaatkan max, saya lihat yah cuman dipakai untuk WS juga dan orang2 ttt
> saja. sekarang kata pak Riasto sudah utk pengembangan s/w, bagus kalo gitu,
> Ada kemajuan berarti.
>
>
>
> > -----Original Message-----
> > From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED]]On Behalf
> > Of Ibnu Widiyanto
> > Sent: Friday, December 03, 1999 12:39 AM
> > To: [EMAIL PROTECTED]
> > Subject: Re: [UNDIP] Masalah UNDIP - Brainware
> >
> >
> >
> > Saya ingin berbagi pengalaman nih:
> >
> > Ketika dulu saya diserahi ngurusi lab komputer FE (kira-kira setahun
> > lebih),waktu itu saya sempet ngelus dada sebab komputer yang dimiliki
> > sudah "kuno" (waktu itu sih belum seberapa kuno masih menggunakan versi
> > 286 an). Waktu itu saya mikir mbok kalau bisa disediakan versi 486 an
> > paling tidak 386. Tapi belum sampai ide itu dilontarkan saya sudah
> > diwanti-wanti nggak ada dana. Lha kalau sudah begini yo wis. Ketika itu
> > MS Word baru mulai rame digunakan. Saya sebenarnya ingin mengajarkan
> > mahasiswa beberapa aplikasi yang sedang in baik word processor maupun
> > ekonometrika programming. Paling tidak WORD dan TSP. Tapi niat itu
> > terpaksa saya urungkan melihat hardware yang seperti itu. Makanya yang
> > diajarkan akhirnya cuman Wordstar dan Microstat. Akhirnya juga saya minta
> > asisten saja yang mengajarkan karena mereka toh sudah mahir itu. Untuk
> > microstat saya brief asisten tentang cara menggunakan dan interpretasinya.
> >
> ______________________________________________________________
> >From Ibnu Widiyanto <[EMAIL PROTECTED]> to UNDIP List
> Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
> DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
>
> ______________________________________________________________
> >From "bayu" <[EMAIL PROTECTED]> to UNDIP List
> Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
> DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
>
______________________________________________________________
>From Ibnu Widiyanto <[EMAIL PROTECTED]> to UNDIP List
Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id