SUATU MALAM DI LEMBAH VENUS

bagian I

Oleh: Eko W Raharjo               


Dengan ketangkasan seorang maestro, Pak Giman membanting becaknya 
memotong keramaian lalu lintas di Jl. Maju-Tak-Gentar dan masuk
kesuatu gang. Gang tsb nampak tidak berbeda dengan gang-gang lainnya
dijalan itu. Kecuali, di sudut mulutnya berdiri sebuah papan nama
kecil bertuliskan "Gg Yomodipati" (dewa kematian dalam mitologi 
pewayangan) dan sebuah patung Yen Wang yang biasa terdapat di
pekuburan Cina. Tidak lebih dari seratus meter dari mulut gang sudah
tidak terlihat lagi rumah manusia, melainkan hamparan batu nisan
disebelah kiri dan kanan jalan. Namun pak Giman tetap terus melaju
bersama becak kosongnya. Malam itu dia sedang menjemput salah seorang
langganan tetapnya

RT XXX, kelurahan Odiron, tujuan pak Giman, terletak pada tanah liar
bekas pekuburan Cina. Karena berada di suatu lembah sungai maka
rumah-rumah disana tak terlihat dari tanah datar diatasnya, yang
merupakan pekuburan umum yang masih digunakan. Lembah tsb dikenal
sebagai lembah Venus, sebab disana sungai Venus mengalir dengan
tenang dan elegan. Saat itu sang surya telah tenggelam diperaduannya,
meninggalkan warna jingga lembut diufuk barat. Seolah-olah menyesali
bahwa seharian telah berlaku garang terhadap warga lembah Venus dan
sore itu beliau berusaha memberi sedikit hiburan kepada mereka.

Seorang gadis kecil berumur 9 tahun, bernama Asri, yang pernah
menderita polio, berjalan tertatih-tatih melewati sebuah lengkong
menuju kerumah. Rambutnya kusut, roknya kumal, sekitar hidung dan
mulutnya cemong dengan ingus kering campur basah. Tetapi ekspresi
wajahnya, seperti biasanya, senantiasa ceria.

   "Ee cah ayu-ayu kok 'yah mene isih rebes koyo bedhes !" 
   (anak cantik sesore ini kok masih belum mandi seperti 
    anak munyuk)
    
Demikian sapa Rusdi kepada gadis kecil tsb. Seketika Asri balik
menjawab sambil memutar pantatnya kearah Rusdi,

   "Pak Rusdek elek, koyo mbelek !" 

Rusdi pura-pura mengejarnya dengan menderapkan kakinya ke tanah dan
menepukkan tangannya kepaha. Asri berusaha lari secepatnya tubuhnya 
sempoyongan, tetapi berhasil juga mencapai pintu belakang rumahnya
tanpa terjatuh. Begitulah tipe dari rata-rata warga lembah Venus
mulai dari anak-anak sampai orang tua ramah dan ceria, tetapi
sekali diprovokasi langsung balik menyerang.

Tidak berapa lama Seto, kakak Santi, yang berumur 11 tahun dengan muka
tak kalah cemongnya pulang menuju belakang  rumah. Anak ini agak
berkurang pendengaran akibat sakit congek yang telah lama dideritanya.
Tetapi keramahan dan kesantunan Seto tidak kalah dengan anak Yogya
manapun. Hanya, harap pikir dua kali kalau mau menyakiti anak ini.
Bisa-bisa kepalamu dilempar batu dari belakang atau barang yang paling
kamu sayangi dirusaknya. Dua anak itu dalam sekejab akan disulap oleh 
mbah Ti, nenek mereka, menjadi anak-anak yang cukup layak dipandang.

Didepan rumah ada kesibukan lain. Mbak Suminah, ibu dari Astri dan
Seto, dan mbak Sumirah, adiknya, sedang menyiapkan diri untuk
berangkat kerja. Profesi mereka berdua adalah penjaja seks. Tetapi
bukan penjaja seks biasa, melainkan yang berwawasan identitas. Oleh
karena itu mereka mengenakan kain dan kebaya, dan daerah pasarannya 
di Sosrowijayan, tempat dimana hotel dan losmen untuk turis tumbuh
berjamuran.  
 
Suminah berkulit kuning langsat dengan mata bak ndamar kanginan
dan beroman muka pasrah, submissive. Oleh karena itu kebaya yang    
dipilihnyapun berwarna pink, warna menyerah. Sebaliknya Sumirah yang   
berparas muka cerdik, kreatif, dan memiliki lesung pipit dipipi kiri,
lebih memilih mengenakan kebaya warna kuning, warna kemenangan.
Keduanya sudah satu jam lebih berdandan dibawah penerangan sinar
petromak. Sementara itu pak Giman dan becaknya menunggu dengan sabar
sambil menikmati rokok linthingan di halaman.

Boniem dan Tomblok juga mempunyai profesi yang sama, cuma mereka
tergolong pada jajaran eselon yang paling rendah, yakni kelas lesehan.
Pasaran mereka di lokasi pembuangan sampah di jalan Perwakilan, antara
jembatan Gondolayu dan jembatan Kota Baru. Oleh karena itu mereka tidak
membutuhkan persiapan yang complicated seperti mbak Min dan Mbak Mir.
Jam kerjanyapun agak lebih longgar. Boniem bahkan masih tenang-tenang
menyusui anaknya di bangku depan rumah. Sedangkan Tomblok kemungkinan
besar absen malam ini. Sebab dia sedang menderita masuk angin, badannya
'mriang' dan  kepalanya terasa berdenyut. Terlihat potongan salon pas
menempel di kedua pelipisnya, dan satu potongan besar di tengkuknya.
Walaupun demikian Tomblok masih berusaha ramah kepada siapa saja,     
hanya hari itu dia nampak lebih sering meludah.

Mbak Min dan mbak Mir berangkat dengan diiringi tawa keras berderai
dari mbah Ti yang sempat bercanda dengan pak Giman. Mendengar tawa
renyah mbah Ti, tidak bisa tidak orang akan teresonansi menjadi ikut
ceria. Sejak Soerip, suaminya, meninggal pada jaman revolusi dulu,
mbah Ti seorang diri menahkodai biduk rumah-tangganya. Tentu beliau
sudah sangat kenyang dengan penderitaan dan kesengsaraan hidup.
Garis-garis di wajahnya menunjukkan betapa gigih pergulatannya.
Garis-garis itu lebih tepat disebut garis kemenangan. Ya, mbah Ti
telah menjadi biang kehidupan yang mampu menundukkan penderitaan,
bahkan mempermainkannya. Semudah dia mempermainkan 'susur' 
yang menempel di mulutnya, kapan saja dia mau dengan mudah
bisa diludahkannya.

BERSAMBUNG


Catatan:
Penulis mohon maaf kalau nama-nama yang ada dalam cerita ini secara
tidak sengaja sama atau serupa dengan pembaca.

Wassalam,
Eko W Raharjo
______________________________________________________________
>From Eko W Raharjo <[EMAIL PROTECTED]> to UNDIP List
Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList               http://www.undip.ac.id

Kirim email ke