>From: "Aji Mustoko" <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>To: [EMAIL PROTECTED]
>Subject: Re: [UNDIP] soal milenium (reformasi total ?)
>Date: Mon, 06 Dec 1999 07:10:33 JAVT
>
>emh.....
>Inilah yang juga saya prihatinkan. Jangankan mahasiswa, dosenpun banyak
>yang
>tidak mampu berbahasa inggris dengan 'baik' dan mengoperasionalkan komputer
>dengan 'baik' pula. Jadi, kalau anda bilang mahasiswa UNDIP masih berfikir
>bahasa inggris dan komputer di awang-awang, memang begitulah. Bahkan saya
>sering menyaksikan (termasuk critanya P. Riasto itu) bahwa ada beberapa
>dosen kalau ada tamu asing untuk mendampingi atau menjadi moderator ndak
>berani.. habis bahasa inggrise 'cupet'. pol=pole, nanti dosen alumnus luar
>negerilah yang tampil. jadinya kalau dosen ini berhalangan hadir, maka
>runyamlah itu perdebatan. yang lucunya lagi (pengalaman saya ketika masih
>kuliah dulu), pernah ada seorang dosen yang rupanya 'over confident' dengan
>bahasa inggrisnya dan siap menjadi moderator. jadinya apa, selang surup.
>profesor 'landa'nya bilang A, dosen bilang B, mahasiswa yang bertanya
>bilang
>F. Walah... diskusinya jadi lucu, karena terjemahan moderator, ora gathuk
>blass............
>
>Cuma untungnya, ada rekan dari KSMI (Kelompok Studi Masalah Internasional
>--
>apa sekarang masih aktif organisasi ini ?) yang ikut kuliah tersebut dan
>akhirnya si dosen menyadari keterbatasannya, dan meminta si aktivis KSMI
>itu
>untuk membantu menjadi moderator. Akhirnya diskusipun berjalan lancar dan
>selang surupe hilang. Lebih untungnya lagi, si aktivis dari KSMI itu,
>memang
>kapabel dan bejo, nilai akhir untuk matakuliah itu A Plus, dan lulus dengan
>Cumlaude !
>
>Nah ..kalau begini, bagaimana tuh pengembangan SDM DOsen UNDIP ? Jangan
>bicara, mahasiswa dulu, kalau kualitas dosennya 'mepet' seperti itu. Bahkan
>dosen yang muda-muda di beberapa fakultas tidak berminat berkompetisi
>mencari beasiswa keluar. Mereka dengan berbagai 'alasannya' memiliki untuk
>belajar di DN. Kalau hanya di DN terus...kapan mau maju bahasa inggris dan
>pengalaman akademiknya ?
>
>lebih ngerinya lagi, pengembangan kemampuan dosen (khususnya oleh PR I, PR
>II dan PR IV), lambat dan pelit. Dosen-dosen yang sekolah ke LN, dengan
>biaya pas-pasan ndak pernah dibantu. kalau beasiswanya berlimpah (seperti
>di
>Australia atau Jepang) mungkin ndak masalah, tapi bagi yang di Inggris,
>atau
>Amerika ? Untuk makan saja sering tidak cukup !!!!
>
>akibatnya, adalah dosen-dosen tidak berani bereksperimen untuk sekolah ke
>LN, pilih saja DN yang dekat, biaya murah, bisa nyambi kerja, tidak
>rep[ot-repot belajar bahasa inggris dll.... ini juga produk dari
>'infertilitas' rektorat dalam men-encourage dosen untuk sekolah lagi,
>khususnya ke LN. pengalaman Dosen FT UNDIP, yang bunuh diri di Jepang
>(Hiroshima), beberapa minggu yang lalu, dalam pandangan saya merupakan
>salah
>satu bentuk 'apati' lembaga universitas (baca: rektorat dan dekanat) untuk
>memantau dan menencourage secara supportive terhadap mereka yang sedang
>belajar khususnya di negara-negara yang tingkat stressnya tinggi seperti
>Jepang itu. Ada dosen UNDIP, yang berangkat ke Jakarta untuk urus
>surat-surat, pinjam uang ke rektorat (pinjam !!) juga ndak dikasih. apalagi
>minta. padahal...untuk pengembangan UNDIP juga. aneh....
>
>ini terjadi pada zaman orde baru kemarin, saya ndak tahu kalau UNDIP (baca
>'pejabat'nya) sebagai salah satu penuntut reformasi, juga telah mereformasi
>dirinya untuk mengembangkan DOSENnya. Hipotesisnya adalah : Kalau DOSENnya
>tidak bermutu, adalah AJAIB kalau mahasiswa kapabel dan kompetitif. Berkah
>dari langit kali.....
Kalo anda berpikir seperti itu berarti mental dan pikiran anda masih seperti
anak ESDE aja ..., setahu saya mahasiswa itu tidak seharusnya tergantung 100
% pada dosennya. Dosen itu hanya memberi uger-uger atawa arahan ... tapi
final resultnya yo lebih tergantung dari si Mahasiswa sendiri ...
Banyak lulusan Undip yang lebih hebat dari dosennya ...at least itu yang
saya tahu dari FT (tempat saya dahulu) ...,
FYI : Apakah kalo dosen masuk 3 kali dalam semester yaitu
1. memberikan silabus ...
2. Kata pengantar ...
3. Tentamen ....
Itu berarti mahasiswanya juga NOL besar ...., weh sempit nian pikiran anda
itu ....., apa dikira si mahasiswanya cuma belajar dari silabus, kata
pengantar lalu tentamen dan ujian gitu ....
Kalo ada mahasiswa seperti itu berarti mental nya masih mental esde
...bisanya cuma NYUSU tok....dan harus didepak saja dari UNDIP ...
ngabis-abisin subsidi saja ....
Tapi setahu saya at least di Jurusan saya dulu (Elektro) mboten wonten yang
seperti sampeyan pikirkan itu ... bahkan banyak yang sekarang jauh lebih
hebat dari dosen kita dulu ....
>
>Intine, jangan bermimpi MAHASISWAnya kredibel, kapabel dan internationally
>competitive, kalau mutu DOSENnya masih seperti itu....
>
>Konsep pengembangan SDM UNDIP, nampaknya masih di "lathi" (mulut) belum di
>aksi... begitulah,......
>
>
>Salam,
>AM
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>______________________________________________________
>Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
>______________________________________________________________
>>From "Aji Mustoko" <[EMAIL PROTECTED]> to UNDIP List
>Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
>DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
______________________________________________________________
>From "Benny Murdianto" <[EMAIL PROTECTED]> to UNDIP List
Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id