Memang banyak pihak mengatakan bahwa modal <uang> berperan dalam
membangun sains/iptek di suatu negara.
     Tetapi saya sampai sekarang masih tetap percaya bahwa modal adalah
nomor berikutnya. Yang utama adalah menciptakan kondisi sedemikian rupa
sehingga riset betul-betul mengalami apresiasi secara nasional.
     Walaupun hasil karyanya  boleh saja kurang berbobot, tetapi dengan
munculnya apresiasi tersebut  sudah merupakan modal yang tidak ternilai bagi
usaha memberikan identitas nasional di mata dunia.
     Saya perkirakan, kalau pun nanti Indonesia memperoleh Hadiah Nobel,
maka peluang untuk bidang kesusasteraan akan lebih besar ketimbang bidang
sains <Fisika, Biologi, dan Kedokteran>. Ini dengan asumsi : apresiasi
kesusasteraan lebih merata ketimbang Fisika, Biologi, dan Kedokteran.
     Mengatakan "Modal sebagai motor pertama" hanya akan membuat bangsa
Indonesia menunggu. Artinya, mereka enggan melakukan riset tanpa ada modal.
     Bukankah adanya uang juga karena adanya riset? Bukan sebaliknya.
     Kalau nenek-moyang kita mampu melakukan riset tanpa melibatkan uang,
mengapa kita tidak?
     Untuk apa peralatan moderen yang dibeli dengan harga moderen, tetapi
cara berpikirnya lebih tradisional ketimbang nenek-moyang kita selaku
perintis yang kita anggap tradisional itu. Artinya, produk yang dihasilkan
tidak memberikan kontribusi yang signifikant terhadap upaya menambah
perbendaharaan kebudayaan. Kalau ini terjadi, apakah kekurangan modal mau
dijadikan alasan lagi?


Salam,

Nasrullah Idris
----------------------
P.O. Box 1380 - Bandung 40013
Bidang Studi : Reformasi Sains Matematika Teknologi
http://bdg.centrin.net.id/~acu





______________________________________________________________
>From "Nasrullah Idris" <[EMAIL PROTECTED]> to UNDIP List
Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList               http://www.undip.ac.id

Kirim email ke