Pada suatu hari di suatu wilayah di mana apresiasi aritmatika masih
sangat minim di kalangan penduduk setempat, beberapa abad yang lalu, si Boim
yang baru berusia 7 tahun itu menemui Prof. Dr. Tergantung Gantung di
rumahnya. Ia menyatakan telah menemukan pernyataan baru tentang Matematika,
yaitu "2 + 2 = 4"
"Prof, apa betul 2 + 2 = 4?", ujar bocah tersebut polos sambil
menyerahkan kertas yang berisi pernyataan tersebut.
"Ya, tergantung", jawab sang profesor sambil mengkrenyitkan dahinya.
"Tergantung apanya, prof?"
"Ya tergantung dilihat dari bilangan dasarnya. Dua, tiga, lima, atau
berapa?"
"Okelah, tiga!", ujar Boim mulai kebingungan.
"Itu pun tergantung. Tiga dalam artian yang bagaimana? Soalnya kan ada
kata pertigaan, sepertiga, segitiga, bertiga, dan banyak lagi"
"Ya tiga itulah", Boim tidak bisa menjelaskan secara gamblang.
"Eh, kamu harus jelaskan dulu dong, supaya persepsi kita sama. Memang
demikianlah menurut kaidah Matematika yang sudah disepakati, yaitu
menyamakan dulu akan makna dari kata sebelum mengambil kesimpulan"
"Wah, repot juga ya membuat pernyataan ilmiah"
"Bukan saja repot, tetapi harus bisa dipertanggungjawabkan. Kalau
tidak, bisa-bisa kamu dicap orang yang gampangan. Malah kamu akan diserang
dari sana-sini"
"Ooooo ....", sahut Boim mengangguk-anggukan kepalanya, "Tetapi apakah
prof mau bantu saya, supaya tidak sampai begitu?"
"Sebenarnya sih mau", jawab si profesor sambil memperlihatkan eskpresi
penampilan yang berwibawa, "Tetapi saya sedang sibuk nih di kampus. Para
mahasiswa yang saya didik akan ujian. Belum lagi menilai hasilnya satu per
satu"
"Kalau begitu, kapan saya bisa ke mari lagi?"
"Belum bisa ditentukan nih. Maklum, pekerjaan adakalanya datang
mendadak", seru sang profesor sambil mengusap-usao punggung Boim, "Atau
begini saja, nanti saya akan menghubungi kamu".
"Kalau begitu, saya mohon pamit"
"Oke deh. Teruskan saja penelitian kamu itu. Asal dilakukan dengan
ulet, disiplin, dan yang tidak kalah pentingnya, mengikuti kaidah yang sudah
disepakati, yakinlah, usaha kamu akan berhasil".
Pulanglah Boim tanpa merasa kecewa sedikit pun. Namun di bawah alam
sadarnya sudah muncul ketakutan untuk melanjutkan penelitiannya. Mendengar
tata tertib yang berat itu membuatnya tidak bergairah lagi. Akhirnya pola
belajarnya pun bersifat mengikuti yang ditentukan di bangku sekolahnya.
Salam,
Nasrullah Idris
----------------------
P.O. Box 1380 - Bandung 40013
Bidang Studi : Reformasi Sains Matematika Teknologi
http://bdg.centrin.net.id/~acu
______________________________________________________________
>From "Nasrullah Idris" <[EMAIL PROTECTED]> to UNDIP List
Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id